Internasional

Mengapa Ketangguhan Militer Iran Kini Menjadi Mimpi Buruk bagi Amerika Serikat?

POLITIKAL.ID – Eskalasi ketegangan di Asia Barat mencapai titik didih baru saat Washington dan Tel Aviv kembali merancang skenario serangan udara. Namun, ketangguhan militer Iran yang terbukti pada perang singkat Juni 2025 memaksa para jenderal Pentagon untuk menghitung ulang risiko secara ekstrem. Kegagalan intelijen Barat dalam memprediksi daya balas Teheran tahun lalu kini menjadi beban psikologis yang berat bagi pemerintahan Donald Trump.

Sejarah mencatat bahwa militer Iran bukan lagi kekuatan yang bisa musuh remehkan dengan retorika semata. Pengalaman perang dua belas hari pada musim panas 2025 telah mengubah total persepsi global mengenai peta kekuatan militer di kawasan tersebut. Iran muncul sebagai kekuatan dominan yang mampu menyerap serangan destruktif dan membalasnya dengan presisi yang mematikan ke titik-titik vital musuh.

Analisis Kegagalan Serangan Udara Juni 2025

Konflik yang pecah pada 13 Juni 2025 menjadi bukti nyata betapa berbahayanya meremehkan ketangguhan militer Iran. Saat itu, militer Israel melakukan provokasi berat dengan membunuh sejumlah ilmuwan nuklir dan perwira tinggi di jantung kota Teheran. Langkah ini segera mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat yang kemudian meluncurkan bom penghancur bunker ke fasilitas nuklir Natanz, Isfahan, dan Fordow.

Namun, militer AS dan Israel segera menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan strategis yang sangat fatal. Alih-alih menyerah atau mengalami kelumpuhan komando, angkatan bersenjata Iran justru menunjukkan fleksibilitas organisasi yang luar biasa di bawah tekanan. Mereka dengan sangat taktis mengatur ulang seluruh rantai komando hanya dalam hitungan jam setelah serangan pertama jatuh.

Pasukan Garda Revolusi (IRGC) kemudian meluncurkan gelombang serangan balasan yang menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone bunuh diri. Serangan ini berhasil menembus sistem pertahanan udara tercanggih milik Israel dan menghantam pangkalan militer Amerika di Qatar dengan tingkat akurasi yang mengejutkan. Kejadian ini membuktikan bahwa teknologi pertahanan Barat memiliki celah besar yang mampu Iran manfaatkan secara optimal.

Strategi Perang Asimetris dan Kota Rudal Bawah Tanah

Salah satu pilar utama yang menyokong ketangguhan militer Iran adalah doktrin perang asimetris yang mereka kembangkan selama puluhan tahun. Iran secara sadar menghindari pertempuran terbuka yang bersifat simetris melawan keunggulan teknologi udara Amerika Serikat. Sebaliknya, mereka membangun “Kota Rudal” yang terletak jauh di dalam perut Pegunungan Zagros untuk mengamankan aset strategis mereka.

Fasilitas bawah tanah ini terlindungi oleh lapisan beton dan batu alam yang sangat tebal, sehingga bom penghancur bunker milik AS tidak mampu menjangkaunya. Kondisi geografi yang ekstrem ini memungkinkan Iran untuk tetap mempertahankan kemampuan serang balik meskipun wilayah permukaan mereka mengalami pemboman hebat. Hal ini menciptakan situasi di mana musuh bisa menyerang, namun mereka tidak akan pernah bisa benar-benar melumpuhkan kemampuan balasan Iran.

Selain itu, kemandirian industri pertahanan menjadi kunci sukses Iran dalam menjaga stamina perang mereka. Selama bertahun-tahun hidup dalam kepungan sanksi, Teheran berhasil menciptakan ekosistem produksi senjata lokal yang tidak bergantung pada komponen luar negeri. Mereka mampu memproduksi ribuan rudal Fateh dan drone Shahed dengan biaya yang sangat murah namun memiliki efektivitas tempur yang sangat tinggi di medan laga.

Dampak Psikologis dan Resesi Dukungan Domestik AS

Pengamat internasional melihat bahwa ketangguhan militer Iran juga memberikan tekanan hebat pada kebijakan domestik di Washington. Masyarakat Amerika Serikat kini mulai menunjukkan kelelahan terhadap konflik bersenjata yang tidak berujung di Timur Tengah. Berdasarkan data terbaru, mayoritas warga Amerika secara tegas menolak keterlibatan militer lebih lanjut yang hanya akan menguras anggaran negara.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa sekitar 70% masyarakat AS menginginkan solusi diplomatik daripada harus menghadapi risiko perang terbuka dengan Iran. Sentimen publik ini menjadi ancaman serius bagi posisi politik Donald Trump, terutama menjelang pemilihan paruh waktu yang sangat menentukan. Para pemilih tidak ingin melihat tentara Amerika kembali terjebak dalam lubang hitam perang yang jauh lebih berbahaya daripada konflik di Irak atau Afghanistan.

Mantan diplomat MI6, Alastair Warren Crooke, memperingatkan bahwa serangan baru ke Iran merupakan sebuah langkah “bunuh diri politik”. Kegagalan Israel untuk memenangkan perang Juni 2025 secara telak menjadi pengingat pahit bahwa kemenangan cepat di Iran hanyalah sebuah ilusi. Jika Washington tetap memaksakan kehendak, mereka akan menghadapi kehancuran ekonomi akibat potensi penutupan Selat Hormuz oleh angkatan laut Iran.

Jaringan Poros Perlawanan dan Ancaman Regional

Pilar terakhir dari ketangguhan militer Iran terletak pada jaringan sekutu regional yang sangat luas, atau yang mereka sebut sebagai “Poros Perlawanan”. Iran memiliki kemampuan untuk menggerakkan milisi di Irak, Yaman, Suriah, hingga Lebanon secara bersamaan. Hal ini menciptakan ancaman multi-front yang akan memaksa Amerika dan Israel untuk memecah konsentrasi pertahanan mereka ke berbagai arah sekaligus.

Setiap rudal yang meluncur ke Teheran akan memicu reaksi berantai di seluruh penjuru Timur Tengah, yang bisa membakar pangkalan-pangkalan AS dalam waktu singkat. Penggunaan teknologi drone sebagai “Angkatan Udara Baru” juga memberikan Iran keunggulan biaya yang tidak tertandingi oleh jet tempur F-35 milik Barat. Strategi ini memungkinkan Iran untuk memenangkan perang urat syaraf sekaligus memenangkan pertempuran di lapangan melalui taktik kejutan.

Pada akhirnya, dunia kini menyaksikan perubahan paradigma militer di mana negara yang terisolasi mampu menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan. Ketangguhan militer Iran bukan lagi sekadar propaganda, melainkan kenyataan pahit yang harus musuh terima di meja perundingan. Tanpa perubahan pendekatan, Amerika Serikat dan Israel hanya akan terus terjebak dalam dilema antara memelihara gengsi militer atau menghadapi bencana total di Asia Barat.

(Redaksi)

Show More

Related Articles

Back to top button