Arah PolitikBerita TerkiniBerita Utama

Berebut Pucuk Beringin, Siapa Pengganti Rita?

POLITIKAL.ID, SAMARINDA – Muhammad Fathurrazi tampak sibuk keluar masuk ruangan di Kantor DPD Golkar Kaltim, Jalan Mulawarman, Samarinda, saat politikal.id menyambangi pekan lalu.

Ketua Panitia Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Kaltim itu, hendak menggelar rapat panitia dengan beberapa rekan lain di siang itu. Mereka mengejar target Maret 2020 Musda Golkar Kaltim harus terlaksana.

Panitia terbagi dua unsur Sterring Commite (SC) dan Panitia pelaksana Organizing Commite (OC). SC merupakan panitia pengarah dan OC sebagai pelaksana.

Bagi banyak pihak, acara Musda Golkar Kaltim adalah yang paling ditunggu-tunggu. Begitu juga dengan ribuan kader Golkar yang tersebar di 10 kabupaten dan kota.

Sebab di hari itu, akan muncul sosok pengganti Rita Widyasari. Mantan Bupati Kutai Kartanegara dan Ketua DPD Golkar Kaltim. Rita meninggalkan dua jabatan ini karena terlilit kasus korupsi tangkapan KPK.

Kursi Ketua DPD Golkar Kaltim akan sengit diperebutkan. Bagaimana tidak, partai berlambang beringin ini puluhan tahun menguasai perpolitikan Kaltim. Selalu jadi pemenang Pileg. Artinya, partai berlambang beringin ini punya posisi tawar kuat dalam sistem perpolitikan Kaltim.

Teranyar, pemilu 2019. Lagi-lagi Golkar memboyong kursi di Karang Paci. Sama dengan periode sebelumnya. Karena itu, kursi Ketua jadi jatah Golkar.

Tak hanya menguasai Karang Paci, lembaga legislatif di beberapa kabupaten kota juga dikuasai.

Bahkan, di ranah eksekutif pun, di beberapa kabupaten dan kota, Golkar memboyong. Sebut saja, Wali Kota Bontang, Wakil Wali Kota Balikpapan, di Kabupaten Paser dan beberapa daerah lainnya.

Karena itu, jabatan Ketua DPD Golkar Kaltim menjadi incaran, selain karena strategis pun nama besar Partai Golkar.

Politikal.Id merekam dinamika yang berkembang seputar musda beberapa pekan terakhir. Manuver wacana mulai bermunculan. Misalnya, sebagian sayap partai menginginkan pemilihan ketua sebaiknya aklamasi. Sedang, sebagian lain, mulai menjagokan figur internal maupun di luar internal.

Media ini menyaring tiga figur dari sekian banyak figur yang disebut-sebut masuk bursa calon ketua DPD Golkar Kaltim. Alasan kenapa kami memilih tiga tokoh ini, karena dalam beberapa pertimbangan, mereka dianggap lebih berpeluang.

Ketiga tokoh tersebut ialah Makmur HAPK (Ketua DPRD Kaltim), Isran Noor (Gubernur Kaltim) dan Rudi Mas’ud (Anggota DPR RI Fraksi Golkar).

Jika demikian formasinya dalam bursa calon, maka dua figur kuat yang paling dijagokan yakni Makmur dan Isran. Keduanya, adalah orang nomor satu dua lembaga negara tertinggi di Kaltim, eksekutif dan legislatif. Selain itu juga tokoh Kaltim.

Namun, kemunculan Rudi Mas’ud tak boleh dianggap sepele. Dia bisa menjadi kuda hitam dalam perebutan kursi ketua Golkar Kaltim. Istilah kuda hitam mengartikan kemenangan yang tak terduga.

Pasalnya, Rudi adalah pemilik suara terbanyak dari seluruh calon legislatif DPR RI Dapil Kaltim pada Pileg 2019 lalu. Dia melenggang mulus ke Senayan. Rudi juga disebut-sebut dekat dengan elit pengurus DPP Golkar. Selain itu, Rudi dianggap punya kemampuan finansial yang bagus.

