Internasional

Menyelami Kosmologi Bali Melalui Pameran Maestro Seni Made Wianta di The Apurva Kempinski

POLITIKAL.ID – The Apurva Kempinski Bali mengukir sejarah baru dalam dunia pariwisata dan kebudayaan melalui kolaborasi seni yang sangat prestisius. Hotel mewah ini menghadirkan pameran eksklusif bertajuk Gallery of Art: Wianta & Legacy yang menyoroti perjalanan hidup Maestro Seni Made Wianta. Melalui pameran yang mulai menyambut publik pada 23 Januari 2026 ini, pengunjung dapat menyaksikan bagaimana sang legenda mendefinisikan ulang identitas visual Bali. Selain itu, pameran ini menjadi bukti nyata bahwa semangat inovasi sang maestro tetap hidup dan terus menginspirasi generasi baru meskipun beliau telah tiada.

Pihak penyelenggara memilih area Pendopo Lobby sebagai ruang utama pameran untuk memberikan kesan megah dan terbuka. Di tempat ini, para tamu dapat berinteraksi langsung dengan energi dari setiap kanvas yang terpampang. Selain itu, narasi yang terbangun dalam pameran ini menekankan pada keseimbangan semesta. Selanjutnya, Maestro Seni Made Wianta mengajak setiap individu untuk melihat dunia melalui kacamata spiritualitas yang modern dan dinamis. Oleh karena itu, pameran ini bukan sekadar pajangan dinding, melainkan sebuah perjalanan batin bagi siapa pun yang menyaksikannya.

Revolusi Paradigma Seni oleh Maestro Seni Made Wianta

Lahir di Tabanan pada tahun 1949, Made Wianta muncul sebagai figur yang sangat berani dalam memecah keheningan tradisi. Beliau tidak ingin sekadar mengulang pola-pola klasik yang sudah ada selama berabad-abad di Bali. Sebaliknya, Wianta memilih untuk membawa elemen tradisional tersebut ke tingkat global yang lebih tinggi. Keputusan beliau untuk menetap di Brussel, Belgia, antara tahun 1975 hingga 1977 terbukti menjadi titik balik krusial. Di sana, beliau menyerap berbagai teknik modernisme Eropa yang kemudian ia olah kembali menjadi gaya yang sangat personal.

Meskipun menyerap pengaruh Barat, Maestro Seni Made Wianta tetap memegang teguh akar budayanya. Beliau secara cerdas memadukan struktur musik karawitan Bali yang kompleks ke dalam ritme visual pada lukisannya. Oleh sebab itu, setiap goresan garis dan titik dalam karyanya tampak seolah memiliki suara dan getaran tersendiri. Rekam jejak beliau di ajang Venice Biennale 2003 dan berbagai pameran di New York semakin mengukuhkan posisinya. Jadi, dunia internasional pun mengakui bahwa Wianta adalah salah satu tokoh paling transformatif dalam sejarah seni rupa Indonesia modern.

Rahasia Mandala dan Kosmologi dalam Maestro Seni Made Wianta

Bagian yang paling menarik bagi pengunjung di The Apurva Kempinski adalah kehadiran seri Mandala secara lengkap. Koleksi ini menampilkan 11 mahakarya yang mencerminkan fase kematangan teknis dan spiritual sang pelukis. Melalui seri Mandala, Maestro Seni Made Wianta mengeksplorasi konsep Pangider-ider atau sembilan dewa penjaga arah mata angin. Namun, beliau mengemas konsep kuno ini dengan pendekatan geometri yang sangat bersih dan futuristik. Akibatnya, banyak pengamat seni internasional membandingkan kejeniusannya dengan tokoh dunia seperti Picasso.

Lebih lanjut, Mandala bagi Wianta adalah sebuah rancangan organisasi semesta yang sangat ideal. Bentuk melingkar yang dominan dalam lukisan tersebut menggambarkan sebuah kedamaian batin yang stabil di tengah gejolak dunia. Selain itu, penggunaan titik-titik kecil yang sangat detail menunjukkan kesabaran serta ketelitian luar biasa yang beliau miliki. Melalui teknik ini, Maestro Seni Made Wianta menghubungkan kita kembali dengan elemen alam yang mendasar, seperti pegunungan yang kokoh dan samudra yang tak bertepi. Oleh karena itu, melihat karya ini memberikan efek meditatif bagi para penontonnya di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.

Warisan Intelektual dan Dukungan Keluarga Wianta

Kesuksesan besar pameran ini tentu tidak lepas dari peran penting keluarga mendiang sang maestro. Istri beliau, Intan Kirana Wianta, bertindak sebagai penjaga api semangat dari seluruh warisan kreatif ini. Sebagai seorang akademisi berprestasi dan cucu dari pahlawan pendidikan Ki Hajar Dewantara, Intan memberikan dimensi intelektual yang kuat pada pameran ini. Dalam dialog interaktif, beliau menekankan bahwa suaminya selalu memandang seni sebagai bentuk pendidikan jiwa. Selanjutnya, kedua putri mereka, Buratwangi dan Sanjiwani, turut aktif menjaga setiap dokumentasi dan arsip berharga milik ayah mereka.

Keberadaan buku-buku referensi yang mendokumentasikan perjalanan Maestro Seni Made Wianta juga menjadi poin penting dalam pameran ini. Buku-buku tersebut berfungsi sebagai jembatan ilmu pengetahuan bagi para peneliti seni dan mahasiswa. Dengan demikian, nilai-nilai yang Wianta tanamkan tidak akan hilang tertelan zaman. Selain itu, dedikasi keluarga dalam mengkurasi karya-karya ini memastikan bahwa pesan orisinal sang maestro tetap tersampaikan dengan akurat. Jadi, pameran ini juga merayakan kekuatan cinta dan dukungan keluarga yang menjadi pilar di balik kesuksesan seorang seniman besar.

Harmoni Gerak dan Sangkara di Pendopo Lobby

Puncak dari acara peluncuran ini adalah sebuah pertunjukan seni gerak yang sangat emosional dari koreografer Ayu Anantha. Beliau secara khusus menciptakan tarian kontemporer yang merefleksikan dinamika garis dalam seri Mandala. Gerakan para penari yang meliuk-liuk di depan kanvas menciptakan sebuah dialog hidup yang sangat memukau. Selain itu, konsep pertunjukan yang bertajuk Sangkara ini menggambarkan evolusi seni yang tidak pernah berhenti. Ayu Anantha membuktikan bahwa Maestro Seni Made Wianta masih mampu “berbicara” melalui medium seni yang berbeda, yakni tari.

General Manager The Apurva Kempinski Bali, Vincent Guironnet, menutup acara dengan pernyataan yang sangat inspiratif. Beliau menegaskan bahwa pelestarian budaya Indonesia merupakan bagian inti dari operasional hotel mereka. Vincent merasa sangat terhormat karena pihak keluarga mempercayakan koleksi Mandala untuk tampil secara utuh di hotel tersebut. Selain itu, beliau percaya bahwa tamu mancanegara yang datang ke Bali saat ini memiliki keinginan kuat untuk memahami kedalaman budaya lokal. Oleh karena itu, pameran Maestro Seni Made Wianta menjadi jawaban sempurna atas kebutuhan tersebut. Akhirnya, pameran ini berdiri sebagai simbol kemenangan seni Indonesia di kancah global.

(Redaksi)

Show More

Related Articles

Back to top button