Advertorial

Dispar Kutim Geser Fokus Ekonomi Kreatif, Dari Event Besar ke Pembinaan Berkelanjutan

POLITIKAL.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) terus berinovasi dalam mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (Ekraf) dengan strategi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Namun menghadapi tantangan anggaran, Dinas Pariwisata (Dispar) Kutim mulai menggeser fokus dari penyelenggaraan event besar menuju pembinaan subsektor Ekraf yang berakar pada budaya lokal.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Kutim, Akhmad Rifanie, menjelaskan bahwa meski sejumlah event terpaksa dipangkas, kegiatan pendampingan terhadap pelaku Ekraf tetap berjalan.

“Ekraf itu ada 17 subsektor, termasuk film, musik, kuliner, kriya, dan seni pertunjukan. Mereka berkarya, dan kami hadir sebagai pembina,” ujarnya.

Pemangkasan anggaran berdampak pada batalnya sekitar 15 event yang semula dijadwalkan, termasuk Festival Sangkulirang yang rutin digelar setiap dua sampai tiga tahun.

Meski begitu, Dispar Kutim menegaskan bahwa pemilihan event yang tersisa akan lebih selektif dan memiliki manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam menggerakkan ekonomi lokal.

Event tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang bagi UMKM kuliner untuk meningkatkan transaksi, penginapan untuk terisi, serta wisatawan untuk berkunjung.

Fokus baru Dispar Kutim adalah mengangkat budaya, adat, dan identitas lokal melalui setiap event yang terselenggara.

Langkah ini diharapkan menjaga keberlanjutan seluruh 17 subsektor Ekraf, sehingga pelaku ekonomi kreatif tetap bergerak meski dalam skala yang lebih terkendali.

“Kami ingin event tidak hanya jadi tontonan, tapi juga mengangkat 17 subsektor Ekraf. Meski perlahan, semuanya harus bergerak,” kata Rifanie.

Sebagai salah satu implementasi strategi ini, Pemkab Kutim menggelar Festival Pekan Ekonomi Kreatif 2025 selama tiga hari hingga Minggu, 30 November 2025, di Alun-alun Bukit Pelangi, Sangatta Utara.

Festival ini menjadi ruang promosi bagi pelaku Ekraf sekaligus momentum memperkuat kerja sama daerah dengan pemerintah pusat dalam pengembangan subsektor industri kreatif.

Festival tersebut menampilkan sebagian dari 17 subsektor Ekraf melalui stan expo, pertunjukan seni, dan ruang khusus bagi karya pemuda.

Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha, meningkatkan keterampilan, dan memperluas jejaring para pelaku kreatif Kutim.

Dengan strategi ini, Kutim menunjukkan bahwa efisiensi anggaran bukan penghambat, tetapi peluang untuk pengembangan Ekraf yang lebih berkualitas dan berkelanjutan, sekaligus menegaskan peran budaya lokal sebagai fondasi ekonomi kreatif daerah. (Adv)

Show More

Related Articles

Back to top button