Internasional

Syarat Iran Encerkan Uranium Demi Pencabutan Sanksi Ekonomi Amerika Serikat

POLITIKAL.ID – Pemerintah Teheran akhirnya menetapkan syarat Iran encerkan uranium hasil pengayaan tingkat tinggi sebagai bagian dari tawaran diplomasi terbaru. Otoritas tertinggi Iran mengajukan proposal ini dengan tuntutan yang sangat tegas kepada pihak Barat, terutama Washington. Mereka meminta Amerika Serikat (AS) menghapus seluruh sanksi ekonomi yang telah melumpuhkan sektor keuangan negara tersebut selama bertahun-tahun.

Pernyataan strategis ini muncul setelah perwakilan kedua negara melanjutkan meja perundingan nuklir pada 6 Februari 2026. Pertemuan di Oman ini menjadi momentum krusial pasca eskalasi militer yang melibatkan Iran dan Israel pada pertengahan tahun lalu. Saat ini, komunitas internasional sedang menanti respons resmi dari Gedung Putih terkait langkah kompromi yang Teheran tawarkan melalui jalur diplomatik ini.

Kepastian Teknis Mengenai Syarat Iran Encerkan Uranium

Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menjelaskan secara rinci mengenai kesiapan teknis negaranya untuk menurunkan level kemurnian nuklir. Eslami menyebut bahwa syarat Iran encerkan uranium adalah adanya kepastian hukum mengenai penghapusan hambatan dagang. Kantor berita IRNA mengutip pernyataan Eslami pada Senin (9/2/2026) yang menekankan bahwa keberhasilan proses ini sepenuhnya bergantung pada kejujuran pemerintah Amerika Serikat.

Eslami memaparkan bahwa para ilmuwan nuklir Iran memiliki keahlian untuk mencampur kembali uranium yang sudah diperkaya dengan bahan material lain. Langkah ini secara otomatis akan menurunkan tingkat konsentrasi material nuklir tersebut ke level yang lebih rendah dan aman. Proses teknis ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa program nuklir mereka mematuhi standar keamanan internasional yang ketat. Namun, Eslami kembali menegaskan bahwa aksi nyata di lapangan hanya akan bermula saat sanksi ekonomi benar-benar hilang dari sistem perbankan Iran.

Hingga saat ini, IRNA News Agency belum memberikan perincian detail mengenai jenis sanksi spesifik yang masuk dalam daftar tuntutan. Belum ada informasi pasti apakah Iran menuntut penghapusan seluruh sanksi PBB atau hanya fokus pada sanksi sepihak yang Donald Trump berlakukan. Ketidakpastian rincian ini menjadi tantangan besar bagi para diplomat dalam merumuskan draf perjanjian yang saling menguntungkan di masa depan.

Melampaui Ambang Batas Pengayaan Nuklir Pasca Konflik

Sebelum terjadi insiden pengeboman fasilitas nuklir oleh pasukan gabungan pada Juni tahun lalu, Iran telah memacu kapasitas nuklirnya. Mereka meningkatkan level pengayaan uranium hingga menyentuh angka 60 persen, sebuah rekor yang mengkhawatirkan dunia. Angka ini melampaui batas aman 3,67 persen yang sebelumnya telah disepakati dalam perjanjian nuklir (JCPOA) tahun 2015 yang kini sudah tidak berlaku lagi.

Negara-negara Barat pimpinan Amerika Serikat terus memelihara kecurigaan besar terhadap aktivitas pengayaan massal di Teheran. Mereka menduga bahwa Iran sedang membangun infrastruktur untuk memproduksi senjata pemusnah massal secara rahasia. Namun, pemerintah Iran menangkis semua tuduhan tersebut dalam berbagai kesempatan di markas besar PBB. Mereka bersikeras bahwa pengembangan teknologi nuklir ini murni bertujuan untuk kemandirian energi dan keperluan medis bagi jutaan rakyatnya.

Laporan terbaru dari badan pengawas atom internasional juga memberikan catatan serius mengenai posisi Iran saat ini. PBB menyebut Iran sebagai satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang berani mengolah uranium hingga mencapai level 60 persen secara mandiri. Situasi ini membuat posisi Iran sangat rentan terhadap pengawasan militer asing karena level tersebut sangat dekat dengan standar pembuatan bom atom. Dengan adanya syarat Iran encerkan uranium, ketegangan ini berpotensi mereda jika negosiasi mencapai titik temu.

Ancaman Cadangan Material Nuklir Bagi Stabilitas Timur Tengah

Para pakar pertahanan internasional kini terus memantau keberadaan stok uranium seberat 400 kilogram yang Iran miliki saat ini. Sebelum konflik terbuka melawan Israel pecah tahun lalu, para inspektur internasional masih sempat memverifikasi lokasi penyimpanan material berbahaya tersebut. Data terakhir dari Badan Energi Atom Internasional per 10 Juni 2025 menunjukkan bahwa stok tersebut tersimpan dalam fasilitas bawah tanah yang terlindungi secara maksimal.

Volume uranium dalam jumlah besar ini memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap peta kekuatan di Timur Tengah. Jika para ahli nuklir Iran memutuskan untuk menaikkan level pengayaan menjadi 90 persen, mereka mampu menciptakan lebih dari sembilan hulu ledak nuklir dalam waktu singkat. Potensi ancaman inilah yang membuat Presiden Donald Trump tetap menggunakan pendekatan tekanan maksimum dalam proses perundingan kali ini.

Donald Trump secara terbuka menolak segala bentuk pengayaan uranium di wilayah kedaulatan Iran tanpa terkecuali. Namun, para pemimpin di Teheran melihat tuntutan tersebut sebagai bentuk intervensi yang melanggar harga diri bangsa. Mereka menyatakan bahwa syarat yang Trump ajukan jauh lebih berat dan merugikan jika dibandingkan dengan kesepakatan tahun 2015. Oleh karena itu, tawaran pengenceran uranium ini menjadi jalan tengah yang sangat berisiko namun menarik untuk dicermati.

Harapan Damai Melalui Jalur Diplomasi di Oman

Meskipun mendapat tekanan hebat, Iran tetap mempertahankan hak mereka untuk menguasai teknologi nuklir bertujuan damai. Mereka mengambil landasan hukum dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) yang melindungi hak setiap negara untuk riset energi. Teheran memandang bahwa penguasaan teknologi ini adalah simbol kemajuan bangsa di tengah kepungan sanksi ekonomi yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Dalam sesi perundingan tertutup di Oman awal bulan ini, delegasi Iran menunjukkan pendirian yang sangat kokoh namun fleksibel. Seorang sumber diplomatik kepada Reuters menyatakan bahwa Iran tidak akan pernah menghentikan total aktivitas riset nuklir mereka sesuai keinginan Washington. Sebagai gantinya, mereka menawarkan pembahasan mengenai pembatasan tingkat kemurnian dan transparansi pengawasan melalui pembentukan konsorsium nuklir regional.

Munculnya syarat Iran encerkan uranium memberikan sinyal kuat bahwa pintu dialog masih terbuka lebar meskipun kedua pihak memiliki sejarah konflik yang panjang. Dunia kini memperhatikan setiap langkah yang diambil oleh Gedung Putih dan Teheran untuk menghindari perang nuklir yang menghancurkan. Pencabutan sanksi ekonomi secara bertahap mungkin menjadi satu-satunya cara untuk membujuk Iran agar benar-benar mengurangi stok uranium mereka demi perdamaian dunia yang berkelanjutan.

(Redaksi)

Show More

Related Articles

Back to top button