Amerika Serikat Targetkan Ratusan Ribu Drone Tempur pada 2027

POLITIKAL.ID – Pola peperangan modern resmi memasuki babak baru. Departemen Perang Amerika Serikat mengumumkan kesiapan memproduksi ratusan ribu drone tempur murah dalam beberapa tahun ke depan, sebuah langkah strategis yang menandai perubahan fundamental dalam doktrin militer global.
Melalui Program Dominasi Drone, Pentagon berupaya mempercepat pengerahan drone serang satu arah berbiaya rendah dalam jumlah masif. Program ini bertujuan untuk menjawab realitas medan tempur modern yang kini semakin bergantung pada kecepatan, skala, dan presisi berbasis teknologi drone.
Program Dominasi Drone Masuk Fase Awal
Pentagon menyatakan Program Dominasi Drone saat ini telah memasuki Fase I. Sebanyak 25 perusahaan diundang untuk berkompetisi mengembangkan prototipe drone tempur murah, termasuk dua perusahaan asal Ukraina yang dinilai memiliki pengalaman lapangan signifikan.
Program ini menargetkan pembangunan sistem persenjataan drone dalam skala terbesar sepanjang sejarah militer Amerika Serikat.
Pemerintah Amerika Serikat juga menyiapkan kontrak prototipe awal senilai sekitar 150 juta dolar Amerika Serikat sebagai fondasi pengadaan.
Target Ratusan Ribu Drone pada 2027
Departemen Perang Amerika Serikat menargetkan pengerahan ratusan ribu drone bersenjata pada tahun 2027. Penjadwalan uji terbang mulai pada Februari mendatang sebagai tahap verifikasi teknologi dan kesiapan operasional.
Pentagon menilai produksi massal drone murah akan memberikan fleksibilitas tempur yang lebih besar daripada sistem persenjataan konvensional yang mahal dan memerlukan waktu pengembangan panjang.
Pentagon Pangkas Birokrasi Pengadaan Senjata
Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, menegaskan bahwa pendekatan baru ini bertujuan memangkas hambatan birokrasi yang selama ini memperlambat inovasi militer.
“Kami membeli apa yang berhasil—cepat, dalam skala besar, dan tanpa penundaan birokrasi,” ujar Hegseth dalam memo internal yang dikutip Departemen Perang Amerika Serikat.
Pernyataan ini menandai pergeseran signifikan dari model pengadaan senjata tradisional Pentagon yang selama ini mahal, kompleks, dan berorientasi jangka panjang.
Pentagon Belajar dari Perang Ukraina
Langkah ini mencerminkan upaya AS mengejar ketertinggalan drone, setelah perang Rusia–Ukraina membuktikan efektivitas drone murah berskala besar.
Perang di Ukraina menunjukkan bahwa drone komersial modifikasi mampu menghancurkan peralatan militer bernilai jutaan dolar dengan biaya yang jauh lebih rendah. Serangan presisi berbasis drone kini menjadi elemen kunci dalam pertempuran modern.
Para analis menilai konflik tersebut membuka kesenjangan antara doktrin militer konvensional Pentagon dan realitas medan tempur modern.
DPR AS Dorong Pembentukan Cabang Drone Khusus
Dorongan modernisasi militer Amerika Serikat juga menguat di ranah legislatif. Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mengusulkan pembentukan cabang drone khusus dalam angkatan darat.
Usulan ini tercantum dalam Rancangan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional Tahun Fiskal 2025 yang tengah Komite Angkatan Bersenjata DPR bahas.
Pembentukan cabang drone bertujuan memprofesionalkan operasi, menyelaraskan dengan disiplin militer lain, serta menjawab kompleksitas perang modern.
Drone Ubah Konsep “Kabut Perang”
Konflik modern juga mengubah konsep klasik “kabut perang” yang selama ini menggambarkan keterbatasan informasi di medan tempur.
Penggunaan drone pengintai murah secara masif membuat hampir seluruh wilayah pertempuran dapat dipantau secara real time. Keberadaan “mata di udara” yang terus-menerus membuat pergerakan pasukan dalam jumlah besar semakin sulit disembunyikan.
Pentagon menilai perubahan ini menuntut adaptasi cepat agar Amerika Serikat tetap memiliki keunggulan strategis dalam lanskap peperangan abad ke-21.
(Redaksi)
