Wawali Saefuddin Zuhri Ajak Semua Pihak Bergerak Bersama Tekan Stunting di Samarinda
POLITIKAL.ID – Pemerintah Kota Samarinda kembali menunjukkan komitmennya dalam menanggulangi masalah stunting yang masih menjadi tantangan serius di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim)
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri turun langsung menyalurkan bantuan kepada keluarga berisiko stunting di RT 33 dan 34 Kelurahan Kampung Jawa, pada Senin (13/10/2025).
Bantuan tersebut berupa telur, beras, sembako, dan makanan bergizi untuk anak-anak.
Dalam kesempatan itu, Saefuddin Zuhri menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan langkah nyata untuk menekan angka stunting yang masih menjadi tantangan di Samarinda.
“Hari ini kita datang langsung ke lokasi untuk menyalurkan bantuan bagi warga berisiko stunting. Alhamdulillah, kami sudah memberikan makanan bergizi, dan harapannya bisa membantu mengurangi angka stunting di kota ini,” ucapnya.
Ia menjelaskan kegiatan seperti ini akan dilakukan secara berkelanjutan di berbagai wilayah.
“Insyaallah kami akan terus keliling ke daerah-daerah lain. Programnya bukan hanya sekali, tapi berkesinambungan agar dampaknya terasa nyata,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan pentingnya Program Gerakan Cegah Stunting (GENTING) sebagai payung besar dalam upaya percepatan penurunan stunting di Samarinda. Program ini, kata dia, bukan hanya soal pemberian bantuan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi, sanitasi, dan pola asuh.
“Program Genting ini harus terus berjalan. Kalau berjalan terus, maka risiko stunting bisa berkurang. Target kita jelas, dari 20,3 persen turun menjadi 18,8 persen pada tahun 2030,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan tentang stunting ini tidak bisa dilihat dari sisi kesehatan semata. Lebih dari itu, stunting merupakan masalah sosial dan ekonomi yang dapat memberikan berdampak panjang terhadap masa depan generasi muda.
“Stunting bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi yang berdampak panjang pada kualitas sumber daya manusia. Maka dari itu, kita harus bergerak bersama,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda, Deasy Evriyani, yang turut mendampingi Wakil Wali Kota Samarinda menegaskan bahwa program pemberian bantuan dan edukasi akan terus dilakukan hingga menjangkau seluruh kecamatan di Samarinda.
“Pesan Pak Wakil Wali Kota (Saefuddin Zuhri) jelas kegiatan ini tidak boleh berhenti di sini. Harus berkelanjutan, berkesinambungan, dan menjangkau seluruh 10 kecamatan. Saat ini ada 555 keluarga berisiko stunting yang akan kita kawal, baik dari segi pemberian nutrisi maupun edukasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat bukan hanya untuk memberikan bantuan, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat merasa didampingi dan diperhatikan.
“Masyarakat senang ketika dikunjungi langsung oleh pemerintah. Mereka merasa diperhatikan. Bahkan tadi wakil Wali Kota juga menanyakan langsung soal fasilitas sanitasi yang ada di rumah-rumah warga,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran Posyandu dalam pencegahan stunting. Berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2024, Posyandu saat ini ditetapkan sebagai lembaga resmi, bukan lagi sekadar upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM).
“Posyandu sekarang sudah menjadi lembaga resmi dan termasuk dalam enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan. Jadi, wajib bagi masyarakat untuk membawa anaknya ke Posyandu minimal sebulan sekali,” jelasnya.
Selain itu, DPPKB juga mendorong agar masyarakat dapat memanfaatkan program cek kesehatan gratis yang dilakukan di berbagai wilayah. Program ini akan menjadi langkah nyata dalam memastikan seluruh keluarga mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
“Saat ini kita ingin memastikan masyarakat yang ada di Kota Samarinda sehat, keluarga tangguh, dan berkualitas. Dari situ, angka risiko stunting bisa kita tekan,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pentingnya kolaborasi dengan berbagai sektor, termasuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sebab, salah satu penyebab stunting di hulu adalah buruknya sanitasi dan keterbatasan akses air bersih.
“Salah satu inovasi kita adalah melakukan penanganan stunting sensitif melalui perbaikan sanitasi dan air bersih. PDAM akan dilibatkan sebagai bagian dari solusi,” jelas Deasy.
Melalui kolaborasi lintas sektor, Pemkot Samarinda berharap setiap persoalan yang berkaitan dengan faktor penyebab stunting dapat ditangani secara menyeluruh.
“Saat ini kita punya tim konvergensi stunting yang akan memetakan masalah yang ada di lapangan, termasuk soal fasilitas sanitasi yang nantinya hasil temuan itu nanti akan dilaporkan dan ditindaklanjuti bersama PDAM,” katanya.
(*)
