
POLITIKAL.ID – Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, memimpin langsung rapat koordinasi bersama BPBD, BWS, BMKG hingga relawan kebencanaan, sekaligus memastikan kesiapan penanganan bencana berada di tahap akhir.
Rapat koordinasi lintas lintas instansi ini guna memastikan keamanan warga di tengah potensi curah hujan tinggi
Saefuddin menegaskan bahwa seluruh unsur pemerintah telah menyatukan persepsi dan langkah kerja agar pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 berjalan lancar.
“Semua kumpul untuk menyatukan persepsi dan aspirasi. Supaya kegiatan pengamanan ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Alhamdulillah koordinasi berjalan baik,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, berbagai skenario darurat dibahas, terutama yang berkaitan dengan cuaca dan potensi longsor maupun banjir.
OPD Harus Siap
Pemkot tidak ingin masyarakat kecolongan ketika intensitas hujan meningkat selama libur akhir tahun.
“Semua OPD yang berkaitan sudah siap dan tidak ada masalah. Kalau ada alat yang kurang sehat, ya disehatkan dulu. Itu masalah kecil. Kesiapan sudah 90 persen,” tegas Saefuddin.
Samarinda memiliki banyak titik rawan banjir, terutama kawasan perbukitan dan wilayah padat penduduk. Saefuddin memastikan BPBD telah mengidentifikasi seluruh titik rawan tersebut dan menyiapkan personel lapangan untuk pemantauan intensif.
“Yang paling penting adalah masyarakat di lokasi rawan harus mendapat informasi cepat jika terjadi cuaca ekstrem,” katanya.
Relawan, camat, dan lurah akan menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi cuaca maupun peringatan dini.
Terkait prediksi cuaca, BMKG menyampaikan bahwa tidak ada peringatan cuaca ekstrem menjelang Nataru. Namun Pemkot tetap memilih langkah antisipatif.
“BMKG memaparkan bahwa tidak ada cuaca ekstrem. Tapi kita tetap siapkan semuanya untuk berjaga-jaga,” lanjutnya.
Perayaan Nataru Harus Aman
Pemkot menargetkan perayaan Nataru berjalan aman dan tanpa insiden bencana, terutama banjir yang kerap menjadi masalah tahunan warga Samarinda.
Sementara itu, Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Samarinda, Syaparudin, menegaskan bahwa pihaknya telah bergerak cepat merespons potensi peningkatan curah hujan. Pengawasan drainase dan titik rawan banjir menjadi prioritas utama dalam 1–2 hari ke depan.
“Kami akan turun cek drainase di titik-titik krusial. Bersama Pak Wakil Wali Kota dan PUPR, kami ingin memastikan air bisa mengalir lancar ke alur sungai di dalam kota,” tegasnya.
Sejumlah Wilayah Jadi Perhatian Serius
Beberapa lokasi yang menjadi perhatian khusus mencakup Jalan Dr. Soetomo, Simpang Vorvo, Gunung Lingai, kawasan Ring Road, hingga Poros Sungai Kunjang. Permasalahan seperti sedimentasi, penyempitan alur, hingga potensi penyumbatan tengah diusut satu per satu.
TWAP juga mengerahkan seluruh unsur pemerintah untuk turun bersama: camat, lurah, BPBD, DLH, hingga Dinas PUPR. Setiap instansi memiliki peran masing-masing, mulai dari pemetaan titik rawan sampah hingga menyiapkan logistik tanggap darurat.
Syaparudin mengingatkan bahwa meski Samarinda dinilai aman dari risiko banjir kiriman seperti yang terjadi di Sumatera dan Aceh, kewaspadaan tetap harus diperkuat. Perubahan iklim global membuat fenomena hidrometeorologi semakin sulit diprediksi.
“Di beberapa daerah sedang terjadi musibah hidrometeorologi. Ini gerakan alam yang berdampak pada lingkungan. Kita tetap harus waspada,” ujarnya.
Strategi Jangka Panjang
TWAP juga mulai menyiapkan strategi jangka panjang berupa pembangunan forder di wilayah utara dan kawasan Loa Janan. Forder ini berfungsi mengendalikan limpasan air dari daerah perbukitan sebelum masuk ke pusat kota. Meski masih tahap komunikasi dengan pemerintah kabupaten, rencana tersebut menjadi bagian dari solusi struktural jangka panjang untuk mengendalikan banjir.
“Border ini penting supaya limpasan air dari wilayah utara tidak langsung mengalir deras ke pusat kota,” jelasnya.
Pemkot Samarinda kini berada dalam mode siaga penuh. Tidak hanya menunggu potensi banjir datang, tetapi bergerak lebih cepat melalui inspeksi lapangan, koordinasi lintas lembaga, hingga penyusunan skema darurat.
“Insya Allah Samarinda dan Kalimantan Timur aman. Tapi tetap harus siaga. Kami pantau terus,” tegas Syaparudin.
Saefuddin Zuhri memastikan bahwa persiapan Nataru dilakukan maksimal. Mulai dari keamanan warga, antisipasi bencana, hingga kesiapan alat dan personel di lapangan.
“Intinya, kita ingin libur akhir tahun ini aman dan nyaman bagi semua warga Samarinda,” tutupnya.
Gabungan langkah cepat TWAP dan koordinasi Pemkot melalui rapat Nataru ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadapi musim hujan dan mengurangi risiko bencana yang selama bertahun-tahun menjadi kekhawatiran warga Kota Tepian.
(*)





