Advertorial
Trending

Pemprov Kaltim Bangun Hilirisasi dari Desa untuk Kemandirian Ekonomi Kaltim

POLITIKAL.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) terus memperkuat struktur ekonomi daerah melalui langkah konkret yang langsung menyentuh pelaku usaha kecil dan petani.

Salah satu terobosan penting itu kini hadir di Desa Loleng, Kecamatan Kota Bangun, melalui pembangunan pabrik pakan ternak berbasis komoditas lokal dalam kerangka Program Jospol.

Pabrik ini tidak hanya berdiri sebagai pusat produksi, tetapi sebagai simpul ekonomi baru yang menghubungkan petani, koperasi, perguruan tinggi, dan pasar.

Dengan pendekatan hilirisasi yang terukur, Pemprov Kaltim mendorong agar nilai tambah komoditas wilayah hulu benar-benar dinikmati masyarakat desa.

Menghapus Ketergantungan dan Menggerakkan Potensi Desa

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kaltim, Heni Purwaningsih, menegaskan bahwa pembangunan pabrik pakan muncul dari kebutuhan mendesak untuk memutus ketergantungan petani jagung terhadap tengkulak.

Ia melihat bahwa Desa Loleng memiliki semua bahan baku utama—jagung, bungkil inti sawit, cangkang, hingga limbah ikan—yang mampu menopang industri pakan bernilai tinggi.

Dengan potensi tersebut, pemerintah memutuskan untuk menghadirkan fasilitas produksi yang benar-benar memberi manfaat langsung bagi petani.

“Semua bahan itu tersedia sangat dekat sehingga hilirisasi bisa bekerja secara nyata,” ujar Heni, sapaan akrabnya, Jum’at (28/11/2025).

Heni menekankan bahwa hilirisasi bukan hanya membangun pabrik, tetapi memastikan petani memperoleh harga yang stabil dan akses pasar yang lebih adil.

Berbeda dari proyek serupa yang biasanya dikelola swasta, pabrik pakan di Loleng berdiri di atas lahan hibah satu hektare milik koperasi desa yang kini menjadi aset pemerintah provinsi.

Status ini memungkinkan Pemprov memberikan pendampingan penuh, mulai dari pembangunan hingga strategi pemasaran.

Pengelolaan pabrik dipercayakan kepada Koperasi Loleng yang beranggotakan petani lokal.

Dengan sistem ini, petani dapat memasok jagung langsung ke pabrik tanpa perantara, sehingga mereka memperoleh harga yang lebih menguntungkan sekaligus memastikan keberlanjutan pasokan bagi industri.

Langkah ini memperkuat posisi tawar petani dan menempatkan koperasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi desa.

“Hilirisasi bukan hanya soal membangun pabrik, tetapi memastikan petani mendapat manfaat yang mereka rasakan langsung,” ucapnya.

Produksi Efisien, Pasar Terjamin

Pabrik pakan Loleng dirancang memiliki kapasitas produksi lima ton per hari.

Angka tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan unggas dan ruminansia di wilayah sekitar.

Lokasinya yang strategis—di antara sentra sawit dan perikanan—membuat jalur logistik lebih efisien dan menekan biaya produksi.

Selain membangun fasilitas fisik, pemerintah menurunkan pendamping khusus yang bertugas menghubungkan pabrik dengan pasar potensial.

Pendamping memastikan setiap produk terserap dengan baik dan tidak berhenti di gudang.

Bahkan, pabrik ini akan menjadi pemasok utama pakan untuk program ternak ayam petelur probiotik yang sedang digencarkan pemerintah.

Pemprov Kaltim menargetkan agar pabrik pakan Loleng menjadi model hilirisasi yang dapat direplikasi di wilayah lain.

Dengan memanfaatkan jejaring koperasi, komoditas lokal terbukti mampu menghasilkan nilai ekonomi lebih besar bagi masyarakat.

Pabrik pakan Loleng bukan sekadar bangunan industri, tetapi fondasi ekonomi baru yang menghubungkan sektor hulu dan hilir secara langsung—sebuah bukti bahwa pembangunan dari desa mampu menciptakan perubahan nyata bagi Kaltim. (adv)

Show More

Related Articles

Back to top button