Advertorial
Trending

Garda Depan Menuju Pertanian Mandiri, Pemkab Kutim Beberkan Peran Penting Penyuluh Lapangan

POLITIKAL.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) beri perhatian khusus terhadap pembangunan pertanian di Kutim.

Terkait hal itu, Pemkab Kutim melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) membeberkan pentingnya peran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang terbukti tidak sekadar mendampingi petani, tetapi juga mereka menjadi penggerak utama di balik arah kebijakan pertanian daerah.

Dengan jangkauan kerja hingga desa-desa terpencil, PPL memetakan kondisi lahan, memverifikasi calon petani, dan mengumpulkan data yang menjadi dasar pemerintah dalam menentukan lokasi program, sasaran bantuan, serta prioritas wilayah.

Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, menegaskan, bahwa PPL menjadi garda depan terhadap pembangunan pertanian di Kutim.

“Mereka (PPL) yang menjaring data dan memverifikasi calon petani serta calon lahan di lapangan. Data yang akurat dari PPL memungkinkan pemerintah tepat sasaran dalam menyalurkan program dan bantuan,” ujarnya.

Akurasi Data: Kunci Keputusan Strategis

Disampaikannya, peran PPL tidak berhenti pada teknis lapangan.

Mereka menjadi sumber data yang menentukan hampir semua kebijakan strategis sektor pangan di Kutim.

Setiap laporan yang dihimpun PPL menjadi pijakan pemerintah dalam menetapkan lokasi proyek pertanian, alokasi bantuan, hingga penentuan wilayah prioritas.

Ketelitian PPL di lapangan memastikan pemerintah memiliki gambaran kondisi nyata.

Dengan data yang kuat, DTPHP bisa merumuskan strategi pembangunan pertanian yang tepat, efisien, dan bermanfaat langsung bagi petani.

“Kalau data dari PPL kuat, kita bisa tepat menentukan lokasi dan bantuan. Karena mereka tahu kondisi sebenarnya,” ucapnya.

Pendamping Psikologis bagi Petani

Selain fungsi teknis, PPL juga hadir sebagai pendamping psikologis bagi petani.

Mereka menemani petani menghadapi berbagai tantangan, mulai dari cuaca yang tak menentu, serangan hama, hingga keterbatasan sarana dan alat pertanian.

Dengan arahan dan motivasi dari PPL, petani tidak hanya belajar teknik bercocok tanam, tetapi juga mendapatkan semangat untuk tetap produktif.

“PPL bukan hanya memberi arahan, tapi juga memotivasi. Di situlah nilai kemanusiaannya,” tambah Dyah.

Kehadiran mereka membuat petani merasa didampingi dan diperhatikan, terutama di wilayah terpencil yang sulit dijangkau.

Arsitek Awal Pembangunan Pangan Kutim

PPL sejatinya berada di titik paling krusial dalam rantai pembangunan pangan Kutim.

Tanpa fondasi data yang kuat dari lapangan, program pemerintah berisiko tidak tepat sasaran.

Laporan mereka menjadi dasar kebijakan, sementara langkah mereka di lapangan memicu pembangunan bergerak.

Dari mereka, lahir strategi pertanian yang berpihak pada petani dan kebutuhan daerah.

Target Peningkatan Luas Sawah

Sebelumnya, Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menargetkan membuka 20.000 hektar sawah hingga tahun 2030.

Saat ini, luas sawah eksisting mencapai 2.638 hektar.

Jika program tahun ini tuntas, Kutim akan menambah hampir 4.000 hektar sawah baru, membuka peluang bagi peningkatan produksi pangan lokal.

Dengan dukungan PPL yang handal, target ini bukan sekadar angka, tetapi langkah nyata untuk menjadikan Kutim sebagai lumbung pangan yang mandiri dan berkelanjutan.

Keberhasilan pembangunan pertanian daerah ini sangat bergantung pada dedikasi PPL yang bekerja di garis depan, memastikan setiap program tepat sasaran, bermanfaat, dan berkelanjutan. (adv)

Show More

Related Articles

Back to top button