Ayatollah Ali Khamenei Wafat, Majelis Ahli Bersiap Pilih Pemimpin Tertinggi Baru

POLITIKAL.ID – Iran memasuki babak baru ketidakpastian politik setelah Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, wafat dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/02) dini hari.
Pemerintah Iran memastikan proses suksesi akan segera berjalan sesuai konstitusi, di tengah situasi keamanan yang memburuk.
SNSC Konfirmasi Kematian dan Tuding AS–Israel
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) melalui siaran televisi IRINN mengumumkan bahwa Ali Khamenei meninggal dunia di kantornya saat menjalankan tugas.
Siaran tersebut menampilkan foto Khamenei dengan latar ayat suci Al-Qur’an serta pita hitam sebagai tanda duka nasional.
“Kami secara resmi mengonfirmasi wafatnya Ayatollah Khamenei sebagai martir. Amerika Serikat dan rezim Zionis bertanggung jawab atas kejahatan ini,” demikian pernyataan yang dibacakan penyiar televisi pemerintah.
Pemerintah Iran menyebut kematian Khamenei sebagai simbol perlawanan terhadap “para penindas” dan menegaskan akan melanjutkan perjuangan Republik Islam.
Sejumlah Pejabat Tinggi Militer Ikut Gugur
Serangan tersebut juga menewaskan sejumlah pejabat militer senior.
Kantor berita resmi IRNA melaporkan Panglima IRGC, Mohammad Pakpour, serta Sekretaris Dewan Pertahanan Iran, Ali Shamkhani, turut tewas.
Sebelumnya, Israel merilis daftar tujuh pejabat keamanan Iran yang mereka klaim menjadi target operasi.
Pakpour diketahui baru menjabat sebagai panglima IRGC setelah konflik Iran–Israel selama 12 hari pada Juni 2025.
Sementara Shamkhani sebelumnya dilaporkan mengalami luka-luka dalam konflik tersebut sebelum akhirnya kembali aktif sebagai penasihat senior.
Trump dan Netanyahu Klaim Operasi Militer
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam unggahan di Truth Social menyatakan bahwa Khamenei telah tewas dalam “operasi tempur besar-besaran”.
“Khamenei telah tewas. Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negaranya,” tulis Trump. Ia juga menyebut operasi tersebut sebagai bentuk keadilan bagi warga Amerika.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan operasi berjalan bersama AS untuk “menyingkirkan rezim teroris di Iran.”
“Waktunya telah tiba bagi rakyat Iran untuk membebaskan diri dari tirani,” kata Netanyahu dalam pernyataannya.
Ratusan Korban dan Kerusakan Meluas
Juru bicara Bulan Sabit Merah Iran, Mojtaba Khaledi, melaporkan sedikitnya 201 orang meninggal dunia dan 747 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang menyasar 24 dari 31 provinsi di Iran.
Media pemerintah Iran juga melaporkan 85 orang tewas dalam serangan yang menghantam sebuah sekolah dasar di Minab. Laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Citra satelit memperlihatkan kerusakan signifikan pada kompleks kediaman Khamenei di Teheran.
Bangunan tampak hangus dan puing-puing berserakan, dengan asap membumbung tinggi.
Proses Suksesi di Tengah Situasi Darurat
Konstitusi Iran mengatur bahwa pengganti Pemimpin Tertinggi melalui pemilihan oleh Majelis Ahli Kepemimpinan, yang terdiri dari 88 ulama dan pemilihan berlangsung setiap delapan tahun.
Lembaga ini mendesak segera memilih pemimpin baru.
Namun, dalam kondisi Iran yang tengah berada dalam situasi serangan militer, proses pengumpulan anggota majelis bakal menghadapi tantangan keamanan.
Untuk sementara, tugas-tugas Pemimpin Tertinggi biasanya akan presiden ambil alih, ketua lembaga kehakiman, serta seorang ulama anggota Dewan Garda yang berpengaruh.
Kematian Khamenei tidak hanya mengubah lanskap politik domestik Iran, tetapi juga berpotensi memperluas konflik regional di Timur Tengah, menyusul keterlibatan langsung Amerika Serikat dan Israel dalam operasi tersebut.
(Redaksi)

