Analisa

Kotak Kosong Bukti Mahalnya Ongkos Politik dan Minimnya Kaderisasi Parpol

POLITIKAL.ID, SAMARINDA – Potensi kotak kosong dalam perhelatan pilkada bakal terjadi.

Melihat dinamika politik parpol dalam suksesi pilkada serentak 9 Desember 2020 mendatang, daerah di Kaltim yakni, Kukar dan Balikpapan, dukungan parpol tersentralisir kepada pasangan petahana yang kembali turun gelanggang.

Dikonfirmasi media ini, pengamat politik DB Paranoan mengatakan, menurutnya jelang pilkada lima tahunan, setiap parpol bareng tentu telah bersiap-siap ikut suksesi.

Dari kelihaian dan kepandaian parpol, terkait adanya potensi kotak kosong, menurutnya terkadang tidak mengindahkan etika demokrasi.

“Kalau demokrasi yang murni itu persaingan harus jelas, karena parpol itu punya kader – kader yang hebat. Oleh karena itu seharusnya parpol itu membangun demokrasi yang bagus,” ujar Paranoan, Rabu (9/9/2020) menjelaskan.

Namun sayangnya, parpol malah menurunkan demokrasi itu sendiri, saat parpol bermain, tidak mampu bersaing.
Seharusnya parpol mengkader orang – orang sehingga mampu bersaing terlebih di panggung pilkada.

Walaupun disebutnya parpol ini melihat kekuatan yang ada, namun dari pada mengusung, lebih baik baik mengusung kader parpol lain.

“Karena takut kalah, namanya parpol itu kan harus bersaing, itu baru demokrasi yang murni,” imbuhnya.

Fenomena kotak kosong Balikpapan dan Kukar ini lantaran banyak parpol lari ke kader parpol lain sehingga demokrasi tidak berjalan baik.

“Itu tanda bahwa parpol tidak bisa melakukan kaderasisasi dan regenarasi untuk bersaing lima sampai 10 tahun kedepan,” tambahnya.

Walau dengan mengelus dada, disebutnya inilah kondisi politik hari ini.

Selain itu kata guru besar Fisip Unmul itu, tanda-tanda lainnya karena ongkos untuk mendapat dukungan parpol cukup tinggi.

Sehingga menurutnya banyak orang-orang yang mampu namun terhalang minimnya modal dan enggan ikut serta.

Tak ada modal membeli perahu. Menurutnya yang maju itu orang politisi.

Politik saat ini masih sangat mahal. Karena alasan dana pembinaan, padahal ada anggaran pemerintah yang harusnya digunakan.

Mantan Dekan Fisip Unmul juga menerangkan, melihat kondisi tersebut, pembangunan kedepan semakin tidak membuat kesejahteraan masyarakat.

“Jadi uang juga masih jadi segala – galanya. Uang masih dibutuhkan,” ucapnya lagi.

Akademisi Unmul itu juga mengharapkan, semoga pemilu ke depan berjalan lancar.
Pun masih ada waktu untuk parpol berpindah dukungan dan mengusung calon lainnya agar tidak ada kotak kosong.

“Kalau sudah kotak kosong inikan tidak ada lawannya,” kelakarnya. ( Redaksi Politikal – 001 )

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button