Serangan Israel ke Fasilitas Energi Teheran Picu Kemarahan Iran, Pasar Minyak Dunia Waspada

POLITIKAL.ID – Serangan udara Israel terhadap sejumlah fasilitas energi di sekitar ibu kota Iran memicu kemarahan keras dari Teheran dan meningkatkan kekhawatiran akan lonjakan harga minyak global. Pemerintah Iran bahkan memperingatkan bahwa konflik yang terus meningkat dapat mendorong harga minyak melampaui US$200 per barel.
Konflik antara Iran dan Israel kembali memanas setelah militer Israel menghantam beberapa instalasi energi di sekitar Teheran pada Minggu.
Laporan media internasional menyebutkan sedikitnya lima fasilitas energi menjadi sasaran serangan udara. Ledakan besar memicu bola api dan asap hitam pekat yang membumbung tinggi di langit ibu kota Iran.
Empat Pekerja Tewas dalam Serangan
Perusahaan distribusi minyak nasional Iran melaporkan empat pekerja tewas akibat serangan yang menghantam fasilitas penyimpanan bahan bakar. Selain korban jiwa, sejumlah instalasi energi dilaporkan mengalami kerusakan serius.
Suara ledakan juga terdengar hingga kota Karaj yang berada tidak jauh dari Teheran. Otoritas setempat langsung meningkatkan pengamanan di kawasan industri energi setelah insiden tersebut.
Serangan ini menjadi salah satu eskalasi terbaru dalam konflik terbuka antara Iran dan Israel yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
IRGC Peringatkan Dampak Global
Juru bicara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika serangan terhadap fasilitas energi terus terjadi.
“Jika Anda bisa menoleransi harga minyak lebih dari US$200 per barel (sekitar Rp3,1 juta per barel), lanjutkan permainan ini,” ujar juru bicara IRGC seperti dikutip media pemerintah Iran, Senin (9/3/2026).
Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran di pasar energi global. Iran diketahui menyumbang sekitar empat persen produksi minyak dunia dan menjadi salah satu eksportir penting bagi pasar Asia, terutama China.
Gangguan terhadap produksi atau distribusi minyak Iran berpotensi memicu gejolak harga energi internasional.
Amerika Serikat Tegaskan Tidak Terlibat
Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah Amerika Serikat berusaha menenangkan pasar energi global.
Menteri Energi AS, Chris Wright, menegaskan bahwa Washington tidak terlibat dalam serangan terhadap fasilitas minyak Iran.
“Serangan terhadap fasilitas minyak Iran dilakukan oleh Israel. Amerika Serikat tidak akan menargetkan infrastruktur energi Iran,” kata Wright dalam wawancara dengan CNN International.
Ia juga memperkirakan gangguan pasokan energi global kemungkinan hanya berlangsung sementara.
“Gangguan pasokan energi kemungkinan hanya akan berlangsung singkat, paling lama beberapa minggu,” ujarnya.
Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi
Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, Iran juga mengalami perubahan penting dalam kepemimpinan politik.
Majelis ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Iran mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.
Pernyataan resmi yang yang media pemerintah siarkan menyebut keputusan tersebut pengambilannya melalui pemungutan suara yang menentukan.
Penunjukan Mojtaba Khamenei menjadi peristiwa bersejarah karena untuk pertama kalinya sejak Iranian Revolution jabatan pemimpin tertinggi Iran berpindah langsung dari ayah kepada anak.
Namun perkembangan ini juga memicu reaksi keras dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia sebelumnya menyatakan bahwa hasil tersebut tidak dapat Trump terima dan memperingatkan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya “tidak akan bertahan lama” tanpa persetujuan Washington.
Ketegangan yang terus meningkat antara Iran dan Israel kini menjadi perhatian dunia karena berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas serta mengguncang stabilitas ekonomi global.

