Seniman Global Ramai Ramai Tinggalkan Kennedy Center Usai Nama Trump Disematkan

POLITIKAL.ID – Polemik melanda John F. Kennedy Center for the Performing Arts setelah pengelola menyematkan nama Donald Trump pada kompleks gedung budaya nasional Amerika Serikat tersebut. Keputusan itu langsung memicu reaksi keras dari komunitas seni. Sejumlah musisi, penari, dan tokoh budaya membatalkan penampilan serta mundur dari jabatan penasihat sebagai bentuk protes terbuka.
Kennedy Center selama puluhan tahun berdiri sebagai simbol independensi seni. Lembaga ini juga dikenal menjauh dari kepentingan politik praktis. Namun, pencantuman nama Trump mengubah persepsi tersebut. Banyak seniman menilai langkah itu mencederai nilai netralitas dan kebebasan berekspresi.
Reaksi penolakan muncul hanya beberapa hari setelah kebijakan itu diketahui publik. Dalam waktu singkat, gelombang pembatalan agenda terus bertambah. Situasi ini menempatkan Kennedy Center dalam sorotan tajam, baik di dalam negeri maupun internasional.
The Cookers hingga Chuck Redd Batalkan Jadwal Penting
Grup jazz ternama The Cookers menjadi salah satu penampil pertama yang menarik diri. Mereka membatalkan konser malam Tahun Baru 2026 yang sebelumnya telah dijadwalkan. Keputusan itu diumumkan hanya beberapa hari sebelum tanggal pertunjukan.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip majalah Variety, The Cookers menyatakan tidak akan tampil di Kennedy Center sesuai rencana awal. Grup tersebut menegaskan keputusan itu lahir dari pertimbangan prinsip, bukan faktor teknis.
Sikap lebih tegas datang dari saksofonis Billy Harper. Ia menyampaikan pandangannya melalui akun media sosial pribadi. Harper menyebut tidak bersedia tampil di tempat yang arah manajemen dan simbolnya bertentangan dengan nilai yang ia perjuangkan sepanjang kariernya.
Selain The Cookers, musisi jazz Chuck Redd juga membatalkan konser malam Natal di lokasi yang sama. Ia memilih mundur meski agenda tersebut tergolong acara tahunan dengan penonton besar. Langkah itu memperkuat sinyal penolakan dari komunitas musik jazz.
Penolakan tidak berhenti di satu genre. Kelompok tari kontemporer Doug Varone and Dancers turut membatalkan penampilan mereka. Padahal, kelompok ini dijadwalkan tampil pada April mendatang. Manajemen grup menilai situasi di Kennedy Center tidak lagi sejalan dengan visi artistik mereka.
Figur Seni Ternama Lepas Jabatan Penasihat
Gelombang penolakan juga menyasar struktur internal Kennedy Center. Sejumlah tokoh seni ternama memilih mundur dari posisi penasihat. Mereka menilai keberadaan nama Trump membawa muatan politik yang sulit diabaikan.
Aktor dan kreator Issa Rae dilaporkan menarik diri dari agenda yang berkaitan dengan lembaga tersebut. Produser musikal Hamilton juga membatalkan rencana kerja sama. Padahal, musikal tersebut sebelumnya memiliki hubungan erat dengan Kennedy Center.
Musisi Ben Folds dan penyanyi opera Renée Fleming mengambil langkah serupa. Keduanya mundur dari jabatan penasihat yang selama ini mereka emban. Keputusan itu menandai sikap tegas dari figur yang berpengaruh di dunia seni Amerika Serikat.
Para seniman tersebut menyampaikan alasan serupa. Mereka menilai Trump merepresentasikan kebijakan yang tidak ramah terhadap imigran, kelompok minoritas, dan kebebasan berekspresi. Bagi mereka, simbol nama pada institusi seni memiliki makna ideologis yang kuat.
Mereka juga menegaskan bahwa keputusan mundur bukan soal bayaran atau popularitas. Para seniman itu memilih menjaga integritas dan konsistensi nilai. Sikap tersebut mereka anggap lebih penting daripada tampil di panggung prestisius.
Manajemen Nilai Boikot Terlalu Politis
Manajemen Kennedy Center menanggapi gelombang boikot dengan nada berbeda. Pihak pengelola menyebut aksi para seniman sebagai bentuk politisasi berlebihan terhadap lembaga seni. Mereka menilai nama gedung tidak memengaruhi kebebasan artistik.
Manajemen menegaskan Kennedy Center tetap membuka ruang bagi semua bentuk ekspresi seni. Mereka juga menyatakan tidak akan membatasi tema, pesan, atau latar belakang seniman yang tampil. Menurut pengelola, fokus utama lembaga tetap pada kualitas karya.
Namun, sejumlah pengamat seni melihat persoalan ini tidak sesederhana itu. Mereka menilai simbol dan identitas lembaga memiliki dampak besar terhadap persepsi publik. Nama yang melekat pada institusi seni nasional dianggap membawa pesan politik tersendiri.
Jika gelombang penolakan terus berlanjut, reputasi Kennedy Center terancam menurun. Lembaga tersebut berpotensi kehilangan daya tarik bagi seniman kelas dunia. Dampak lanjutan juga bisa menyentuh sponsor dan mitra internasional.
Hingga akhir Desember 2025, belum terlihat tanda-tanda meredanya polemik. Sebaliknya, daftar seniman yang menarik diri terus bertambah. Situasi ini menegaskan bahwa dunia seni tetap menempatkan nilai dan prinsip sebagai fondasi utama, bahkan ketika berhadapan dengan kekuasaan politik dan institusi besar.
(Redaksi)
