Ekraf Masuk Prioritas Bupati, Langkah Baru Kutim Membangun Ekosistem Kreatif Berkelanjutan

POLITIKAL.ID – Kutai Timur (Kutim) memasuki babak baru dalam pengembangan ekonomi kreatif (ekraf).
Pemkab Kutim telah memutuskan untuk mengintegrasikan seluruh program ekraf ke dalam 50 program prioritas Bupati Kutim.
Langkah strategis ini menandai perubahan penting dalam tata kelola ekraf, dari program tahunan yang sering berubah-ubah menjadi agenda yang lebih terencana dan berkelanjutan.
Dengan integrasi ini, ekraf bukan lagi sekadar kegiatan temporer, tetapi menjadi bagian dari strategi pembangunan struktural yang lebih luas.
Mengatasi Tantangan Lama
Selama ini, pengembangan ekraf di Kutim sering menghadapi hambatan, mulai dari perubahan agenda tahunan hingga minimnya indikator kinerja yang jelas.
Hal ini membuat program kreatif kerap berhenti di tengah jalan.
Menurut Kabid Ekraf Dinas Pariwisata (Dispar) Kutim, Ahmad Rifanie, integrasi ke dalam program prioritas akan memberi dasar kelembagaan yang lebih stabil, sekaligus memudahkan evaluasi pencapaian program.
Dengan demikian, pengembangan ekraf dapat berlangsung secara berkelanjutan tanpa tergantung pada pergantian kegiatan setiap tahun.
Rantai Nilai Ekraf yang Terstruktur
Pemkab Kutim menekankan pentingnya membangun rantai nilai ekraf yang sistematis.
Beberapa prioritas pembangunan yang bersentuhan langsung dengan sektor kreatif mencakup penyelenggaraan event budaya seperti Lomplai, Festival Daya Kayang, dan Sekrat, pembinaan UMKM kreatif, mendukung pelaku usaha lokal untuk tumbuh dan berinovasi.
Kemudian peningkatan sarana wisata yang mendukung ekonomi kreatif berbasis pengalaman dan pelatihan lintas subsektor, untuk meningkatkan kapasitas SDM di berbagai bidang ekraf.
Kombinasi kebijakan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk membangun ekraf tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sumber ekonomi nyata yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat.
Event Budaya sebagai Mesin Ekonomi
Event budaya di Kutim tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga arena ekonomi mikro.
Pelaku kuliner, kriya, fesyen, hingga fotografi dapat memperoleh penghasilan langsung dari aktivitas tersebut.
Rifanie menekankan bahwa jika rantai nilai ini dipelihara dan dikembangkan dengan benar, ekraf bisa menjadi sektor yang menopang identitas budaya sekaligus memperluas perputaran ekonomi lokal.
Fondasi Ekosistem Kreatif Berkelanjutan
Dengan memasukkan ekraf ke dalam prioritas pembangunan, Kutim mulai membangun ekosistem kreatif yang matang dan berkelanjutan.
Kejelasan arah, dukungan anggaran, serta target yang wajib dicapai membuat sektor ini semakin kuat.
Pemerintah berharap, langkah ini akan mendorong ekraf menjadi pendorong inovasi, identitas budaya, dan pertumbuhan ekonomi yang merata di seluruh wilayah Kutim. (adv)