Gendang musda mulai ditabuh. Sang penari berdendang mencari peluang terbaik. Siapa pengganti pucuk beringin Kaltim 2020?

Gajah Mada dan Karang Paci

Dari tiga figur ini, bahkan ada yang sudah terang-terangan menyatakan maju sebagai calon ketua. Mereka, Makmur dan Rudi Mas’ud, sedang Isran belum bersikap.

Makmur menyebut dirinya selalu siap jika mengemban amanat partai, dengan syarat mendapat dukungan dari kader di tingkat DPD II dan organisasi sayap pendiri.

“Silahkan saja DPD II memilih, saya sebagai kader siap – siap saja,” ujar Makmur saat ditemui di Kantor DPRD Kaltim, Jalan Teuku Umar, pekan lalu.

Makmur menyatakan kesiapan dirinya mengemban amanah partai sebagai bentuk kader loyal. Itu pula yang ia jalani selama puluhan tahun di Golkar.

Meski demikian, dirinya mengaku tak ambisius merebut jabatan tersebut.

“Boleh ambisi ingin menjadi Ketua, tapi jangan ambisius,” tegas mantan Bupati Berau ini.

Saat ini posisi makmur dalam jabatan struktural Golkar adalah Ketua harian. Jabatan tertinggi kedua internal Golkar Kaltim setelah Rita Widyasari sebelum ditangkap KPK.

Asal tahu saja, setelah Rita Widyasari ditangkap, dia tak lagi menahkodai Golkar Kaltim. Posisinya, digantikan Sofyan Hasdam sebagai Plt atas rekomendasi DPP.

Namun mantan Wali Kota Bontang juga tak lama jadi Plt karena memilih mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur (Cagub) Kaltim didampingi Alm Nusyirwan 2018 lalu.

DPP kemudian menunjuk Mukhtarudin sebagai Plt hingga saat ini. Salah satu tugas Muktarudin menghantarkan Golkar Kaltim pada Musda Maret mendatang.

Kembali ke Makmur. Meski siap maju, dia mengaku tak ada persiapan khusus seperti memobilisasi dukungan dari DPD kabupaten dan kota, meski pun, menurut Makmur dia punya kedekatan emosional yang baik.

“Tidak pernah membahas secara ekplisit terkait suksesi Ketua Golkar Kaltim sebagai agenda kerja,” kata dia.

Kegiatan partai yang sudah menjadi agenda kerja menurutnya lebih penting untuk dituntaskan. Mengingat, struktur partai yang sudah ada dan terbentuk dari DPD II sampai ke ranting lebih optimal lagi guna menghidupkan program dan kerja partai.

“Kita ingin Golkar ke depan komunikasi di dalam partai berjalan dengan baik hingga ke tingkat ranting,” pungkas dia.

Makmur Beri Ruang Isran

Makmur santai menanggapi Isran Noor yang diisukan turut masuk dalam kontestasi Musda Golkar Kaltim.

Makmur menyatakan semua orang bisa masuk dalam bursa bakal calon ketua Golkar Kaltim. Entah itu Gubernur maupun kader Golkar. Hal itu, menurut dia, bentuk kebebasan warga negara dalam berpolitik, berpendapat, berkumpul atau berorganisasi dijamin UUD 1945.

“Boleh-boleh saja, tidak bisa juga kita melarang,” seru Makmur.

Makmur menyatakan Golkar Kaltim selalu terbuka dengan siapa saja, termasuk dalam urusan musda. Karena itu, dia meminta agar tak perlu diribut-ributkan posisi tersebut.

“Ya, silahkan saja Gubernur kalau mau jadi Ketua Golkar Kaltim atau siapapun itu tak jadi masalah,” tutup Makmur.

Ditemui di lokasi terpisah, Isran mengaku kaget jika namanya disebut-sebut masuk bursa calon Ketua DPD Golkar Kaltim.

