Internasional

Operasi Rahasia AS Berujung Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro

POLITIKAL.ID – Amerika Serikat melancarkan operasi militer rahasia berskala besar ke Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) dini hari. Dalam operasi tersebut, pasukan elit AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan membawanya ke New York untuk menghadapi dakwaan pidana.

Operasi ini menandai eskalasi besar hubungan Washington–Caracas. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menghubungi Maduro secara langsung dan meminta pemimpin Venezuela itu menyerahkan kekuasaan. Namun, Maduro menolak permintaan tersebut. Penolakan itu mendorong Gedung Putih mengambil langkah militer yang ekstrem.

Trump mengonfirmasi penangkapan tersebut kepada wartawan dan menyebut operasi itu sebagai tindakan tegas setelah jalur diplomasi gagal.

AS Siapkan Operasi Berbulan-Bulan

Sebelum serangan terjadi, Amerika Serikat menjalankan persiapan panjang dan tertutup. Mengutip BBC Internasional, pemerintah AS membentuk tim kecil yang melibatkan agen intelijen CIA. Para agen itu menyusup ke lingkaran dalam pemerintahan Venezuela.

Agen-agen CIA memantau rutinitas harian Maduro secara detail. Mereka mengumpulkan informasi tentang lokasi tidur, pola makan, hingga sistem pengamanan presiden. Informasi tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan rencana militer.

Pada awal Desember 2025, militer AS merampungkan misi yang mereka beri nama Operasi Absolute Resolve. Seorang pejabat militer AS menyebut operasi ini sebagai salah satu aksi paling berani pada masa jabatan kedua Donald Trump.

Selain itu, pasukan elit AS berlatih selama berbulan-bulan menggunakan replika kompleks kepresidenan Venezuela. Latihan tersebut meniru operasi penyerbuan Osama bin Laden pada 2011 di Pakistan.

Operasi Dijaga Sangat Rahasia

Militer AS menjaga rencana ini dengan tingkat kerahasiaan tinggi. Bahkan Kongres AS tidak menerima informasi terkait persiapan operasi tersebut. Seluruh personel yang terlibat hanya menunggu satu perintah langsung dari Presiden Trump.

Jenderal Dan Caine mengatakan pasukan AS berada dalam kondisi siaga penuh selama libur Natal dan Tahun Baru. Mereka menunggu waktu yang dinilai paling tepat untuk bertindak.

Menurut Caine, presisi dan kesabaran menjadi kunci keberhasilan misi tersebut.

Serangan 2 Jam 20 Menit di Caracas

Pada Sabtu dini hari, militer AS memulai operasi selama dua jam dua puluh menit. Pasukan AS menyerang melalui jalur udara, darat, dan laut secara simultan.

Ledakan pertama terdengar di Caracas sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Warga menyaksikan kepulan asap membumbung dari sejumlah titik strategis kota. AS mengerahkan sekitar 150 pesawat, termasuk pembom, jet tempur, dan pesawat pengintai.

Selain itu, helikopter terbang rendah di atas ibu kota Venezuela. Rekaman video yang beredar menunjukkan beberapa ledakan terjadi saat helikopter bermanuver di atas kota.

Seorang warga Caracas bernama Daniela mengatakan suara ledakan membangunkan penduduk sekitar. Menurutnya, listrik padam dan kota tenggelam dalam kegelapan.

Target Militer dan Pemadaman Listrik

Serangan AS menargetkan sedikitnya lima lokasi penting. Target tersebut meliputi Pelabuhan La Guaira, Pangkalan Udara Jenderal Francisco de Miranda, Bandara La Carlota, Bandara Higuerote, dan fasilitas Antenas El Volcan.

Pejabat AS menyebut serangan itu fokus pada sistem pertahanan udara dan instalasi militer Venezuela. Pada saat yang sama, Trump mengisyaratkan bahwa AS memutus aliran listrik di Caracas sebelum pasukan darat bergerak.

Trump menyebut pemadaman tersebut sebagai hasil keahlian khusus militer AS. Menurutnya, kondisi gelap total mempermudah pergerakan pasukan.

Delta Force Tangkap Maduro

Unit elit Delta Force memimpin langsung penangkapan Nicolas Maduro. Mengutip CBS, pasukan ini membawa perlengkapan berat, termasuk obor las, untuk menembus pintu logam rumah persembunyian Maduro.

Pasukan Delta Force tiba di lokasi beberapa menit setelah serangan udara dimulai. Trump menggambarkan lokasi tersebut sebagai benteng militer di pusat Caracas.

Saat pasukan mendekat, mereka mendapat perlawanan bersenjata. Salah satu helikopter AS terkena tembakan, namun tetap mampu melanjutkan misi.

Jenderal Caine menegaskan pasukan bergerak cepat dan disiplin. Mereka menembus pintu baja yang sengaja dipasang untuk menghalangi penyusup.

Upaya Pelarian Maduro Gagal

Trump mengungkapkan bahwa Maduro sempat mencoba melarikan diri. Namun, pasukan AS berhasil menggagalkan upaya tersebut dalam hitungan detik.

Menurut Trump, Maduro hampir mencapai ruang aman, tetapi pasukan Delta Force bergerak lebih cepat. Mereka menerobos masuk sebelum Maduro sempat mengunci diri.

Setelah penangkapan, AS segera mengevakuasi Maduro ke luar Venezuela. Pada Senin (5/1/2026), otoritas AS menggiring mantan presiden Venezuela itu ke pengadilan New York untuk menghadapi dakwaan terkait kasus narkoba.

(Redaksi)

Show More

Related Articles

Back to top button