Internasional

AS Rencanakan Blokade Selat Hormuz, Setelah Negosiasi Dengan Iran Gagal Total

POLITIKAL.ID – Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana besar untuk melakukan Blokade Selat Hormuz. Langkah ini muncul setelah perundingan damai dengan Iran di Pakistan berakhir buntu. Keputusan tersebut menandai babak baru ketegangan pada jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.

Angkatan Laut Amerika Serikat kini menggerakkan armada militer. Mereka bersiap menutup akses bagi seluruh kapal yang memiliki kaitan dengan Iran. Washington mengambil langkah ini sebagai respons langsung terhadap kegagalan kesepakatan di Islamabad. Padahal, publik berharap perundingan itu mampu meredakan konflik bersenjata antara kedua negara.

Presiden Amerika Serikat menyampaikan pengumuman resmi melalui platform media sosial miliknya. Ia menegaskan bahwa kekuatan militer Washington akan memegang kendali penuh terhadap lalu lintas kapal.

“Berlaku segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses pemblokadean terhadap setiap dan seluruh kapal yang mencoba masuk, atau keluar, dari Selat Hormuz,” ujar Trump melalui platform Truth Social, melansir AFP, Minggu (12/4/2026).

Upaya AS Melumpuhkan Otoritas Iran di Jalur Global

Rencana melakukan Blokade Selat Hormuz ini bertujuan melumpuhkan otoritas Iran. Sebelumnya, Teheran menguasai wilayah tersebut selama enam minggu terakhir. Amerika Serikat menilai kendali Iran atas selat itu telah mengganggu stabilitas ekonomi global. Gangguan ini memicu kenaikan biaya pengiriman dan harga minyak dunia secara signifikan.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis pernyataan resmi pada hari ini. Mereka menyebutkan bahwa blokade akan berlaku secara adil bagi semua negara. Aturan ini menyasar kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran. Militer AS memulai operasi tersebut tepat pada pukul 14.00 GMT, Senin (13/4).

Pihak Washington juga berencana membersihkan wilayah perairan dari ranjau laut. Trump memperingatkan bahwa pasukan Amerika Serikat akan mengambil tindakan tegas. Mereka siap menghadapi setiap ancaman yang muncul dari pihak Teheran selama operasi berlangsung.

“Setiap orang Iran yang menembak ke arah kami, atau ke arah kapal-kapal damai, akan diledakkan sampai hancur!” tambah Presiden Amerika Serikat dalam pernyataan lanjutannya.

Respons Keras Iran Terhadap Ancaman Blokade

Pemerintah Iran merespons rencana Blokade Selat Hormuz dengan nada bicara yang tegas. Mereka mengklaim tetap memegang kendali penuh atas wilayah perairan tersebut. Teheran menyatakan bahwa angkatan bersenjata Garda Revolusi Iran mengawasi seluruh lalu lintas kapal.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan keterangan kepada media. Ia adalah sosok yang memimpin delegasi Iran dalam perundingan di Pakistan. Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya tidak akan mundur sedikit pun dari tekanan Amerika. Pihak Iran siap menghadapi segala bentuk tekanan militer maupun diplomatik.

“Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Biarkan mereka menguji tekad kami sekali lagi sehingga kami dapat memberikan mereka pelajaran yang lebih besar,” tegas Ghalibaf kepada wartawan, melansir Al Arabiya.

Kegagalan perundingan di Pakistan memicu aksi saling tuding antara kedua belah pihak. Iran sebelumnya sempat memberlakukan biaya transit dalam mata uang nasional. Mereka juga melarang kapal AS serta Israel melintas sebagai daya tawar politik saat digempur habis-habisan.

Dampak Ekonomi Akibat Ketegangan di Selat Hormuz

Rencana Amerika Serikat melaksanakan Blokade Selat Hormuz akan menekan pasar energi internasional. Sebelum konflik ini meletus, sekitar 20 juta barel minyak melintasi jalur ini setiap harinya. Jumlah ini memenuhi kebutuhan konsumsi energi penduduk di berbagai belahan dunia.

Saat ini, dua kapal perang Amerika Serikat telah melintasi selat tersebut. Kehadiran militer ini meningkatkan ketidakpastian pengiriman komoditas energi. AS menegaskan bahwa blokade mencakup semua pelabuhan Iran di wilayah Teluk Arab dan Teluk Oman. Langkah ini bertujuan mengisolasi ekonomi Teheran secara total.

Blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran mulai beroperasi penuh pada hari Senin waktu setempat. Militer Amerika Serikat meyakini bahwa langkah drastis ini menjadi solusi terakhir. Mereka ingin menghentikan keuntungan ekonomi Iran dari penguasaan jalur perairan strategis tersebut.

Ketegangan di lapangan terus meningkat hingga saat ini. Garda Revolusi Iran menyebut musuh akan terjebak dalam “pusaran mematikan” jika melakukan langkah yang salah. Kini, dunia memperhatikan konfrontasi langsung dua kekuatan militer besar ini di jalur pelayaran paling krusial di bumi.

(Redaksi)

Show More

Related Articles

Back to top button