Single Baru Slank Viral, “Republik Fufufafa” Jadi Sorotan Publik

POLITIKAL.ID – Momentum ulang tahun ke-42 dimanfaatkan Slank untuk kembali bersuara. Band legendaris ini merilis single terbaru berjudul Republik Fufufafa pada Sabtu malam (27/12). Sejak awal peluncuran, lagu tersebut langsung menyedot perhatian publik dan memicu perbincangan luas di media sosial.
Melalui kanal YouTube resmi @musikslank, Slank memperkenalkan Republik Fufufafa kepada penggemar. Dalam waktu kurang dari 24 jam, video musik lagu itu mengumpulkan lebih dari 9,4 ribu tanda suka dan 2 ribu komentar. Angka tersebut terus meningkat hingga Minggu (28/12).
Respons cepat ini menunjukkan bahwa Slank masih memiliki basis pendengar yang kuat. Selain itu, publik menilai band tersebut tetap relevan di tengah dinamika industri musik nasional.
Peluncuran Lagu Bertepatan dengan Perayaan HUT ke-42
Pemilihan waktu rilis tidak dilakukan secara kebetulan. Slank sengaja meluncurkan Republik Fufufafa pada malam puncak perayaan ulang tahun ke-42. Dengan demikian, lagu ini menjadi penanda perjalanan panjang band tersebut.
Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim menulis lagu ini dan menjalani proses rekaman di Flat 5 Studio. Selanjutnya, Slank mengemas Republik Fufufafa dengan aransemen sederhana dan ritme tegas. Pendekatan ini memberi ruang lebih besar pada kekuatan lirik.
Secara naratif, lagu tersebut menggambarkan sebuah republik yang dilanda kekacauan. Slank menyoroti ironi kekuasaan, konflik kepentingan, serta kegelisahan sosial. Namun demikian, band ini tidak menyebutkan tokoh atau peristiwa tertentu.
Karena itu, publik bebas menafsirkan pesan lagu sesuai sudut pandang masing-masing. Pendekatan simbolik ini menjadi ciri khas Slank sejak awal karier mereka.
Respons Publik Menguat di Ruang Digital
Sementara itu, gaung Republik Fufufafa juga menguat di platform media sosial. Akun Instagram resmi @slankdotcom mengunggah potongan video musik lagu tersebut pada Minggu (28/12). Hingga pukul 19.42 WIB, unggahan itu meraih 22,3 ribu suka.
Di sisi lain, warganet juga meninggalkan 2.037 komentar dan membagikan ulang unggahan tersebut sebanyak 2.478 kali. Tingginya interaksi ini menandakan besarnya atensi publik terhadap karya terbaru Slank.
Sebagian besar komentar bernada positif. Banyak penggemar menilai Slank kembali ke identitas awal sebagai band yang kritis. Selain itu, sejumlah pendengar membandingkan Republik Fufufafa dengan lagu-lagu Slank di era reformasi.
Namun, ada pula warganet yang menilai lagu ini sebagai refleksi umum kondisi sosial. Perbedaan tafsir tersebut justru memperluas diskusi publik tentang makna lagu.
Fufufafa sebagai Simbol Kritik Sosial
Nama Fufufafa bukan istilah asing di ruang digital Indonesia. Sebelumnya, nama ini merujuk pada sebuah akun forum daring yang ramai diperbincangkan pada 2024. Akun tersebut dikenal aktif menyuarakan kritik terhadap isu politik dan kebijakan publik.
Hingga kini, identitas pengelola akun Fufufafa tidak pernah terungkap. Meski begitu, nama tersebut telah melekat sebagai simbol kritik di dunia maya. Oleh sebab itu, penggunaan nama ini dalam judul lagu memicu beragam tafsir.
Dalam Republik Fufufafa, Slank tidak mengaitkan nama tersebut dengan individu tertentu. Band ini juga tidak merilis penjelasan resmi terkait makna spesifik judul lagu. Sebaliknya, Slank memberi ruang bagi publik untuk menafsirkan pesan secara bebas.
Pendekatan ini sejalan dengan tradisi Slank yang kerap menggunakan metafora. Dengan cara tersebut, lagu ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai refleksi sosial.
Slank Jaga Konsistensi Musik Kritis
Selama lebih dari empat dekade, Slank konsisten menghadirkan karya yang sarat pesan sosial. Hingga kini, band ini telah merilis 25 album studio, 9 album kompilasi, dan 3 album internasional. Selain itu, Slank juga melahirkan 4 mini album, 3 album soundtrack, serta 21 single.
Dari sisi musikal, Slank mengeksplorasi beragam genre. Band ini memainkan pop, reggae, ballad, punk, jazz, funky, hingga musik etnik. Kendati demikian, kritik sosial tetap menjadi benang merah dalam setiap fase karya mereka.
Melalui Republik Fufufafa, Slank kembali menegaskan posisinya sebagai band yang bersuara. Di tengah industri musik yang terus berubah, Slank tetap memanfaatkan musik sebagai medium ekspresi dan kontrol sosial.
Pada akhirnya, rilis single ini menunjukkan bahwa Slank belum kehilangan relevansi. Band ini masih mampu menarik perhatian publik dan memantik diskusi lewat karya terbaru mereka.
(Redaksi)

