
POLITIKAL.ID – Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menghadiri Pembukaan Musyawarah Cabang (Muscab) ke-1 Pengurus Cabang Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (PC APRI) Kota Samarinda yang digelar di Hotel Amaris, Jalan Dr. Sutomo, Kamis (18/12/2025) pagi.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.00 WITA itu menjadi momentum penting bagi para penghulu untuk melakukan evaluasi organisasi sekaligus merumuskan arah perjuangan ke depan.
Selain Wakil Wali Kota, acara tersebut juga dihadiri Plt Asisten I Pemerintah Kota Samarinda, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag), serta Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra). Kehadiran jajaran pemerintah ini menegaskan pentingnya peran strategis penghulu dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Dalam sambutannya, Saefuddin Zuhri menyinggung kompleksitas tugas penghulu yang kerap tidak terlihat oleh publik. Menurutnya, urusan pernikahan bukan sekadar soal administratif, tetapi menyangkut keabsahan hukum, ketertiban sosial, dan ketenangan batin masyarakat.
“Dalam pernikahan itu ada yang menikah dan dinikahkan, ada saksi, ada wali nikah, kadang wali itu diwakilkan, bahkan sampai ke penghulu. Semua harus jujur dan sesuai aturan,” ujarnya di hadapan peserta Muscab.
Ia menegaskan bahwa seluruh proses tersebut tidak bisa dijalankan secara serampangan. Ada aturan yang harus diikuti, termasuk dalam hal pernikahan kedua atau seterusnya yang wajib mendapatkan izin pengadilan.
“Kalau izinnya hanya sekadar surat saja, itu tidak boleh. Semua harus jelas, agar semua pihak merasa nyaman,” tegasnya.
Peran Strategis APRI
Saefuddin menilai, di era modern dan digital saat ini, tantangan yang dihadapi para penghulu semakin berat dan kompleks. Perubahan sosial yang cepat, perkembangan teknologi, serta dinamika kehidupan masyarakat menuntut penghulu untuk terus meningkatkan kompetensi dan profesionalisme.
“Menjadi penghulu hari ini bukan pekerjaan yang mudah. Tantangannya jauh lebih kompleks dibandingkan dulu. Karena itu, para penghulu harus terus berinovasi, belajar, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” katanya.
Dalam konteks itulah, Saefuddin menilai keberadaan organisasi APRI menjadi sangat penting. Menurutnya, APRI harus berperan aktif dalam melakukan pembinaan, pelatihan, dan koordinasi bagi para anggotanya. Upaya tersebut dinilai sebagai keharusan agar para penghulu dapat menjalankan fungsi dan perannya secara profesional.
“Kehadiran APRI ini penting sebagai wadah pembinaan. Pelatihan dan koordinasi harus terus dilakukan agar penghulu benar-benar siap menghadapi tantangan di lapangan,” ujarnya.
Namun demikian, Saefuddin juga mengakui bahwa masih terdapat berbagai keterbatasan yang dirasakan para penghulu, termasuk terkait dukungan fasilitas dan kesejahteraan. Ia menyebut, pemerintah daerah pun tidak menutup mata terhadap hal tersebut.
“Pemerintah Kota Samarinda tentu masih memiliki banyak kekurangan. Tapi perjuangan ini harus kita jalani bersama, step by step. Tanpa peran Bapak dan Ibu semua, kota ini pasti akan lebih banyak kekurangannya,” ucapnya.
Ia mengajak seluruh penghulu dan pengurus APRI untuk terus berjuang bersama hingga tahun-tahun mendatang demi kemajuan Kota Samarinda. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan organisasi profesi menjadi kunci dalam membangun kota yang lebih baik.
“Kita saling berjuang, kita berjuang bersama sampai perjuangan ini benar-benar membawa kemajuan bagi Kota Samarinda,” katanya.
Saefuddin menekankan bahwa Muscab I APRI Kota Samarinda harus dijadikan momentum evaluasi kinerja organisasi selama empat tahun terakhir. Melalui forum ini, diharapkan APRI mampu meluruskan kembali visi, misi, serta program kerja agar lebih terarah dan terukur sesuai dengan kemampuan organisasi.
“Musyawarah cabang ini harus melahirkan strategi ke depan yang jelas. Bukan hanya sekadar memilih pengurus, tetapi juga menentukan arah organisasi,” ujarnya.
Pesan Tiga Pilar
Ia juga berharap Muscab ini dapat melahirkan kepemimpinan baru yang lebih visioner, inovatif, dan memiliki komitmen tinggi untuk membawa kemajuan bagi organisasi serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kota Samarinda.
Dalam pesannya kepada seluruh peserta, khususnya para penghulu dan anggota APRI Kota Samarinda, Saefuddin menyampaikan tiga hal penting. Pertama, menjaga semangat kebersamaan, solidaritas, dan persatuan dalam organisasi. Kedua, terus meningkatkan kompetensi dan profesionalisme dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Ketiga, tidak berhenti melakukan inovasi dan adaptasi terhadap perubahan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai agama dan budaya lokal sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
“Beradaptasi boleh, berinovasi harus, tapi nilai-nilai agama dan budaya lokal tetap menjadi pegangan kita bersama,” pesan Saefuddin.
Di akhir sambutannya, Saefuddin juga menyinggung pentingnya memilih pimpinan organisasi yang mampu membawa APRI Kota Samarinda ke arah yang lebih maju. Ia berharap kepemimpinan yang terpilih nantinya benar-benar memahami persoalan penghulu dan mampu memperjuangkan kepentingan anggotanya.
“Yang terpilih nanti harus bisa membawa nama baik penghulu, membawa organisasi ini maju, dan tidak berjalan di tempat,” pungkasnya.
Muscab I APRI Kota Samarinda ini pun diharapkan menjadi tonggak awal penguatan peran penghulu di tengah masyarakat, sekaligus memperkokoh kontribusi mereka dalam mewujudkan Samarinda yang lebih baik, maju, dan berkembang.
(*)
