Tonton Video Langsung Tanpa Membaca Berita
Internasional

China Kembangkan Drone Militer Berbasis AI, Tiru Perilaku Elang dan Merpati

POLITIKAL.ID – China terus memacu pengembangan teknologi militer berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Informasi terbaru mengabarkan Beijing mengembangkan sistem drone militer otonom yang meniru perilaku hewan saat bertempur, sebuah langkah yang memperkuat kekhawatiran global terhadap modernisasi kekuatan militer China.

Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa teknologi tersebut memungkinkan drone beroperasi secara mandiri, mengambil keputusan taktis, dan beradaptasi terhadap ancaman tanpa campur tangan manusia secara langsung.

Riset Oleh Kampus Afiliasi Militer China

Pengembangan sistem drone berbasis AI ini berkembang oleh tim insinyur dari Universitas Beihang di Beijing. Kampus tersebut terkenal memiliki hubungan erat dengan sektor pertahanan dan militer China.

Dalam risetnya, para peneliti merancang dua jenis perilaku drone yang meniru karakter hewan di alam. Drone defensif program menyerupai elang, sementara drone penyerang meniru perilaku merpati.

Drone berperilaku elang berjalan untuk menyerang target paling rentan secara cepat dan agresif. Sebaliknya, drone yang meniru merpati dbergerak adaptif, menghindari ancaman, dan bertahan hidup di bawah tekanan.

Simulasi Ungkap Efektivitas Kawanan Drone

Hasil simulasi menunjukkan efektivitas tinggi dari sistem tersebut. Dalam skenario pertempuran udara lima lawan lima, drone dengan algoritma “elang” mampu melumpuhkan seluruh drone “merpati” dalam waktu sekitar 5,3 detik.

Teknologi ini telah memperoleh paten pada April 2024. Peneliti menyebut inovasi tersebut sebagai bagian dari pengembangan sistem kawanan drone otonom atau swarm drones yang tengah China prioritaskan.

PLA Andalkan AI untuk Sistem Senjata Otonom

Tentara Pembebasan Rakyat China (People’s Liberation Army/PLA) menempatkan artificial intelligence sebagai komponen utama dalam pengoperasian senjata tanpa awak. AI dinilai mampu meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan sekaligus mengurangi ketergantungan pada operator manusia di medan tempur.

Sejumlah teoritikus militer China bahkan menyebut era AI sebagai revolusi baru dalam peperangan modern. Mereka menilai metode perang berbasis kawanan drone akan menjadi pola dominan di masa depan.

Kekhawatiran AS dan Pembatasan Teknologi AI

Selama bertahun-tahun, pemerintah Amerika Serikat menyuarakan kekhawatiran bahwa China akan memanfaatkan AI untuk memperkuat kekuatan militernya. Kekhawatiran itu menjadi dasar kebijakan pembatasan ekspor chip AI dan peralatan manufaktur semikonduktor canggih ke China.

Namun, sikap Washington belakangan mulai melunak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump  mengizinkan penerbitan lisensi ekspor chip H200 buatan Nvidia ke China. Chip tersebut merupakan prosesor AI tercanggih kedua Nvidia yang dirancang untuk pengolahan data berskala besar.

Industri Drone China Ungguli Amerika Serikat

Dalam konteks perang modern, penggunaan drone telah menjadi elemen krusial, seperti terlihat dalam konflik Ukraina. China dinilai memiliki keunggulan industri signifikan di sektor ini.

Negeri Tirai Bambu disebut mampu memproduksi lebih dari satu juta unit drone murah setiap tahun. Sebaliknya, Amerika Serikat hanya memproduksi puluhan ribu unit dengan biaya yang jauh lebih tinggi.

Keunggulan produksi massal ini memperkuat posisi China dalam mengembangkan strategi perang berbasis teknologi otonom dan kecerdasan buatan, yang berpotensi mengubah lanskap keamanan global dalam beberapa tahun ke depan.

China terus memacu pengembangan teknologi militer berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kemudian, laporan terbaru mengatakan n sistem drone militer otonom yang rancangannya meniru perilaku hewan saat bertempur, sebuah langkah yang memperkuat kekhawatiran global terhadap modernisasi kekuatan militer China.

Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa teknologi tersebut memungkinkan drone beroperasi secara mandiri, mengambil keputusan taktis, dan beradaptasi terhadap ancaman tanpa campur tangan manusia secara langsung.

Riset Oleh Kampus Afiliasi Militer China

Pengembangan sistem drone berbasis AI ini berjalan oleh tim insinyur dari Universitas Beihang di Beijing. Kampus tersebut memang terkenal memiliki hubungan erat dengan sektor pertahanan dan militer China.

Dalam risetnya, para peneliti merancang dua jenis perilaku drone yang meniru karakter hewan di alam. Drone defensif programnya menyerupai elang, sementara drone penyerang meniru perilaku merpati.

Drone berperilaku elang arahannya untuk menyerang target paling rentan secara cepat dan agresif. Sebaliknya, drone yang meniru merpati  bergerak adaptif, menghindari ancaman, dan bertahan hidup di bawah tekanan.

Simulasi Ungkap Efektivitas Kawanan Drone

Hasil simulasi menunjukkan efektivitas tinggi dari sistem tersebut. Dalam skenario pertempuran udara lima lawan lima, drone dengan algoritma “elang” mampu melumpuhkan seluruh drone “merpati” dalam waktu sekitar 5,3 detik.

Teknologi ini telah memperoleh paten pada April 2024. Peneliti menyebut inovasi tersebut sebagai bagian dari pengembangan sistem kawanan drone otonom atau swarm drones yang tengah China prioritaskan.

PLA Andalkan AI untuk Sistem Senjata Otonom

Tentara Pembebasan Rakyat China (People’s Liberation Army/PLA) menempatkan artificial intelligence sebagai komponen utama dalam pengoperasian senjata tanpa awak. AI dinilai mampu meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan sekaligus mengurangi ketergantungan pada operator manusia di medan tempur.

Sejumlah teoritikus militer China bahkan menyebut era AI sebagai revolusi baru dalam peperangan modern. Mereka menilai metode perang berbasis kawanan drone akan menjadi pola dominan di masa depan.

Kekhawatiran AS dan Pembatasan Teknologi AI

Selama bertahun-tahun, pemerintah Amerika Serikat menyuarakan kekhawatiran bahwa China akan memanfaatkan AI untuk memperkuat kekuatan militernya. Kekhawatiran itu menjadi dasar kebijakan pembatasan ekspor chip AI dan peralatan manufaktur semikonduktor canggih ke China.

Namun, sikap Washington belakangan mulai melunak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kabarnya mengizinkan penerbitan lisensi ekspor chip H200 buatan Nvidia ke China. Chip tersebut merupakan prosesor AI tercanggih kedua Nvidia yang rancangannya untuk pengolahan data berskala besar.

Industri Drone China Ungguli Amerika Serikat

Dalam konteks perang modern, penggunaan drone telah menjadi elemen krusial, seperti terlihat dalam konflik Ukraina. China memiliki keunggulan industri signifikan di sektor ini.

Negeri Tirai Bambu disebut mampu memproduksi lebih dari satu juta unit drone murah setiap tahun. Sebaliknya, Amerika Serikat hanya memproduksi puluhan ribu unit dengan biaya yang jauh lebih tinggi.

Keunggulan produksi massal ini memperkuat posisi China dalam mengembangkan strategi perang berbasis teknologi otonom dan kecerdasan buatan, yang berpotensi mengubah lanskap keamanan global dalam beberapa tahun ke depan.

(Redaksi)

Show More

Related Articles

Back to top button