Advertorial
Trending

Pemkab Kutim Gandeng ISI Yogyakarta, Petakan Potensi Ekraf untuk Akselerasi Pembangunan

POLITIKAL.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) resmi memulai proses penyusunan roadmap ekonomi kreatif (ekraf) sebagai upaya menata arah pembangunan sektor kreatif secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Langkah ini menandai komitmen serius Pemkab Kutim dalam mengoptimalkan potensi kreatif masyarakat serta memperkuat kontribusi ekraf terhadap ekonomi daerah.

Selama ini, sektor ekraf di Kutim tumbuh secara organik.

Banyak pelaku kreatif hadir dengan inisiatif sendiri, namun belum sepenuhnya terhubung dengan ekosistem yang kuat.

Karena itu, kehadiran roadmap menjadi fondasi penting agar pembangunan ekraf tidak lagi berjalan sporadis, tetapi berbasis data, kebutuhan, dan potensi riil di lapangan.

Kolaborasi Strategis dengan ISI Yogyakarta

Untuk memastikan penyusunan roadmap dilakukan secara komprehensif dan berbasis kajian akademis, Pemkab Kutim menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Kampus seni ternama ini dikenal berpengalaman dalam riset seni, budaya, dan pengembangan kreativitas masyarakat di tingkat nasional.

Kolaborasi ini memperkuat kualitas penyusunan dokumen, mulai dari metode pemetaan, analisis rantai nilai, hingga pendalaman karakter budaya lokal Kutim.

ISI Yogyakarta turun langsung ke lapangan melakukan survei, diskusi komunitas, serta identifikasi peluang ekonomi yang dapat dikembangkan masyarakat.

Kabid Pengembangan Ekraf Dinas Pariwisata (Dispar) Kutim, Ahmad Rifanie, menegaskan bahwa kerja sama ini sangat penting untuk memastikan penyusunan roadmap memiliki standar yang jelas.

“Bidang ekraf ini baru terbentuk dua tahun lalu. Tanpa pemetaan yang tepat, sulit menentukan mana yang harus diprioritaskan,” ujarnya.

Pemetaan 17 Subsektor, Lima Jadi Unggulan

Dalam proses penyusunan roadmap, tim melakukan pemetaan lengkap terhadap 17 subsektor ekonomi kreatif.

Dari hasil analisis sementara, terdapat lima subsektor yang dinilai paling siap berkembang karena memiliki pelaku aktif, kekayaan cerita lokal, serta peluang pasar yang menjanjikan. Kelimanya adalah:

1. Kuliner– Didukung kekayaan bahan lokal dan resep tradisional.

2. Fesyen – Potensi berkembang melalui budaya lokal dan kreativitas generasi muda.

3. Kriya – Banyak perajin lokal yang telah menghasilkan produk unik berbasis kearifan lokal.

4. Seni Pertunjukan – Memiliki tradisi seni budaya yang hidup di tengah masyarakat.

5. Film & Fotografi – Semakin diminati generasi muda dan membuka peluang promosi daerah.

“Kelima subsektor itu tidak hanya memiliki pelaku, tetapi juga cerita lokal yang bisa dikembangkan,” jelas Rifanie.

Manfaat Besar Roadmap Bagi Pembangunan Ekraf

Dengan hadirnya roadmap, pemerintah daerah akan lebih mudah menetapkan program prioritas yang tepat sasaran, seperti pelatihan, pendampingan usaha, penyusunan regulasi pendukung, hingga penyediaan fasilitas kreatif.

Dokumen ini juga memperkuat posisi Kutim saat melakukan koordinasi dengan kementerian atau mengajukan dukungan pendanaan ke pusat.

Rifanie menegaskan bahwa roadmap akan menjadi instrumen penting agar pembinaan ekraf ke depan tidak bersifat reaktif.

“Kami ingin pembangunan ekraf lebih rasional dan berbasis kebutuhan. Ini alat untuk memastikan energi pemerintah tidak tercecer,” ujarnya.

Menuju Kutim Sebagai Rumah Ekraf yang Tangguh

Penyusunan roadmap ekonomi kreatif ini menjadi tonggak awal bagi Kutim dalam membangun ekosistem kreatif yang kuat, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Dengan riset mendalam, pendampingan akademis, serta keterlibatan pelaku kreatif lokal, Kutim menargetkan terciptanya arah pembangunan ekraf yang mampu menjawab tantangan sekaligus membuka peluang baru bagi masyarakat.

Harapannya, dokumen ini selesai tepat waktu dan menjadi panduan utama kebijakan tahunan, sehingga Kutim dapat berdiri sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif yang maju di Kaltim. (Adv)

Show More

Related Articles

Back to top button