Analisa

Kordinator REWAKO (Relawan Kolom Kosong) Makassar Menyesalkan Pernyataan Ketua DPD Golkar Kaltim, Lebih Baik Kolom Kosong Daripada Pemilu Dibajak Oligarki dan Dinasti Politik

POLITIKAL.ID, SAMARINDA – Pernyataan Ketua DPD Golkar Kaltim, Rudy Mas’ud disoal kordinator relawan kolom kosong (Rewako) Makassar, Sulsel, Anshar Manrulu.

Menurutnya, pendukung dan pemilih kotak kosong patut dipertanyakan kejiwaan, itu adalah penghinaan pada 300.795 rakyat Makassar yang sudah mendukung dan memenangkan kotak kosong di pilkada 2018 lalu

Pernyataan ketua DPD I Golkar Kaltim disalah satu media online yang meminta pendukung dan pemilih kotak kosong patut dipertanyakan kondisi kejiwaannya adalah bentuk stigmatisasi.

“Ini pilihan politik orang yang harusnya dihargai dan dihormati dalam sistem demokrasi. Pola seperti ini, lazim digunakan dimasa ORBA. Untuk memenangkan partai tertentu, cap dan stigma buruk diberikan pada rakyat yang punya pilihan berbeda,” ujar Anshar dalam rilis yang diterima media ini, Jumat (18/9/2020).

Anshar menjelaskan, dirinya terlibat secara langsung sebagai Kordinator Relawan Kotak Kosong (REWAKO) di pilkada Makassar 2018.

Pada akhirnya berhasil memenangkan kotak kosong. Temuan itu justru sebaliknya, pemilih kotak kosong di dominasi pemilih rasional yang termobilisasi karena kesadaran politik, bukan karena uang atau sembako.

Makanya dihampir semua kawasan pemukiman yang dihuni golongan menengah keatas disebutnya dimenangkan kotak kosong.

Apakah kondisi kejiwaan 300.795 rakyat Makassar yang sudah memilih dan memenangkan kotak kosong irasional ? Tentu tidak kata Anshar, mereka (masyarakat, red) rata-rata kelompok profesional yang justru memilih bukan karena afiliasi politik atau karena dijanjikan sesuatu.

“Mereka punya alasan rasional. Mereka ingin menyelamatkan demokrasi yang di bajak kekuatan oligarki dan dinasti,” tegasnya.

Pun pemilih kotak kosong juga tidak sebodoh yang dibayangkan, bahwa mereka berharap dipimpin kotak kosong. Mereka sangat memahami aturan, bahwa memilih kotak kosong berbeda dengan golput, konsekwensinya akan ada pemilihan ulang jika kotak kosong menang, yang berarti membuka kesempatan munculnya banyak pilihan.

“Ya, sehingga yang terjadi benar-benar pemilihan, bukan seolah-olah memilih tapi calonnya cuma satu,” pungkasnya. ( Redaksi Politikal – 001 )

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button