Kebakaran Terra Drone Ungkap Celah Keamanan, Polisi Sorot Manajemen dan Prosedur Risiko Tinggi

POLITIKAL.ID – Kebakaran yang melumat Gedung Terra Drone Indonesia di Jakarta Pusat bukan hanya menyisakan jumlah korban jiwa yang besar, tetapi juga membuka pertanyaan publik mengenai standar keselamatan perusahaan teknologi yang mengelola perangkat berdaya tinggi.
Penyidik menemukan sejumlah indikasi kelalaian dalam pengawasan baterai drone, ruang kerja teknis, dan kebijakan mitigasi risiko. Sorotan tersebut semakin tajam setelah Kepolisian Jakarta Pusat menahan Direktur Utama Terra Drone Indonesia, MW, sebagai tersangka.
Masyarakat menilai tragedi itu sebagai peringatan keras mengenai pentingnya penanganan perangkat berenergi besar, terutama di perusahaan teknologi yang mengoperasikan baterai lithium dalam jumlah banyak. Keputusan penyidik menahan pucuk pimpinan perusahaan memperkuat dugaan bahwa celah keselamatan muncul bukan hanya dari aspek teknis, tetapi juga dari keputusan manajerial.
Polisi Tekankan Kelalaian Berlapis
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Saputra menjelaskan dasar hukum yang menjerat tersangka.
“Penyidik menerapkan Pasal 187, Pasal 188, dan Pasal 359 KUHP. Pasal-pasal ini sesuai akibat besar yang muncul dan kelalaian yang terlihat dalam pemeriksaan awal,” ujar Roby.
Roby mengungkap bahwa penyidik mempelajari dokumen operasional perusahaan, rekaman CCTV, serta keterangan para pegawai sebelum menetapkan tersangka.
“Kami menilai posisi Dirut memegang peran penting dalam pengawasan keselamatan. Pemeriksaan berikutnya menguji lagi sejauh mana perintah dan kebijakan internal berpengaruh terhadap kejadian itu,” ucapnya.
Roby menambahkan bahwa penyidikan tidak menutup peluang munculnya tersangka tambahan.
“Kami memanggil staf teknis, manajer operasional, dan beberapa pejabat lain dari perusahaan. Semua pihak yang terlibat pada proses penyimpanan baterai dan pengawasan perangkat mengikuti pemeriksaan,” kata Roby.
Perusahaan Tekno Berisiko Tinggi Butuh Standar Lebih Ketat
Kebakaran yang bersumber dari baterai lithium memunculkan diskusi luas mengenai minimnya pengawasan di industri teknologi. Banyak perusahaan teknologi mengelola perangkat dengan potensi bahaya besar, tetapi tidak semua menerapkan standar keselamatan setingkat laboratorium.
Penyidik melihat Terra Drone sebagai salah satu perusahaan yang menangani baterai drone dalam jumlah besar. Risiko panas berlebih, korsleting, hingga ledakan kecil dapat muncul saat perangkat tidak ditangani dengan protokol ketat. Kondisi tersebut mendorong penyidik menaruh perhatian pada tata letak ruang penyimpanan, ventilasi, dan kebijakan inspeksi rutin.
Perusahaan berbasis teknologi tidak cukup mengandalkan pengetahuan teknis semata, tetapi juga membutuhkan pengawasan keselamatan yang bisa mengantisipasi risiko dalam skala terbesar.
Sumber Api Mengarah pada Baterai Drone
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Susatyo Purnomo Condro menjelaskan temuan awal mengenai sumber api.
“Keterangan saksi mengarah pada baterai drone yang panas berlebih dan menyala. Tim Labfor mengumpulkan serpihan baterai, kabel yang meleleh, dan material lain untuk dianalisis,” kata Susatyo.
Susatyo menggarisbawahi bahwa tim Laboratorium Forensik Polri memeriksa material secara detail.
“Tim Labfor memeriksa komponen satu per satu agar penyebab teknis bisa kami pastikan,” ujarnya.
Pendekatan penyidikan yang menekankan ketelitian teknis. Tidak ada kesimpulan instan. Setiap temuan lapangan harus dicocokkan dengan keterangan para pegawai yang berada di lokasi sebelum api membesar.
Cepatnya api menjalar dari ruang penyimpanan baterai. Asap memenuhi ruangan dalam beberapa detik dan membuat puluhan orang di lantai satu terjebak sebelum sempat menemukan arah keluar.
Pemeriksaan Tersangka Masuk Tahap Pendalaman
MW hadir sejak pagi untuk menjalani pemeriksaan dan menjawab rangkaian pertanyaan yang berfokus pada kebijakan keselamatan serta pengawasan ruang teknis. Roby menjelaskan proses itu berjalan intensif.
“Tersangka menjawab seluruh pertanyaan. Kami menahan tersangka menjelang 1×24 jam setelah penetapan,” kata Roby.
Penyidik menilai tanggung jawab manajemen memiliki pengaruh besar terhadap kondisi ruang penyimpanan baterai. Kebijakan pengawasan, pengaturan sirkulasi ruangan, hingga frekuensi inspeksi menjadi bahan pemeriksaan.
Muncul dugaan bahwa perusahaan belum menerapkan standar keselamatan yang memadai meski bekerja dengan perangkat berenergi tinggi. Penyidik menyesuaikan pemeriksaan untuk menilai apakah keputusan manajemen mendukung kondisi kerja aman atau justru membuka celah.
Tim Forensik Serahkan Seluruh Jenazah
Rumah Sakit Polri Kramat Jati menuntaskan identifikasi korban sehari setelah kejadian. Kepala Instalasi Forensik RS Polri dr. Arga Prasetyo menjelaskan proses identifikasi berjalan cepat karena keluarga menyerahkan data antemortem sejak malam pertama.
“Kami menggunakan kecocokan sidik jari, rekam gigi, dan catatan medis untuk mempercepat proses. Kami ingin keluarga segera menerima jenazah,” ujar Arga.
Beberapa keluarga menyampaikan harapan agar penyidik menuntaskan perkara tanpa kompromi. Mereka menilai kebakaran tersebut muncul dari rangkaian kecerobohan, bukan sekadar kesalahan teknis.
Ekspektasi Publik terhadap Perbaikan Sistem Keselamatan
Tragedi ini memicu tuntutan reformasi yang lebih besar di lingkungan perusahaan teknologi. Banyak pihak mengkritik cara perusahaan menangani perangkat berenergi besar tanpa standar keselamatan setingkat laboratorium.
Penyidik memanggil ahli kelistrikan bangunan dan pihak yang menangani pengadaan perangkat keselamatan untuk memastikan seluruh aspek teknis terperiksa. Setiap temuan bisa membuka fakta baru mengenai cepatnya api menyebar.
Keluarga korban menunggu perkembangan penyidikan berikutnya. Penahanan Direktur Utama menjadi langkah awal, tetapi publik berharap penyidikan mengurai seluruh tanggung jawab hingga ke titik paling mendasar.
Harapan Baru Agar Tragedi Tak Berulang
Kasus kebakaran Terra Drone menjadi titik penting dalam diskusi keselamatan industri teknologi. Masyarakat menginginkan perusahaan menerapkan standar keselamatan lebih ketat demi menghindari kejadian serupa.
Penyidik terus memverifikasi keterangan, memeriksa lokasi, dan menelusuri alur kerja perusahaan. Proses hukum tersebut menjadi harapan publik untuk memastikan tragedi serupa tidak terulang, sekaligus memberikan keadilan bagi 22 korban yang kehilangan nyawa.
(Redaksi)
