Sindikat Markas Scam Kamboja Bangun Kantor Polisi Palsu demi Jerat Korban Dari Banyak Negara

POLITIKAL.ID – Pasukan militer Thailand mengungkap fakta mengerikan dari sebuah kompleks bangunan di wilayah O’Smach, perbatasan Kamboja-Thailand. Mereka menemukan bahwa markas scam Kamboja tersebut memiliki fasilitas kantor polisi palsu yang sangat meyakinkan untuk menipu warga dari berbagai negara. Penemuan ini mencuat setelah konflik bersenjata pecah di wilayah perbatasan utara tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Saat ini, pasukan Thailand menduduki kompleks berlantai enam tersebut pasca bentrokan hebat dengan pasukan Kamboja pada Desember 2025. Di dalam gedung yang kini terbengkalai itu, para tentara menemukan tumpukan dokumen, uang palsu, hingga peralatan elektronik yang tertinggal saat penghuninya melarikan diri.
Modus Operandi Canggih Markas Scam Kamboja
Direktur Unit Intelijen Tentara Thailand, Letnan Jenderal Teeranan Nandhakwang, memberikan pernyataan resmi mengenai temuan ini. Beliau menegaskan bahwa kelompok penipu ini bekerja dengan tingkat organisasi yang sangat tinggi. Mereka tidak sekadar melakukan panggilan telepon acak, melainkan memiliki infrastruktur pendukung yang sangat mapan dan sistem kerja profesional.
Para pelaku menggunakan alur kerja yang sangat teknis untuk memastikan setiap target masuk ke dalam jebakan mereka. Letnan Jenderal Teeranan menyebutkan bahwa para operator memiliki ribuan taktik serta teknik manipulasi psikologis yang mereka rancang secara matang. Hal ini membuat markas scam Kamboja ini menjadi salah satu pusat penipuan paling berbahaya yang pernah terdeteksi di kawasan Asia Tenggara.
Kompleks bangunan tersebut menyimpan banyak bukti kejahatan yang menunjukkan betapa masifnya skala operasi mereka. Di setiap lantai, militer menemukan peralatan server, komputer modern, dan tumpukan hard drive yang sudah kosong. Para pelaku diduga sempat menghapus data-data penting atau membawa perangkat keras utama sebelum militer Thailand mengambil alih kendali gedung.
Ruang Kedap Suara dan Set Polisi Palsu
Detail penemuan di dalam gedung memberikan gambaran yang lebih kelam mengenai cara kerja sindikat ini. Militer Thailand menyisir puluhan ruangan kecil yang memiliki lapisan busa peredam suara pada dinding-dinding kayunya. Ruangan-ruangan ini berfungsi sebagai studio mini tempat para operator melakukan panggilan video kepada para calon korban di seluruh dunia.
Kejutan terbesar muncul ketika petugas menemukan set tiruan yang menyerupai kantor polisi resmi dari tujuh negara berbeda. Negara-negara tersebut meliputi Indonesia, China, Australia, India, Vietnam, Singapura, dan Brasil. Set ini lengkap dengan meja layanan, spanduk lembaga penegak hukum, hingga seragam polisi yang sangat mirip dengan aslinya.
Selain kantor polisi, para pelaku juga membangun replika kantor cabang bank Vietnam di dalam gedung. Fasilitas ini memiliki ruang tunggu dan meja layanan yang tampak sangat profesional secara visual. Semua pengaturan panggung ini bertujuan untuk meyakinkan korban bahwa mereka sedang berbicara dengan otoritas resmi melalui panggilan video.
Ancaman Nyata bagi Warga Indonesia
Keberadaan seragam dan atribut kepolisian Indonesia di markas scam Kamboja ini menjadi peringatan merah bagi publik di tanah air. Para penipu biasanya menghubungi korban dan mengaku sebagai penyidik kepolisian. Mereka menggunakan latar belakang kantor polisi palsu tersebut untuk mengancam korban dengan tuduhan pencucian uang atau pelanggaran hukum lainnya.
Di bawah ancaman penangkapan, korban yang ketakutan akhirnya menuruti instruksi pelaku untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening tertentu. Skema manipulasi ini telah merampok dana masyarakat global hingga mencapai angka miliaran dolar Amerika Serikat. Penemuan naskah penipuan dalam bahasa Indonesia juga memperkuat bukti bahwa warga Indonesia merupakan salah satu target utama sindikat ini.
Para ahli keamanan siber menyatakan bahwa sindikat ini tidak hanya mencuri uang, tetapi juga melakukan praktik perbudakan manusia. Mereka merekrut pemuda dari berbagai negara dengan janji pekerjaan gaji tinggi di luar negeri. Namun, setibanya di sana, para pekerja tersebut kehilangan paspor dan dipaksa bekerja di bawah tekanan selama belasan jam sehari di dalam kompleks tersebut.
Dampak Konflik Perbatasan terhadap Industri Penipuan
Perebutan wilayah antara Thailand dan Kamboja secara tidak sengaja membongkar praktik ilegal yang selama ini tersembunyi. Militer Thailand mengeklaim bahwa pasukan Kamboja sebelumnya menggunakan gedung enam lantai ini sebagai pangkalan militer. Meskipun kedua negara kini berada dalam masa gencatan senjata sesuai kesepakatan Desember 2025, Thailand tetap menguasai wilayah strategis di O’Smach tersebut.
Keberadaan markas scam Kamboja di wilayah konflik menunjukkan betapa lihainya sindikat ini memanfaatkan celah hukum dan ketidakstabilan politik. Mereka membangun kerajaan kriminal di zona abu-abu yang sulit dijangkau oleh penegak hukum internasional. Penemuan ini mendorong kerja sama intelijen yang lebih erat antarnegara untuk memberantas jaringan penipuan lintas batas yang semakin terorganisir.
Kini, militer Thailand terus melakukan inventarisasi terhadap barang-barang bukti yang tersisa. Mereka berharap data dari dokumen yang tertinggal dapat membantu kepolisian internasional (Interpol) untuk melacak aliran dana dan menangkap otak di balik organisasi ini. Masyarakat diimbau untuk lebih skeptis terhadap panggilan telepon dari pihak mana pun yang meminta data pribadi atau transfer uang dengan alasan penegakan hukum.

