Sikap Inkonsistensi Trump dalam Narasi Perang Amerika Israel Melawan Iran

POLITIKAL.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mengeluarkan pernyataan berubah-ubah terkait penutupan Selat Hormuz. Hal ini terjadi di tengah konflik militer dengan Iran yang kian memanas.
Sikap Inkonsistensi Trump ini terlihat jelas dari berbagai unggahannya di media sosial selama bulan Maret 2026.
Ketegangan bermula saat militer Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Sebagai balasan, pihak Iran memperketat jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi perdagangan energi dunia.
Trump Meminta Bantuan Pasukan NATO
Pada 14 Maret 2026, Trump mulai angkat bicara mengenai penutupan selat tersebut. Ia menilai aksi Iran tersebut berdampak buruk bagi banyak negara. Oleh karena itu, ia meminta bantuan militer dari negara-negara anggota NATO.
“Banyak negara akan mengirimkan kapal perang bersama Amerika Serikat. Kita harus menjaga agar selat tersebut tetap terbuka dan aman,” kata Trump pada 14 Maret lalu.
Ia menaruh harapan besar pada Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris. Trump ingin negara-negara tersebut mengirim kapal ke daerah konflik.
Menurutnya, bantuan mereka akan mengakhiri ancaman Iran yang telah melumpuhkan ekonomi.
Perubahan Mendadak Menjadi Anti-Bantuan
Namun, Sikap Inkonsistensi Trump muncul hanya dua hari setelah permintaan bantuan tersebut. Banyak negara sekutu ternyata menolak permintaan Trump untuk mengirim kapal perang.
Menanggapi penolakan itu, Trump justru mengaku tidak membutuhkan bantuan dari pihak mana pun.
“Kita tidak butuh bantuan. Perang itu sudah berlangsung lama menurut saya,” ujarnya pada 16 Maret.
Pernyataan ini berbanding terbalik dengan permintaannya sebelumnya kepada NATO.
Sikapnya semakin keras pada 20 Maret 2026. Melalui akun Truth Social, Trump menyindir NATO dengan kalimat tajam. Ia menyebut organisasi pertahanan tersebut hanya sebagai “macan kertas” tanpa kehadiran Amerika Serikat.
“Tanpa AS, NATO HANYA MACAN KERTAS! Para pengecut, dan kita akan mengingatnya!” tulis Trump dengan nada marah.
Ia merasa kecewa karena para sekutu mengeluhkan harga minyak tetapi tidak mau turun tangan.
Ancaman Terhadap Sekutu dan Strategi Energi
Sikap Inkonsistensi Trump kembali memicu polemik pada akhir Maret. Ia mengancam akan menghentikan dukungan bagi negara sekutu yang enggan membantu Amerika Serikat.
Trump merasa para sekutu seharusnya segera menolong karena AS telah melindungi mereka selama bertahun-tahun.
Pada 31 Maret, Trump memberikan saran unik kepada negara-negara yang kesulitan mendapat bahan bakar. Ia meminta mereka membeli minyak langsung dari Amerika Serikat. Selain itu, ia menantang mereka untuk berani mengambil sendiri minyak di Selat Hormuz.
“Nomor 1, belilah dari AS, kami punya banyak. Nomor 2, kumpulkan keberanian Anda. Pergilah ke Selat itu dan ambillah saja,” tutur Trump secara blak-blakan.
Janji Damai dan Ancaman Serangan Total
Pada hari yang sama, Trump sempat menjanjikan akhir dari peperangan. Ia memperkirakan konflik akan selesai dalam waktu dua minggu ke depan.
Ia yakin militer Amerika mampu menyelesaikan pekerjaan ini tanpa perlu kesepakatan formal dengan Iran.
Namun, kedamaian itu tampaknya hanya narasi sesaat. Pada 1 April 2026, Trump kembali menunjukkan watak aslinya dalam pidato di Gedung Putih. Ia justru merencanakan serangan militer yang jauh lebih besar ke wilayah Iran.
“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan,” tegas Trump.
Ia menyatakan niatnya untuk menghancurkan infrastruktur Iran secara total.
“Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu. Itulah tempat mereka seharusnya berada,” tambahnya.
Rangkaian pernyataan yang kontradiktif ini mempertegas adanya Sikap Inkonsistensi Trump dalam menghadapi krisis di Timur Tengah. Publik kini menanti langkah nyata Amerika Serikat selanjutnya di Selat Hormuz.
(Redaksi)


