Wamenko Pangan Soroti Impor Susu Nasional yang Tembus 80 Persen

POLITIKAL.ID – Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol membawa kabar kurang sedap mengenai ketahanan pangan tanah air. Hanif mengungkapkan bahwa angka impor susu nasional saat ini masih berada pada level yang sangat mengkhawatirkan. Pemerintah masih mendatangkan pasokan dari luar negeri demi memenuhi mayoritas kebutuhan konsumsi masyarakat di dalam negeri.
Hanif menyampaikan hal tersebut saat memantau langsung kondisi sebuah peternakan sapi di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Dia melihat kenyataan bahwa peternak lokal belum mampu mengejar ketertinggalan produksi harian mereka. Akibatnya, ketergantungan terhadap pasokan luar negeri terus mencengkeram pasar domestik hingga detik ini.
Pemerintah Dorong Solusi Tekan Impor Susu Nasional
Hanif mengakui bahwa produksi susu dalam negeri saat ini masih berjalan sangat lambat. Volume produksi peternak lokal belum sanggup mengimbangi laju permintaan konsumen yang terus meroket setiap tahun. Kondisi ini memaksa Indonesia untuk terus membuka keran perdagangan internasional demi mendatangkan produk susu dari negara lain.
“Kita pahami betul, bahwa produksi nasional kita masih jauh dari kebutuhan nasional. Gap yang cukup besar ini tentu harus segera dirumuskan oleh semua kementerian terkait,” ujar Hanif.
Dia juga menegaskan bahwa pemerintah memikul tanggung jawab besar untuk membenahi sengkarut ini. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor susu nasional mencerminkan rapuhnya kemandirian pangan sektor peternakan. Hanif menolak pasrah dan menuntut kementerian terkait untuk segera menyusun langkah taktis yang konkret.
Pemerintah merasa sangat prihatin melihat devisa negara terus mengalir keluar hanya untuk membeli susu. Hanif menyatakan ketidakikhlasannya jika pengusaha luar negeri menikmati kue ekonomi yang sangat besar ini. Dia ingin peternak lokal mengambil alih peran utama sebagai penyuplai utama pasar domestik.
Konsumsi Susu Indonesia Masih di Bawah Standar FAO
Kondisi pemenuhan gizi masyarakat Indonesia juga menghadapi tantangan yang tidak kalah berat. Hanif membeberkan fakta bahwa konsumsi susu per kapita penduduk Indonesia belum menyentuh standar Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Standar internasional menuntut pemenuhan gizi yang jauh lebih tinggi daripada capaian riil saat ini.
FAO menetapkan target bahwa setiap orang idealnya mengonsumsi minimal 30 kilogram susu per tahun. Sayangnya, data lapangan menunjukkan masyarakat Indonesia baru mengonsumsi sekitar 16,2 hingga 16,8 kilogram per kapita per tahun. Angka ini menegaskan bahwa tingkat konsumsi protein hewani masyarakat masih sangat rendah.
Jurang pemisah antara realisasi lapangan dan target FAO ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat menantang. Pemerintah harus melipatgandakan pasokan demi mengejar ketertinggalan gizi tersebut. Masalahnya, upaya mengejar standar FAO berpotensi melambungkan angka impor susu nasional jika produksi lokal tidak bergerak naik.
Akar Masalah Peternak Sapi di Cisarua Puncak
Dalam kunjungan kerja tersebut, para peternak lokal langsung menyampaikan berbagai keluhan krusial kepada Hanif. Masalah utama peternak berkutat pada keterbatasan lahan gembala dan minimnya ketersediaan tanaman pakan berkualitas. Faktor-faktor ini menghambat pertumbuhan populasi sapi perah dan menurunkan kualitas susu harian.
Selain pakan, peternak juga mengeluhkan masalah disparitas harga yang sangat tajam di pasar. Mereka mendapati perbedaan harga yang mencolok antara tingkat petani, koperasi, hingga pabrik pengolahan. Skema harga yang tidak adil ini menekan kesejahteraan peternakan rakyat dan mematikan motivasi mereka.
Kemenko Pangan berjanji akan segera merespons jeritan para peternak sapi perah ini secara cepat. Hanif berencana menggelar rapat koordinasi dengan para pejabat eselon 1, akademisi, dan tokoh peternakan setempat. Pertemuan ini bertujuan merumuskan cetak biru penyelesaian masalah dari hulu hingga hilir secara komprehensif.
Pemerintah juga mengusung misi besar untuk membangkitkan kembali kejayaan kawasan Cisarua, Puncak. Hanif optimis wilayah ini memiliki potensi besar sebagai sentra susu nasional yang mandiri dan modern. Revitalisasi kawasan Puncak diharapkan mampu menggenjot produksi lokal dan memangkas angka impor susu nasional secara signifikan di masa depan.
(Redaksi)

