Tonton Video Langsung Tanpa Membaca Berita
Internasional

Iran Tuduh Mossad Lakukan Sabotase di Tengah Gelombang Protes Nasional

POLITIKAL.ID – Pemerintah Iran melontarkan tuduhan serius terhadap badan intelijen Israel, Mossad, yang dugaannya terlibat dalam aksi sabotase fasilitas strategis di tengah gelombang protes nasional yang mengguncang negara tersebut sejak akhir Desember 2025.

Tuduhan itu muncul ketika Iran menghadapi krisis multidimensi yang mencakup tekanan ekonomi, instabilitas politik, serta ketegangan keamanan.

Pemicu gelombang protes yang awalnya adalah persoalan ekonomi kini berkembang menjadi gerakan nasional terbesar sejak Revolusi Islam 1979.

Aksi demonstrasi meluas ke Teheran, Isfahan, dan Mashhad, dengan tuntutan yang semula menyoroti stabilitas harga kini berubah menjadi kritik terbuka terhadap kebijakan ekonomi, politik, dan kepemimpinan pemerintah.

Krisis Ekonomi Jadi Pemicu Awal Gelombang Protes Iran

Tekanan ekonomi menjadi pemantik utama kemarahan publik. Nilai tukar rial terus melemah, inflasi melonjak tajam, dan harga kebutuhan pokok semakin sulit masyarakat jangkau.

Pemadaman listrik berkepanjangan di sejumlah wilayah semakin memperparah kondisi nasional, karena berdampak langsung terhadap industri, layanan publik, transportasi, hingga operasional rumah sakit.

Kelangkaan bahan bakar juga menjadi maslaah, sementara tingkat upah nilainya tidak lagi sebanding dengan biaya hidup.

Dalam situasi tersebut, gelombang protes awalnya muncul secara sporadis di kota-kota kecil, lalu dengan cepat menyebar secara masif ke pusat-pusat ekonomi dan politik utama Iran.

Pemerintah Iran Klaim Ada Operasi Destabilisasi Asing

Di tengah memburuknya situasi, pemerintah Iran mulai mengarahkan perhatian pada dugaan keterlibatan pihak asing. Otoritas Iran merilis sebuah video yang klaimnya memperlihatkan agen Mossad melakukan aksi sabotase terhadap fasilitas vital, termasuk instalasi minyak, jaringan listrik, dan sistem telekomunikasi.

Menurut narasi resmi pemerintah, gangguan infrastruktur yang terjadi tidak sepenuhnya oleh krisis domestik, melainkan merupakan bagian dari operasi destabilisasi yang terkoordinasi dari luar negeri.

Pemadaman Internet dan Respons Keamanan Ketat

Seiring meluasnya protes, aparat keamanan Iran menerapkan langkah-langkah pengendalian ketat. Laporan penangkapan terjadi di berbagai wilayah, sementara akses informasi terbatas secara signifikan. Salah satu kebijakan paling mencolok adalah pemadaman internet hampir total.

Lembaga pemantau internet internasional mencatat penurunan trafik lebih dari 90 persen pada puncak krisis, membuat Iran nyaris terputus dari dunia digital global. Langkah pemerintah ini sebagai upaya menjaga stabilitas keamanan, namun menuai kritik dari komunitas internasional.

Tuduhan Mossad Picu Perdebatan Internasional

Tuduhan sabotase yang diarahkan kepada Mossad langsung memicu perdebatan global. Sejumlah pengamat internasional menilai klaim tersebut perlu diverifikasi secara independen, mengingat bukti konkret yang dapat diuji publik belum disampaikan secara terbuka.

Namun, sebagian analis mengingatkan bahwa ketegangan antara Iran dan Israel telah lama berlangsung dalam bentuk “perang bayangan”, yang mencakup serangan siber, sabotase terbatas, dan operasi intelijen rahasia.

Israel Bungkam, Analis Masih Bersikap Hati-hati

Hingga kini, Israel tidak memberikan konfirmasi maupun bantahan resmi atas tuduhan sabotase tersebut.

Sejumlah analis menilai keterlibatan langsung Israel dalam gangguan infrastruktur Iran saat protes belum dapat dikonfirmasi secara terbuka.

Sikap Amerika Serikat Tambah Kompleksitas Situasi

Dinamika krisis Iran semakin kompleks dengan pernyataan terbuka Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam beberapa kesempatan, Trump menyampaikan dukungan moral terhadap para demonstran Iran serta mengecam dugaan kekerasan terhadap warga sipil.

Pernyataan ini memperkeruh hubungan geopolitik dan menguatkan persepsi Iran bahwa tekanan datang dari dalam negeri serta pihak luar.

(Redaksi)

Show More

Related Articles

Back to top button