
POLITIKAL.ID – Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman menegaskan pentingnya peran keluarga dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Ia menyoroti fakta bahwa kasus kekerasan di Kutim masih tinggi dan perlu mendapat perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat.
“Kekerasan tidak hanya terjadi pada perempuan, anak-anak juga menjadi korban, bahkan di dalam keluarga sendiri,” ungkapnya saat kegiatan Parenting Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Kutim beberapa waktu lalu.
Data dari Polres dan Pengadilan Kutim menunjukkan bahwa wilayah Sangatta Lama menjadi daerah dengan kasus kekerasan tertinggi.
Selain itu, angka perceraian, nikah siri, dan perselingkuhan di Kutim juga tergolong tinggi.
Menariknya, penyebab kekerasan tidak selalu terkait kesulitan ekonomi.
Ardiansyah menyebut bahwa kekerasan juga bisa terjadi di keluarga dengan ekonomi yang cukup baik.
Hal ini menunjukkan bahwa faktor psikologis, komunikasi, dan pola asuh memiliki peran penting dalam terciptanya keharmonisan rumah tangga.
Melihat kondisi tersebut, Ardiansyah menekankan perlunya pemahaman orang tua terhadap pola asuh yang tepat.
Ia mengapresiasi kegiatan parenting yang digelar oleh JSIT Kutim sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran orang tua.
Melalui kegiatan ini, orang tua belajar mengenali tanda-tanda kekerasan, memahami kebutuhan emosional anak, dan mengelola konflik rumah tangga dengan bijak.
“Kami ingin orang tua bisa menjadi pelindung utama bagi anak-anak mereka, sekaligus membimbing keluarga agar tetap harmonis,” tegas Ardiansyah.
Ia menambahkan bahwa kegiatan parenting sebaiknya tidak hanya melibatkan ibu rumah tangga, tetapi juga ayah, karena peran ayah dalam pengasuhan anak sangat vital.
Keterlibatan ayah dapat memperkuat komunikasi keluarga dan menurunkan risiko terjadinya kekerasan.
Kegiatan serupa akan kembali digelar pada tanggal 26 mendatang, dan kali ini Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi peserta wajib.
Ardiansyah berharap seluruh peserta dapat membuka wawasan baru tentang pola asuh, membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga, dan menerapkan strategi pencegahan kekerasan.
Dengan langkah ini, diharapkan Kutim dapat menjadi kabupaten yang lebih aman bagi perempuan dan anak.
Selain edukasi melalui parenting, Ardiansyah mendorong masyarakat untuk aktif melaporkan kasus kekerasan.
Ia menekankan pentingnya kerja sama antara keluarga, sekolah, dan aparat hukum.
“Kekerasan akan sulit diberantas jika masyarakat tetap diam. Mari kita bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak dan perempuan,” imbuhnya.
Kegiatan parenting ini bukan sekadar sosialisasi, melainkan gerakan nyata untuk membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan sadar akan hak serta keselamatan anggotanya.
Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dapat mencegah kekerasan, memperkuat hubungan keluarga, dan menanamkan nilai positif sejak dini kepada anak-anak.
Ardiansyah menutup pesannya dengan harapan besar, yakni kegiatan ini dapat membuka wawasan, menguatkan peran orang tua, dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan keluarga di Kutim.
Perlindungan perempuan dan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi kewajiban setiap anggota masyarakat.
Melalui kesadaran, pendidikan, dan keterlibatan aktif, Kutim dapat menjadi contoh kabupaten yang peduli, aman, dan harmonis bagi seluruh warganya. (adv)
