Serangan AS Venezuela: 100 Tewas, 37 WNI Dalam Kondisi Aman

POLITIKAL.ID – Serangan AS Venezuela menewaskan 100 orang dan melukai puluhan warga sipil lainnya dalam operasi militer yang menangkap Presiden Nicolas Maduro di Caracas. Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello mengumumkan angka korban jiwa tersebut pada Rabu waktu setempat.
Cabello menyampaikan data korban melalui siaran televisi pemerintah Venezuela. Operasi militer Amerika Serikat ini menggunakan kekuatan udara dan pasukan khusus untuk menangkap pemimpin Venezuela yang berkuasa sejak 2013 tersebut.
“Sejauh ini, serangan AS Venezuela menewaskan 100 orang dan jumlah yang sama mengalami luka-luka. Serangan terhadap negara kami sangat mengerikan dan brutal,” ujar Cabello dalam konferensi pers darurat, dikutip AFP, Kamis (8/1/2026).
Serangan AS Venezuela Guncang Stabilitas Amerika Latin
Operasi penangkapan Maduro memicu gelombang aksi protes di berbagai wilayah Venezuela. Ribuan pendukung Maduro turun ke jalan untuk menentang aksi militer Amerika Serikat yang mereka anggap melanggar kedaulatan negara.
Militer AS telah mengamankan sejumlah titik strategis di ibu kota Caracas setelah operasi penangkapan berlangsung. Pasukan khusus Amerika Serikat mendarat menggunakan helikopter tempur dan kendaraan lapis baja untuk memastikan jalur evakuasi Maduro ke pangkalan militer.
Saksi mata melaporkan bahwa pertempuran sengit terjadi antara pasukan elit Venezuela dan tentara AS di sekitar istana presiden Miraflores. Suara tembakan dan ledakan terdengar hingga radius lima kilometer dari lokasi operasi.
Pemerintah AS mendakwa Maduro atas tuduhan perdagangan narkoba internasional atau narkoterorisme. Departemen Kehakiman Amerika Serikat telah menerbitkan surat dakwaan terhadap mantan presiden Venezuela tersebut sejak beberapa tahun lalu.
Maduro kini berada dalam tahanan militer AS dan telah dipindahkan ke New York untuk menghadapi persidangan di Pengadilan Federal. Jaksa federal Amerika Serikat menjadwalkan sidang pertama dalam waktu dekat untuk membacakan dakwaan lengkap.
37 WNI di Venezuela Dipastikan Aman
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memberikan kabar terbaru mengenai kondisi Warga Negara Indonesia di Venezuela. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Caracas melaporkan bahwa seluruh WNI dalam keadaan selamat.
“Hingga saat ini, KBRI Caracas melaporkan bahwa 37 WNI kami di Venezuela berada dalam kondisi aman dan selamat. Kami menjalin komunikasi intensif dengan mereka untuk memantau perkembangan situasi,” ungkap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI dalam konferensi pers di Jakarta.
Berdasarkan data terbaru Kemlu, 37 WNI tersebut tersebar di beberapa kota besar Venezuela. Mayoritas WNI berdomisili di Caracas, sementara sisanya tinggal di kota-kota seperti Maracaibo, Valencia, dan Barquisimeto.
KBRI Caracas membuka saluran komunikasi darurat 24 jam bagi WNI yang membutuhkan bantuan. Tim konsuler bekerja penuh untuk memastikan keselamatan seluruh warga negara Indonesia di tengah eskalasi konflik.
“KBRI telah menyiapkan rencana kontinjensi komprehensif jika situasi keamanan semakin memburuk. Kami meminta WNI segera melaporkan diri melalui saluran hotline yang telah kami sediakan jika mengalami kendala atau merasa terancam,” tambah juru bicara Kemlu.
Pemerintah Indonesia menetapkan status siaga keamanan bagi seluruh WNI di Venezuela. Kemlu mengimbau WNI untuk tetap waspada, menghindari lokasi kerumunan massa, dan selalu membawa dokumen identitas diri seperti paspor atau kartu identitas.
KBRI juga menginstruksikan WNI untuk menyimpan persediaan makanan, air, dan obat-obatan untuk kebutuhan minimal dua minggu. Pihak kedutaan menyiapkan titik kumpul evakuasi darurat jika kondisi keamanan mendesak WNI untuk meninggalkan Venezuela.
Reaksi Internasional Terhadap Operasi Militer AS
Sejumlah negara mengecam keras tindakan militer Amerika Serikat di Venezuela. Rusia, China, dan Kuba menyebut operasi penangkapan Maduro sebagai pelanggaran hukum internasional dan kedaulatan negara.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa operasi militer AS merupakan intervensi ilegal terhadap negara berdaulat. Moskow mengancam akan membawa kasus ini ke Dewan Keamanan PBB untuk pembahasan lebih lanjut.
China melalui juru bicara Kementerian Luar Negerinya juga mengutuk aksi sepihak Amerika Serikat. Beijing mendesak Washington untuk menghormati prinsip non-intervensi dan menyelesaikan masalah melalui jalur diplomatik.
Loyalis Maduro di Venezuela menggelar demonstrasi besar-besaran menuntut pembebasan pemimpin mereka. Ribuan pendukung berkumpul di Plaza Bolivar Caracas dengan membawa poster dan spanduk yang menolak intervensi asing.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat membela operasi militernya sebagai upaya penegakan hukum internasional. Gedung Putih menyatakan bahwa penangkapan Maduro merupakan bagian dari perang melawan perdagangan narkoba dan terorisme.
Departemen Luar Negeri AS mengklaim memiliki bukti kuat tentang keterlibatan Maduro dalam jaringan kartel narkoba internasional. Washington berjanji akan mengungkap seluruh bukti dalam persidangan di pengadilan federal New York.
Situasi keamanan di Venezuela masih terus berkembang dengan cepat. Komunitas internasional memantau perkembangan kondisi di negara Amerika Latin tersebut dengan seksama untuk mengantisipasi dampak regional yang lebih luas.
(Redaksi)
