Tantangan Perang Jangka Panjang bagi Amerika Serikat dalam Menghadapi Iran

POLITIKAL.ID – Profesor Jiang Xueqin memberikan peringatan keras mengenai arah konflik global yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pendidik sekaligus penulis kenamaan ini memprediksi bahwa Washington akan menghadapi kegagalan besar dalam palagan di Timur Tengah. Beliau menekankan bahwa tantangan perang jangka panjang ini berakar dari ketidaksiapan militer Amerika Serikat dalam beradaptasi dengan pola peperangan modern yang jauh berbeda dari dekade sebelumnya.
Jiang Xueqin mengungkapkan analisisnya melalui konten terbaru di kanal YouTube miliknya. Ia menyebut bahwa saat ini dunia seolah telah memasuki fase awal Perang Dunia III. Serangan-serangan awal yang terjadi antara pihak AS, Israel, dan Iran menandai dimulainya babak baru sejarah militer. Menurut Jiang, konflik ini tidak akan selesai dalam hitungan hari, melainkan menjadi sebuah tantangan perang jangka panjang yang bisa menguras sumber daya negara adidaya tersebut selama bertahun-tahun ke depan.
Kegagalan Doktrin Militer Konvensional
Amerika Serikat selama ini sangat mengandalkan doktrin militer shock and awe. Doktrin ini menitikberatkan pada serangan udara masif untuk menghancurkan pusat komando musuh dengan cepat. Jiang Xueqin menganalogikan strategi ini sebagai upaya memenggal kepala lawan agar tubuhnya jatuh lunglai. Namun, ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut sama sekali tidak berlaku bagi Iran. Struktur militer dan sosial di Iran memungkinkan mereka untuk terus bertarung meski pimpinan tertinggi mereka telah tiada.
Negara-negara Barat seringkali meremehkan aspek ideologi dan fanatisme dalam peperangan. Bagi Iran, konfrontasi ini merupakan perang suci yang melibatkan seluruh elemen bangsa. Hal inilah yang menciptakan tantangan perang jangka panjang bagi militer Amerika Serikat yang lebih terbiasa dengan perang konvensional antar-negara. Jiang menyebutkan bahwa meskipun militer Amerika terlihat sangat perkasa dan tidak terkalahkan, mereka sebenarnya tidak memiliki perlengkapan yang cukup untuk menang di abad ke-21.
Ancaman Teknologi Drone dan Perang Asimetris
Dunia militer saat ini telah berubah drastis dengan kehadiran teknologi drone yang murah namun mematikan. Jiang Xueqin menyoroti bahwa Amerika Serikat masih terjebak pada penggunaan alutsista mahal yang sulit untuk menghadapi serangan drone yang masif dan tersebar. Iran telah mengembangkan kemampuan ini dengan sangat baik selama bertahun-tahun. Hal ini membuat setiap jengkal wilayah konflik menjadi zona bahaya yang konstan bagi tentara Amerika.
Selain teknologi, semangat juang yang didasari keyakinan agama membuat perlawanan Iran sulit dipadamkan. Militer AS mungkin bisa memenangkan pertempuran udara, namun mereka akan kesulitan mengendalikan situasi di darat dalam durasi yang lama. Inilah yang menjadi inti dari tantangan perang jangka panjang yang diprediksi oleh Jiang. Pasukan Amerika akan terjebak dalam perang atrisi yang melelahkan secara mental, fisik, dan finansial tanpa ada akhir yang jelas di depan mata.
Blokade Selat Hormuz dan Keruntuhan Ekonomi
Faktor ekonomi menjadi kartu as bagi Iran dalam menghadapi tekanan dari pihak Barat. Jiang Xueqin secara spesifik menyebutkan posisi strategis Selat Hormuz sebagai titik kunci. Jika perang ini berlanjut tanpa henti, Iran pasti akan menutup jalur perdagangan internasional tersebut. Dampak dari penutupan ini akan terasa seketika di seluruh penjuru dunia. Harga energi akan melonjak ke tingkat yang tidak terkendali dan memicu inflasi global yang sangat parah.
Ekonomi global yang tercekik akibat penutupan Selat Hormuz akan menjadi bumerang bagi Amerika Serikat. Jiang berpendapat bahwa kekalahan AS tidak hanya terjadi di medan perang, melainkan juga melalui kebangkrutan ekonomi dalam negeri. Krisis ini merupakan bagian integral dari tantangan perang jangka panjang yang harus dikalkulasi oleh para pembuat kebijakan di Washington. Jika mereka memaksakan diri untuk terus berperang, stabilitas domestik Amerika Serikat sendiri yang menjadi taruhannya.
Transformasi Tatanan Dunia Baru
Jiang Xueqin menutup analisisnya dengan menyatakan bahwa dunia tidak akan pernah kembali ke keadaan semula setelah konflik ini berakhir. Dominasi atau “kerajaan” Amerika Serikat terancam runtuh akibat ketidakmampuan mereka memenangkan perang abad ke-21. Pergeseran kekuatan global akan terjadi seiring dengan melemahnya pengaruh militer Barat di kawasan strategis. Peperangan ini menjadi ujian terakhir bagi hegemoni Amerika di mata internasional.
Ketidakmampuan Amerika Serikat untuk beradaptasi dengan realitas baru ini merupakan peringatan bagi sekutu-sekutunya. Strategi militer yang hanya mengandalkan kecanggihan teknologi tanpa memahami psikologi lawan akan selalu menemui kegagalan. Jiang menekankan bahwa tantangan perang jangka panjang melawan Iran akan menjadi titik balik jatuhnya kekuatan superpower yang selama ini mendominasi bumi. Realitas peperangan modern menuntut fleksibilitas, sedangkan Amerika Serikat tampak masih terpaku pada kejayaan masa lalu.
(Redaksi)



