Internasional

Analisis Satelit Buktikan Penetrasi Militer Israel di Wilayah Suriah Kian Mendalam

POLITIKAL.ID – Sebuah laporan investigasi terbaru berbasis citra satelit menunjukkan fakta mengejutkan mengenai penetrasi militer Israel di wilayah Suriah yang terjadi secara masif. Pasca tumbangnya rezim Presiden Bashar al-Assad pada Desember 2024, tentara Israel secara sistematis memperluas kendali mereka di sektor selatan. Unit Investigasi Digital Aljazeera pada Senin (2/2/2026) melaporkan bahwa pasukan Israel kini menguasai area seluas 235 kilometer persegi yang mencakup zona penyangga hingga masuk jauh ke wilayah kedaulatan Suriah.

Perubahan peta kekuatan ini menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah. Analisis data tersebut mencatat lebih dari 800 titik penetrasi yang menunjukkan keberanian militer Israel dalam melanggar batas-batas internasional. Bahkan, salah satu titik koordinat menunjukkan bahwa unit tempur Israel kini berada pada posisi yang hanya berjarak 20 kilometer dari ibu kota Damaskus. Kehadiran fisik ini menciptakan ancaman langsung terhadap stabilitas pemerintahan transisi di Suriah saat ini.

Pelanggaran Batas Gencatan Senjata dan Pembangunan Benteng Permanen

Pihak militer Israel secara terang-terangan melampaui garis “Alfa” yang secara legal membatasi wilayah pendudukan dengan zona penyangga. Mereka terus memacu kendaraan tempur dan personel hingga melewati garis “Bravo” yang berada jauh di sisi dalam teritorial Suriah. Tindakan agresif ini merupakan pelanggaran fatal terhadap kesepakatan gencatan senjata tahun 1974 yang seharusnya menjaga perdamaian di kawasan Dataran Tinggi Golan.

Foto-foto satelit resolusi tinggi memperlihatkan bahwa militer Israel tidak membangun infrastruktur ini dalam waktu satu malam. Mereka melakukan ekspansi secara bertahap seiring dengan melemahnya kontrol pusat di Suriah pasca-Assad. Para insinyur militer membangun benteng pertahanan permanen yang sangat luas, yang mengonfirmasi bahwa Israel bermaksud menetap dalam jangka waktu lama. Perubahan geografi militer ini melibatkan penggalian parit raksasa dan pembangunan pos-pos pengintai elektronik canggih.

Salah satu fokus utama penetrasi militer Israel di wilayah Suriah adalah penguasaan titik Jabal al-Sheikh di puncak Gunung Sheikh. Militer Israel memprioritaskan lokasi ini karena merupakan puncak tertinggi di seluruh kawasan tersebut. Dari posisi ini, tentara memiliki keunggulan strategis untuk memantau seluruh pergerakan di Lembah Sungai Yordan, Galilea, hingga pintu masuk timur menuju Damaskus. Penguasaan puncak gunung ini memberikan kendali visual dan intelijen yang tak tertandingi bagi sistem pertahanan Israel.

Strategi Kontrol Tanpa Pengumuman Resmi di Lapangan

Hingga tanggal 26 Januari 2026, total panjang benteng pertahanan yang militer Israel bangun telah mencapai lebih dari 32 kilometer. Sebagian besar struktur ini menusuk masuk ke dalam zona penyangga dengan kedalaman mencapai 1.200 meter di beberapa titik kritis. Hal ini menunjukkan peralihan strategi dari sekadar manuver lapangan menjadi penerapan struktur militer permanen yang bersifat defensif sekaligus ofensif.

Meskipun melakukan pergerakan masif, pemerintah Israel memilih untuk tidak memberikan pengumuman resmi mengenai kontrol wilayah tersebut. Para analis menyebut pola ini sebagai “kontrol tanpa pengumuman”, di mana Israel menciptakan fakta baru di lapangan tanpa harus menghadapi konsekuensi diplomatik instan akibat pencaplokan wilayah secara hukum. Peta hasil olahan tim investigasi yang menggunakan data ACLED memperkuat bukti adanya 800 titik invasi aktif.

Berikut adalah detail jangkauan penetrasi militer Israel yang paling signifikan:

  1. Pasukan menembus sedalam 63 kilometer ke dalam kawasan hutan Jubailiya di provinsi Daraa.

  2. Unit tempur maju sejauh 34 kilometer menuju kota Al-Kiswah, sehingga mereka hanya butuh waktu singkat untuk mencapai Damaskus.

  3. Titik penetrasi di jalur selatan mencapai jarak 22 kilometer dari pusat kota Suwayda yang strategis.

Kehadiran fisik yang begitu dalam ini memungkinkan militer Israel untuk mendikte keamanan regional. Mereka dapat melakukan operasi penyergapan atau pengintaian kapan saja sesuai dengan kebutuhan operasional mereka di lapangan tanpa hambatan berarti.

Pembersihan Lahan dan Penghancuran Vegetasi Demi Keamanan

Selain aspek konstruksi, militer Israel juga melakukan perubahan drastis terhadap ekosistem setempat untuk mendukung operasional mereka. Citra satelit menangkap aktivitas alat berat yang menghilangkan vegetasi lebat di sekeliling pangkalan militer dan sepanjang jalur utama, khususnya Jalan No. 7. Tentara menebang ribuan pohon dan menghancurkan lahan pertanian produktif yang sebelumnya menjadi sumber mata pencaharian warga Suriah sekaligus pelindung alami kawasan tersebut.

Penghapusan vegetasi ini memiliki tujuan militer yang sangat jelas. Dengan menciptakan ruang terbuka yang luas, militer Israel dapat memperluas bidang pandang pengawasan mereka. Area yang bersih dari pepohonan memberikan ruang tembak yang ideal dan mencegah pihak lawan melakukan pendekatan secara rahasia ke area pangkalan. Ini adalah taktik bumi hangus skala kecil untuk mengamankan perimeter militer dari potensi serangan gerilya.

Sebagai langkah penguatan, tentara juga membangun barikade tanah yang tinggi dan parit-parit jebakan di jalan-jalan menuju pangkalan. Langkah ini secara efektif membatasi akses warga sipil dan memperketat pengawasan terhadap siapa pun yang melintas. Semua tindakan ini membuktikan bahwa penetrasi militer Israel di wilayah Suriah merupakan bagian dari rencana besar untuk membentuk ulang kawasan selatan Suriah sebagai zona penyangga baru yang sepenuhnya berada di bawah kendali Israel.

Meskipun pada awal Januari terdapat kesepakatan mekanisme komunikasi antara Suriah dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat, realitas di lapangan tetap mencekam. Militer Israel terus menjalankan operasi aktif seperti pengeboman titik-titik tertentu, invasi darat terbatas, hingga penangkapan warga yang mereka anggap mencurigakan. Ketimpangan antara kesepakatan diplomatik dan aksi militer di lapangan ini menciptakan ketidakpastian yang sangat tinggi bagi masa depan kedaulatan Suriah.

(Redaksi)

Show More

Related Articles

Back to top button