Wakil Wali Kota Samarinda Buka Festival Bedug Sahur Di Loa Janan Ilir

POLITIKAL.ID – Suasana perataran dan jalan di depan Masjid Jami’ Al-Muttaqin, Kelurahan Harapan Baru, Loa Janan Ilir, Jumat malam (6/3/2026), dipenuhi ribuan warga yang antusias menyaksikan Festival Bedug Sahur. Kegiatan yang menjadi tradisi tahunan ini dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, dan dihadiri sejumlah tokoh masyarakat serta pejabat daerah, termasuk anggota DPRD Samarinda, Joha Fajal.
Dalam sambutannya, Saefuddin Zuhri mengingatkan warga untuk tetap menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat yang hadir agar setelah acara selesai, sampah-sampah yang ada dipunguti dan dibersihkan. Festival ini harus tetap meriah, tetapi kita juga harus menjaga lingkungan tetap bersih dan nyaman,” ujarnya.
Pembukaan dilakukan secara simbolis oleh Wakil Wali Kota yang menekan sirine, menandai dimulainya rangkaian festival. Kegiatan ini diikuti oleh 32 peserta dari berbagai daerah, yang menampilkan seni bedug sahur secara bergiliran, menambah semarak malam menjelang Ramadan.
Meskipun cuaca sempat berubah ekstrem dengan hujan deras disertai angin kencang, semangat peserta dan penonton tidak surut. Para warga tetap bertahan di sekitar masjid, menyaksikan penampilan demi penampilan dengan antusiasme tinggi.
Festival sebagai Perekat Silaturahmi
Menurut Saefuddin Zuhri, festival ini bukan sekadar ajang pertunjukan bedug, tetapi juga menjadi media untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah.
“Festival Bedug Sahur ini menjadi bagian dari tradisi kita. Selain menampilkan budaya, kegiatan ini juga memperkuat kebersamaan masyarakat dan memberikan hiburan yang positif menjelang bulan Ramadan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran masyarakat dalam jumlah besar menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat penting di hati warga.
“Melihat antusiasme masyarakat, anak-anak, remaja, hingga orang tua, ini menunjukkan bahwa tradisi bedug sahur tetap hidup dan bisa menjadi perekat komunitas. Kita berharap tradisi ini bisa terus dilestarikan,” kata Saefuddin Zuhri.
Acara yang berlangsung usai solat tarawih, membuat ribuan warga hadir dari berbagai usia, sehingga pihak kepolisian terpaksa mengalihkan arus lalu lintas sementara untuk menjaga kelancaran festival dan keselamatan peserta maupun penonton.
Kreativitas Peserta Festival
Para peserta festival datang dari berbagai komunitas dan masjid di Samarinda. Mereka menampilkan teknik pukulan bedug yang bervariasi, mulai dari ritme tradisional hingga inovasi modern yang menarik perhatian penonton. Beberapa peserta bahkan memadukan permainan bedug dengan iringan musik dan tarian ringan, membuat suasana semakin hidup.
“Kami sangat senang bisa ikut festival ini. Ini kesempatan untuk menunjukkan kebolehan dan kreativitas kami dalam memainkan bedug,” ujar Ahmad, salah satu peserta.
Meskipun hujan deras sempat mengguyur, panitia memastikan acara tetap berjalan dengan aman. Tenda-tenda disiapkan untuk melindungi peserta dan penonton dari hujan. Banyak warga tetap bertahan meski basah kuyup, karena ingin menyaksikan seluruh rangkaian penampilan dari semua peserta.
Dampak festival ini tidak hanya terasa dari sisi hiburan. Kehadiran ribuan orang di sekitar masjid juga mendorong pergerakan ekonomi lokal. Warung, pedagang makanan, dan toko-toko kecil di sekitar lokasi mendapatkan peningkatan pengunjung. Festival ini memberi kontribusi positif bagi ekonomi warga setempat, sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda dan pengunjung dari daerah lain.
Festival Bedug Sahur di Loa Janan Ilir menjadi bukti kuatnya tradisi dan kreativitas masyarakat Samarinda menjelang bulan suci Ramadan. Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya diajak menikmati hiburan, tetapi juga diajak untuk menjaga kebersamaan, mempererat silaturahmi, dan merayakan nilai-nilai budaya Islam yang kaya di Kota Samarinda.
Dengan suksesnya pelaksanaan festival tahun ini, pemerintah kota berharap kegiatan serupa dapat terus digelar setiap tahun, menjadi agenda rutin yang memperkuat budaya lokal sekaligus menghidupkan ekonomi masyarakat setempat.
“Festival ini bukan hanya hiburan, tapi juga kesempatan untuk menumbuhkan kebanggaan budaya dan ekonomi lokal. Kita ingin generasi muda Samarinda tetap mengenal tradisi ini, ikut melestarikannya, dan selalu menjaga lingkungan tetap bersih.” pungkasnya.
(*)





