Advertorial

Pemkab Kutim dan Bank Indonesia Dorong Modernisasi Pertanian Lewat Teknologi Irigasi Cerdas

POLITIKAL.ID – Upaya meningkatkan produktivitas pertanian di Kutai Timur (Kutim) memasuki babak baru.

Melalui dukungan teknologi, petani kini dapat mengelola lahan dengan lebih presisi, efisien, dan modern.

Salah satu inovasi yang tengah menjadi perhatian adalah bantuan teknologi irigasi berbasis internet dari Bank Indonesia (BI) yang telah diujicobakan lebih dari satu tahun dan menunjukkan hasil yang sangat positif.

Teknologi tersebut diberikan kepada Kelompok Tani Karya Bersama di Desa Bumi Sejahtera, Kecamatan Kaliorang.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan BI, karena program ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan serta modernisasi sektor pertanian.

Kabid Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Wahyudi Noor, mengungkapkan bahwa perangkat irigasi berbasis Internet of Things (IoT) itu telah membawa perubahan signifikan dalam cara petani mengelola lahan hortikultura, khususnya komoditas bawang merah.

Disampaikannya, teknologi irigasi ini sudah berjalan lebih dari satu tahun dan hasilnya sangat positif.

“Alhamdullilah hasilnya sangat positif,” ujar Wahyudi, belum lama ini.

Dengan alat ini, petani dapat mengatur waktu penyiraman, memantau kebutuhan air, hingga mengetahui tingkat kelembapan tanah secara real time hanya melalui ponsel pintar.

Semua data penting terkait kondisi tanah, mulai dari tingkat kekeringan hingga estimasi kesuburan tersaji dalam aplikasi yang mudah dipahami.

Kemudahan ini membantu petani mengambil keputusan cepat dan tepat dalam pengelolaan lahan.

Jika sebelumnya mereka harus mengecek lahan secara manual, kini proses tersebut jauh lebih efisien, akurat, dan hemat tenaga.

Menurut Wahyudi, kolaborasi dengan BI ini bukan sekadar pemberian alat, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas komoditas hortikultura di Kutim, khususnya bawang merah yang menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi.

“Produksi bawang merah jadi lebih stabil dan efisien,” jelasnya.

Produktivitas yang meningkat dan lebih stabil tentu berdampak langsung pada terkendalinya harga di pasar.

Melalui pemanfaatan teknologi, petani dapat memperkirakan kebutuhan air dan pupuk secara lebih presisi sehingga hasil panen lebih konsisten sepanjang tahun.

Ini berarti rantai pasok menjadi lebih terjaga dan risiko fluktuasi harga dapat ditekan.

Pemkab Kutim menilai bahwa bantuan BI menjadi langkah maju menuju pertanian modern yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Teknologi irigasi berbasis IoT ini menjadi bukti bahwa integrasi digital tidak hanya identik dengan industri besar, melainkan bisa diterapkan pada sektor pertanian rakyat.

“Kami berterima kasih kepada BI karena dukungan ini membantu petani meningkatkan produktivitas,” ujar Wahyudi.

Lebih dari itu, teknologi ini menjadi model awal penerapan smart agriculture di Kutim.

Pemerintah daerah berharap langkah ini menginspirasi kelompok tani lain untuk mulai memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari kegiatan pertanian sehari-hari.

Wahyudi menegaskan bahwa kerja sama lintas lembaga seperti ini perlu diperluas.

Ia berharap semakin banyak petani dari berbagai kecamatan dapat menikmati manfaat digitalisasi pertanian.

Menurut Wahyudi, modernisasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan untuk menghadapi tantangan produksi, perubahan iklim, dan dinamika pasar.

“Kami ke depannya ingin ada lebih banyak alat serupa di berbagai kecamatan. ini menjadi langkah awal menuju pertanian modern yang adaptif dan berkelanjutan” pungkasnya. (adv)

Show More

Related Articles

Back to top button