Tonton Video Langsung Tanpa Membaca Berita
Internasional

Riyadh dan Abu Dhabi Mulai Berseberangan, Rivalitas Baru Menguat di Timur Tengah

POLITIKAL.ID – Hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang selama ini solid mulai memasuki fase baru yang lebih kompetitif. Di balik kerja sama strategis yang pernah membentuk poros kekuatan Teluk, kini muncul persaingan terbuka antara Riyadh dan Abu Dhabi dalam memperebutkan pengaruh geopolitik, ekonomi, dan keamanan regional.

Dua negara yang selama bertahun-tahun tampil seirama itu kini bergerak dengan arah dan kepentingan berbeda. Rivalitas ini terlihat dari konflik kawasan, perebutan pengaruh di negara-negara rapuh, hingga kompetisi ekonomi yang kian tajam. Banyak pengamat menilai hubungan Arab Saudi–UEA tengah mengalami pergeseran mendasar, dari kemitraan erat menuju kompetisi strategis.

Aliansi Lama Riyadh–Abu Dhabi Mulai Retak

Selama bertahun-tahun, Arab Saudi dan UEA membangun aliansi kuat yang bertumpu pada hubungan personal antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ). Dari pantauan AFP, Jumat (2/1/2026), kedekatan keduanya menjadi fondasi utama kerja sama politik, militer, dan ekonomi di kawasan Teluk.

Sheikh Mohamed bahkan kerap mendapat sebutan sebagai mentor Mohammed bin Salman pada awal kemunculannya di panggung kekuasaan Arab Saudi. Bersama, Riyadh dan Abu Dhabi mengoordinasikan kebijakan produksi minyak, memimpin koalisi militer di Yaman, serta memperluas pengaruh ke Afrika dan Laut Merah.

Namun, seiring meningkatnya ambisi masing-masing negara, kesamaan visi itu mulai memudar. Kepentingan nasional yang kian menonjol mendorong kedua negara mengambil jalur kebijakan yang berbeda.

Ambisi Regional Berbeda: Dominasi Riyadh vs Fleksibilitas Abu Dhabi

Arab Saudi di bawah Mohammed bin Salman kini memusatkan perhatian pada reformasi ekonomi domestik melalui visi besar Vision 2030. Riyadh berupaya menegaskan diri sebagai pusat utama ekonomi, politik, dan diplomasi Timur Tengah, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemimpin dunia Arab.

Sebaliknya, UEA memilih pendekatan yang lebih fleksibel dan pragmatis. Abu Dhabi memperluas pengaruhnya melalui jaringan aliansi luas, termasuk dukungan terhadap aktor non-negara di berbagai konflik. Strategi ini memungkinkan UEA bergerak cepat, efisien, dan sering kali lebih berani dalam mengamankan kepentingan geopolitiknya.

Perbedaan pendekatan ini perlahan mengubah dinamika hubungan kedua negara, dari mitra sejajar menjadi pesaing dengan kepentingan yang kerap beririsan.

Yaman Jadi Titik Panas Persaingan Saudi–UEA

Perbedaan kepentingan paling mencolok muncul di Yaman. Ketegangan meningkat ketika Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), yang UEA dukung, merebut wilayah strategis dan kaya sumber daya di provinsi Hadramawt dan Mahra. Wilayah tersebut sebelumnya berada di bawah kendali pasukan yang setia kepada pemerintah Yaman, yang mendapat dukungan Arab Saudi.

Situasi ini memicu gesekan serius dalam koalisi militer anti-Houthi. Bahkan, koalisi pimpinan Arab Saudi dilaporkan sempat membombardir pengiriman senjata yang diduga berasal dari UEA dan ditujukan kepada kelompok separatis selatan.

Retakan ini sejatinya sudah terlihat sejak Juli 2019, ketika UEA menarik sebagian besar pasukannya dari Yaman. Langkah tersebut menandai perbedaan strategi yang semakin sulit disembunyikan.

Tujuan Riyadh dan Abu Dhabi Dinilai Tak Sejalan

Pakar Yaman dan Teluk, Baraa Shiban, menilai tujuan Arab Saudi dan UEA di Yaman “sangat berbeda” dan bahkan “tidak mungkin dipertemukan”. Menurutnya, Riyadh mengutamakan stabilitas jangka panjang dan keutuhan negara Yaman di bawah pemerintahan yang diakui.

Sebaliknya, UEA dinilai lebih fokus membangun pengaruh strategis melalui kelompok lokal, termasuk yang berpotensi memecah struktur negara. Pendekatan ini memungkinkan Abu Dhabi mengamankan kepentingan maritim, pelabuhan, dan jalur perdagangan penting.

“Arab Saudi melihat dukungan UEA terhadap kelompok separatis sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan,” ujar Shiban.

Perbedaan Ideologi Perkeruh Hubungan

Selain kepentingan praktis, perbedaan ideologi turut memperlebar jarak Riyadh dan Abu Dhabi. Menurut Shiban, kepemimpinan UEA memiliki obsesi kuat untuk memerangi Ikhwanul Muslimin dan segala bentuk Islam politik, yang kemudian dijadikan agenda regional.

Arab Saudi tidak sepenuhnya mengikuti pendekatan keras tersebut. Riyadh cenderung mengambil posisi lebih pragmatis, menyesuaikan sikap dengan kepentingan stabilitas dan pengaruh jangka panjang.

“Melihat satu negara seperti UEA membangun pijakan luas melalui aktor non-negara menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan bagi Arab Saudi,” kata Shiban.

Persaingan Ekonomi Perkuat Rivalitas Riyadh–Abu Dhabi

Di luar konflik bersenjata, persaingan Riyadh dan Abu Dhabi juga merambah sektor ekonomi. Arab Saudi mendorong relokasi kantor pusat perusahaan multinasional ke Riyadh, kebijakan yang secara langsung menantang posisi Dubai sebagai pusat bisnis regional.

Langkah ini mempertegas ambisi Arab Saudi untuk menjadi hub ekonomi utama Timur Tengah. Di sisi lain, UEA berupaya mempertahankan daya tariknya melalui regulasi fleksibel, stabilitas, dan jaringan global yang sudah mapan.

Masa Depan Hubungan Saudi–UEA

Meski rivalitas kian terlihat, banyak analis menilai Arab Saudi dan UEA belum sepenuhnya berpisah jalan. Kedua negara masih berbagi kepentingan strategis dalam menjaga stabilitas Teluk dan menghadapi ancaman regional.

Namun, dinamika hubungan mereka kini jauh lebih kompleks. Dari sekutu dekat, Riyadh dan Abu Dhabi bertransformasi menjadi mitra yang saling bersaing. Pergeseran ini berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah dalam beberapa tahun ke depan.

Persaingan Riyadh–Abu Dhabi bukan lagi isu tersembunyi. Ia telah menjadi realitas baru yang akan terus membentuk arah politik, ekonomi, dan keamanan kawasan.

Show More

Related Articles

Back to top button