“Baru dengar namaku masuk bursa Ketua Golkar,” kata Isran di Kantor Gubernur Kaltim, pekan lalu.

Isran mengaku dirinya tak berniat menjadi Ketua DPD Golkar Kaltim. Dia memberi kesempatan kepada kader Golkar lain.

“Enggak minat aku jadi Ketua Golkar. Buat apa, kan ada kader Golkar lain yang lebih berhak, sama aja aku mengambil hak orang lain,” ucap Isran sambil meninggalkan awak media menuju mobilnya.

Rudi Mas’ud jadi Kuda Hitam?

Meski pendatang baru dalam dunia politik, Rudi Mas’ud patut diperhitungkan. Dia memiliki kemampuan memobilisasi dukungan yang bagus.

Itu terbukti pada Pileg 2019. Pengusaha asal Balikpapan ini meraup suara terbanyak dari semua caleg DPR RI.

Selain itu, Rudi Mas’ud juga memiliki kemampuan finansial yang mumpuni juga dikenal kedekatan dengan DPP Golkar juga jaringan ke beberapa DPP kabupaten dan kota.

Artinya, bukan tidak mudah, bagi Anggota DPR RI Dapil Kaltim ini bisa menjadi kuda hitam. Masih terbuka peluang bagi dirinya dalam kontestasi Musda Golkar Kaltim.

Sekalipun, dia harus berhadapan dengan tokoh senior lain seperti Makmur, Isran dan lainnya.

Rudi Mas’ud mengutarakan keinginannya maju calon ketua karena ingin menguatkan Golkar kembali lebih solid.

“Namun usaha itu perlu kepercayaan keluarga juga Golkar agar mendapat dukungan,” tegasnya saat dihubungi Politikal.Id, pekan lalu.

Rudi mengatakan dirinya belum melakukan konsolidasi apapun terkait wacana pencalonannya di musda Kaltim. Karena itu, peluang masih terbuka bagi semua orang baik kader Golkar maupun non kader.

Rudi membuka wacana baru soal diskresi Ketua Umum DPP Golkar kepada calon tertentu jika dinilai jadi kader terbaik Golkar.

“Jadi diskresi itu pengecualian, jadi yang bertarung dalam DPD I Golkar Kaltim itu adalah kader terbaik Golkar,” tutur Rudi.

Disinggung soal nama Isran Noor masuk bursa calon Ketua DPD Golkar, Rudi Mas’ud menegaskan Isran Noor bukan kader Golkar.

“Tapi saya tidak tahu kalau sudah jadi kader, tapi menurut saya bukan kader dari Golkar,” tutup dia.

10 Syarat Menjadi Calon Ketua Dpd Golkar Kaltim

Bagi siapapun yang ingin menjadi calon Ketua DPD Golkar Kaltim harus melewati beberapa syarat. Itu termaktub dalam AD/ART Partai Golkar dan tata tertib (tatib) panitia Musda Golkar Kaltim 2020.

Sekretaris DPD Golkar Kaltim, Abdul Kadir mengatakan syarat pokok, setiap calon harus memiliki dukungan 30 persen dari total 16 pemilik suara. Jika demikian, maka setiap calon harus memiliki dukungan minimal 5 suara.

Ada pun pemilik suara dalam musda Golkar mendatang. Diantaranya, DPP Partai Golkar (1 suara), DPD I Golkar Kaltim (1), 10 suara di masing-masing DPD II kabupaten/kota, 1 suara Organisasi pendiri secara kolektif (Kosgoro 1957, MKGR, dan Soksi), 1 suara Organisasi yang didirikan secara kolektif ( Al Hidayah, AMPI, Satkar Ulama, dan MDI), 1 suara Dewan Pertimbangan (Wantim) dan 1 suara sayap partai secara kolektif (AMPG dan KPPG).

Kemudian syarat lain, kata Kadir secara terus menerus menjadi anggota Partai Golkar minimal selama 5 tahun dan tidak pernah menjadi anggota partai lain.

