Ketika Pasangan AFI-UCE Dianggap Jadi Kuda Hitam Pilkada Kutim

SAMARINDA, POLITIKAL.ID – Pencoblosan Pilkada serentak 2020 tinggal menghitung hari. Tepatnya pada 9 Desember 2020 mendatang.
Pasangan Awang Ferdian Hidayat – Uce Prasetyo atau AFI – UCE, dalam Pilkada Kutai Timur (Kutim) dianggap sebagai kuda hitam.
Merujuk pada KBBI, kuda hitam artinya peserta pertandingan (perlombaan) yang semula tidak diperhitungkan akan menang tapi akhirnya menjadi pemenang.
“Ya kami anggap paslon ini sebagai kuda troya hitam. Sebab mesin partai dan tim bergerak masif di lapangan. Kita optimis menang,” ungkap Juru Bicara AFI-UCE, Bachmid Wijaya kepada media ini, Kamis (3/11/2020).
Pria yang akrab disapa Bams ini menuturkan peluang paslon ini sangat potensial. Sebab selama ini tim bekerja masif. Bahkan hampir 18 kecamatan yang ada di Kutim terorganisir dengan baik.
“Bahkan kader kader kami adalah kader militan. Kader-kader organik. Salah satunya saudara UCE sendiri sebagai kader militan PPP jadi bukan numpang partai,” tegasnya.
Kemudian, Awang Ferdian Hidayat merupakan putra Bapak Awang Faroek yang pernah memimpin Kutai Timur dua periode. Awang Faroek sendiri punya basis organik yang sulit digoyang siapapun.
“Bahkan program-programnya selama di Kutai Timur tak lagi di ragukan. Bahkan peletakan batu pertama pembangunan Kutai Timur adalah beliau,” tegasnya.
Prestasi ini diterjemahkan dalam Gerdabangagri jilid 2. Jilid 2 ini akan dibawa oleh paslon AFI-UCE dalam memimpin Kutai Timur kedepan. Gerdabangagri akan fokus kepada pertanian, nelayan, UMKM dan lainnya yang akan dimasifkan dalam pembangunan.
“Mereka (Awang Ferdian) juga keluarga yang paham akan pemerintahan. Pak Awang Faroek selalu membawa Awang Ferdian kampanye turun kebawah. Artinya pak Awang Ferdian sejak awal sudah diajarkan menjadi leader (pemimpin),” tegasnya.
Ditambah Awang Ferdian juga sudah periode duduk di legislatif di DPR RI dan DPD RI. Karenanya dia tentu paham akan persoalan yang dihadapi masyarakat Kutai Timur bahkan Kaltim sekalipun.
“Kampanye tetap masif. Silaturamih masif, tokoh masyarakat, tokoh adat, kami sudah satu visi dan semangat yang sama. Kami tidak kendor, kami terus bergerak sampai tuntas meraih kemenangan,” tutup dia. (Redaksi politikal 002).
