Proyek Eksklusif Way Kambas: Menguak Strategi Mantan Diplomat AS di Lingkaran Prabowo

POLITIKAL.ID – Rencana pengembangan kawasan konservasi di Taman Nasional Way Kambas kini memicu perdebatan publik setelah munculnya keterlibatan pengusaha asal Amerika Serikat. Mantan Diplomat AS, Karen Brooks, kabarnya tengah melobi Pemerintah Indonesia untuk membangun resor mewah dan sistem perdagangan karbon di lahan lindung tersebut. Nama Brooks mencuat setelah laporan investigasi mengungkap kedekatan emosional dan profesionalnya dengan Presiden RI Prabowo Subianto.
Karen Brooks bukan sekadar pengusaha biasa yang mencari peruntungan di Indonesia. Ia membawa rekam jejak panjang dalam dunia geopolitik dan diplomasi internasional yang sangat kental. Kehadirannya di kediaman pribadi Prabowo di Hambalang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Mantan Diplomat AS ini dalam mengintervensi kebijakan strategis nasional, khususnya di sektor lingkungan dan investasi hijau.
Lobi Intensif Mantan Diplomat AS di Hambalang
Berdasarkan informasi dari podcast Bocor Alus majalah Tempo, Karen Brooks melakukan pendekatan personal yang sangat intensif kepada Presiden Prabowo. Brooks bahkan sempat menginap di Hambalang untuk mendiskusikan berbagai hambatan birokrasi yang menghalangi proyek konservasi versinya. Sebagai sosok yang fasih berbahasa Indonesia dan Jawa, Mantan Diplomat AS ini mampu menjalin komunikasi yang sangat cair dengan para petinggi negeri.
Dalam pertemuan tersebut, Brooks secara spesifik menyoroti potensi besar perdagangan karbon yang ada di Way Kambas. Ia berpendapat bahwa hutan Lampung memiliki nilai ekonomi tinggi jika pemerintah mengelolanya melalui pasar karbon sukarela internasional. Namun, Brooks menyadari bahwa aturan di Indonesia seringkali menjadi batu sandungan bagi investor asing untuk masuk ke area taman nasional secara langsung.
Oleh karena itu, Brooks menawarkan solusi berupa skema investasi yang menggabungkan perlindungan satwa dengan profitabilitas tinggi. Ia meyakinkan Prabowo bahwa dana dari hasil penjualan karbon tersebut akan kembali untuk membiayai operasional taman nasional. Meskipun demikian, banyak pihak mempertanyakan apakah motif utama dari Mantan Diplomat AS ini benar-benar murni untuk pelestarian alam atau sekadar eksploitasi ekonomi baru.
Ambisi Wisata Mewah Senilai 220 Juta Rupiah
Rencana paling kontroversial dari Karen Brooks adalah pembangunan destinasi wisata eksklusif yang mengadopsi model bisnis di Botswana, Afrika. Brooks ingin membangun resor di dalam kawasan inti Taman Nasional Way Kambas dengan tarif mencapai 14.000 dolar AS per tamu. Angka yang setara dengan Rp220 juta ini menyasar turis mancanegara kelas atas yang menginginkan pengalaman safari premium.
Proyek ini tidak hanya menawarkan penginapan mewah, tetapi juga paket melihat satwa liar seperti harimau Sumatera dan gajah secara eksklusif. Untuk mendukung aksesibilitas tamu VIP, Mantan Diplomat AS tersebut berencana membangun landasan pesawat kecil atau helikopter di dalam kawasan hutan. Rencana infrastruktur ini langsung memicu gelombang kritik dari para aktivis lingkungan di berbagai daerah.
Pembangunan landasan pacu di tengah habitat liar tentu akan mengganggu ketenangan satwa melalui kebisingan mesin pesawat. Selain itu, polusi udara dan aktivitas manusia yang meningkat di area konservasi berisiko merusak ekosistem yang selama ini terjaga ketat. Para ahli menyayangkan jika pemerintah memberikan karpet merah kepada investor asing untuk mengubah fungsi hutan menjadi taman bermain bagi orang-orang kaya dunia.
Profil dan Jejak Karier Global Karen Brooks
Keberanian Karen Brooks dalam mengusulkan proyek besar ini berakar dari pengalamannya yang luar biasa di pemerintahan Amerika Serikat. Ia pernah menduduki posisi strategis sebagai Direktur Urusan Asia di Dewan Keamanan Nasional (NSC) pada era Presiden George W. Bush. Sebagai Mantan Diplomat AS, ia memiliki akses langsung ke Gedung Putih dan seringkali menjalankan misi-misi diplomatik rahasia di Asia Tenggara.
Brooks juga tercatat memiliki hubungan yang sangat baik dengan Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri. Ia bahkan berperan aktif dalam proses perdamaian di Aceh serta pengelolaan bantuan pasca-tsunami tahun 2004. Penguasaan bahasa Mandarin dan Thai semakin memperkuat posisinya sebagai pakar Asia yang sangat disegani oleh perusahaan-perusahaan multinasional di New York.
Saat ini, Brooks menjabat sebagai penasihat senior di TPG Capital, sebuah perusahaan ekuitas swasta raksasa dunia. Melalui lembaga The Rise Fund, ia mencoba mengintegrasikan isu-isu sosial ke dalam model bisnis yang menguntungkan. Namun, keterlibatannya dalam lobi-lobi di Way Kambas menunjukkan bahwa ia masih menggunakan metode diplomasi lama untuk menembus kebijakan pemerintah di negara-negara berkembang.
Tantangan Kedaulatan Lingkungan Indonesia
Publik kini menaruh perhatian besar pada langkah selanjutnya dari Presiden Prabowo Subianto dalam menanggapi tawaran dari Mantan Diplomat AS ini. Di satu sisi, Indonesia membutuhkan investasi asing untuk mendanai program-program lingkungan yang berbiaya mahal. Di sisi lain, kedaulatan atas sumber daya alam dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati tidak boleh menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan begitu saja.
Transparansi mengenai rencana pembangunan resor di Way Kambas menjadi hal yang sangat krusial saat ini. Pemerintah harus menjelaskan secara rinci mengenai dampak lingkungan jangka panjang dari kehadiran fasilitas mewah di tengah hutan. Jangan sampai ambisi untuk meraih devisa dari wisata eksklusif justru mengorbankan masa depan gajah Sumatera yang habitatnya semakin terjepit oleh pembangunan.
Sosok Karen Brooks merepresentasikan bagaimana kekuatan modal asing seringkali berkelindan dengan jaringan diplomatik tingkat tinggi. Mantan Diplomat AS ini memahami betul cara kerja kekuasaan di Indonesia dan menggunakannya untuk membuka pintu peluang bisnis. Kini, masyarakat menunggu apakah pemerintah akan memprioritaskan konservasi sejati atau justru tergiur dengan iming-iming investasi mewah yang Brooks tawarkan.
(Redaksi)