Kemudian, aktif sebagai pengurus selama satu periode penuh di salah tingkatan DPD. Aktif sebagai kader minimal lima tahun. Berdomisili di Kaltim.

Kemudian, harus mengikuti pendidikan kader yang diselenggarakan oleh partai. Pendidikan minimal Strata satu (S1). Lalu, tidak pernah terlibat G-30S PKI. Calon memiliki hubungan suami istri atau sedarah, dalam satu garis lurus ke atas atau ke bawah, yang duduk sebagai lembaga perwakilan rakyat yang mewakili partai lain. Atau menjadi pengurus partai lain.

Dan terakhir, bersedia meluangkan waktu dan sanggup bekerja secara kolektif di Partai Golkar.

“Jika tidak memenuhi 10 syarat di atas, diskresi bisa saja didapatkan jika mendapat restu dari Ketua Umum DPP Golkar,” jelas Kadir, menjawab pertanyaan politikal.id terkait peluang adanya diskresi.

Diskresi sebelumnya pernah diberikan saat Musda DPD II Partai Golkar Balikpapan, belum lama ini.

Selanjutnya, kata dia, seleksi syarat administrasi dan lainnya menjadi tanggung jawab panitia saat membuka pendaftaran calon ketua.

“Iya, dalam waktu dekat kita akan buka penjaringan atau pendaftaran itu saat Musda nanti,” ujar Fathurrazi, Sekretaris SC Musda Golkar 2020.

Fathur begitu sapaannya, memastikan semua mekanisme akan berjalan dengan baik.

Karena, dirinya menyakini peserta Musda Golkar memiliki integritas dan profesionalisme dalam berorganisasi.

Semua peserta adalah kader Golkar yang sudah paham aturan. Masing- masing komponen sudah paham cara menjaga kondusifitas.

“Saya pikir saat ini kader Golkar cukup solid menjaga kemanan dan ketertiban, memang organisasi kami cukup dinamis, namun kami tetap memperhatikan situasi yang berkembang,” kata dia.

Untuk Kepanitiaan musda, Syahril Basran bertindak sebagai Ketua SC. Sedang, Syahrun atau H Alung sebagai Ketua OC. Keduanya, menurut Fathur akan sukses menghantarkan musda Golkar Kaltim berjalan tertib dan aman.

Makmur Lebih Berpeluang

Makmur dinilai figur paling berpeluang menjadi Ketua DPD Golkar Kaltim. Pengamat politik Unmul Lutfi Wahyudi mengatakan dalam perspektif organisasi, Makmur adalah kader loyal, berdedikasi, dan berprestasi.

“Bukan hanya sekedar wacana. Tapi dia sudah buktikan itu,” kata Lutfi.

Selain sukses di internal partai, Makmur juga terbilang sukses membawa nama Golkar menjadi Bupati Berau dan membawa banyak keberhasilan. Bahkan hingga dua periode.

“Kalau Makmur dihadapkan sama Pak Isran dan Rudi Mas’ud, yang paling berjasa buat Golkar adalah Makmur. Dia paling ideal,” kata Lutfi.

Loyalitas Makmur terhadap Golkar sudah dia buktikan dengan tak pernah berpindah ke partai manapun.

“Kalau dianalogikan afiliasi politik dari ketiga figur ini, mana yang punya darah lebih kuning, ya Makmur,” jelasnya.

Rekam jejak Makmur sebagai kader Golkar Kaltim berbeda jauh dengan Isran Noor dan Rudi Mas’ud.

Isran dalam karier politik sering pindah-pindah partai. Sementara, keberhasilannya memimpin partai pun belum teruji. Karena, dalam beberapa pengalaman Isran jadi ketua partai, tidak begitu moncreng.

Sama halnya dengan Rudi Mas’ud. Rudi belum menjadi kader Golkar seperti Makmur. Rudi belum memberi keberhasilan dalam mendorong pembangunan partai.

Karena itu, menurut dia, jika diminta memberi pendapat mana figur terbaik memimpin Golkar, Makmur adalah jawabannya. (Redaksi Politikal.id)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button