JAKARTA — Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana secara resmi menegaskan bahwa industri mode nasional memiliki posisi yang sangat strategis dalam memperkuat visi pariwisata berkualitas di Indonesia. Dalam pidato pembukaan Jakarta Fashion Week (JFW) 2027 pada Senin (26/10/2026), beliau menyampaikan bahwa karya mode bukan sekadar produk sandang, melainkan daya tarik budaya yang mampu memikat wisatawan mancanegara untuk datang dan berbelanja di tanah air.
Widiyanti menjelaskan bahwa kementerian tengah fokus pada pengembangan wisata belanja sebagai salah satu pilar utama. Oleh karena itu, kolaborasi antara desainer lokal dan sektor pariwisata harus dipererat guna menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Sementara itu, tren global menunjukkan bahwa pelancong modern cenderung mencari pengalaman autentik, termasuk mengenakan naskah budaya dalam bentuk busana kontemporer yang elegan dan beradab.
Strategi Pariwisata Berkualitas Melalui Industri Kreatif
Penerapan konsep pariwisata berkualitas menuntut perubahan paradigma dari sekadar mengejar kuantitas kunjungan menjadi pengejaran nilai tambah ekonomi. Industri mode, dengan kekayaan wastra nusantara, memberikan diferensiasi yang kuat bagi Indonesia di kancah internasional. Selain itu, pengembangan sektor ini juga berdampak langsung pada kesejahteraan pengrajin lokal di berbagai daerah, termasuk mereka yang berada di luar Pulau Jawa.
Sebagai contoh, Kalimantan Timur yang kini menjadi pusat perhatian dunia berkat kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) memiliki potensi besar dalam menyuplai material mode etnik. Batik khas Kaltim dan tenun Ulap Doyo dapat diintegrasikan dalam desain modern untuk dipromosikan sebagai suvenir eksklusif bagi wisatawan kelas atas. Dengan demikian, sinkronisasi antara kebijakan pusat di Jakarta dan potensi daerah di Kalimantan Timur akan menciptakan pemerataan kemakmuran yang nyata bagi masyarakat.
Analisis Dampak Ekonomi dan Budaya
Di sisi lain, integrasi industri mode ke dalam sektor pariwisata akan memperkuat identitas nasional di mata global. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam membangun peradaban modern yang tidak meninggalkan akar budaya. Oleh karena itu, dukungan infrastruktur dan kemudahan akses bagi para pelaku industri kreatif menjadi sangat krusial agar produk lokal mampu bersaing dengan merek global di pusat-pusat perbelanjaan strategis.
- Peningkatan devisa negara melalui sektor wisata belanja fashion.
- Pemberdayaan UMKM kreatif di daerah penyangga seperti Samarinda dan Balikpapan.
- Penguatan branding Indonesia sebagai pusat mode muslim dan etnik dunia.
- Penciptaan lapangan kerja baru di sektor desain dan manufaktur kreatif.
Secara keseluruhan, langkah Menpar ini merupakan sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi kreatif yang inklusif. Transformasi pariwisata berkualitas yang digagas pemerintah diharapkan mampu menjadikan Indonesia sebagai destinasi utama yang menawarkan kemewahan budaya dan kreativitas tanpa batas. Sinergi antara kreativitas desainer dan kebijakan strategis pemerintah adalah kunci utama bagi kemajuan daerah terkait. (red) (red)
*Penulis adalah Tim Analisis & Redaksi Politikal, mengulas dinamika pembangunan, sosial, dan ekonomi Kalimantan Timur untuk masyarakat beradab.



