Nasional

Pemerintah Dorong UMKM Tembus Pasar Global di Tengah Tekanan Nilai Tukar Rupiah

POLITIKAL.ID – Pemerintah terus memperkuat langkah strategis untuk menjaga kinerja ekspor nasional di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS.

Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi fokus utama dalam penguatan ekspor Indonesia.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa pemerintah tetap optimistis terhadap pertumbuhan ekspor nasional. Dan mendorong pelaku usaha untuk tidak berhenti mencari peluang baru di pasar internasional.

“Ekspor kita memang tumbuhnya masih positif. Jadi sampai dengan Maret ini memang 0,39 persen,” ujar Budi dalam konferensi pers di Jakarta.

UMKM Didorong Naik Kelas ke Pasar Global

Pemerintah menilai UMKM memiliki potensi besar untuk memperkuat struktur ekspor nasional. Namun, banyak pelaku usaha masih menghadapi kendala dalam memahami mekanisme perdagangan internasional. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha agar UMKM dapat naik kelas dan masuk ke pasar global secara berkelanjutan.

“Kita harapkan, dengan kondisi seperti ini, kita tetap tumbuh dengan baik. Pokoknya apapun kondisinya, kita harus terus mencari jalan keluar agar ekspor kita tetap berjalan, bahkan terus meningkat,” katanya.

Pemerintah juga aktif mempertemukan UMKM dengan berbagai program pelatihan dan pendampingan agar mereka lebih siap menghadapi persaingan global.

Standardisasi Produk dan Peningkatan Kualitas UMKM

Untuk meningkatkan daya saing, pemerintah mendorong standardisasi produk UMKM agar memenuhi persyaratan pasar internasional. Langkah ini mencakup peningkatan kualitas produk rumah tangga hingga usaha ritel kecil agar mampu bersaing di pasar ekspor.

“Teman-teman UMKM tadi mempunyai produk tapi belum tahu caranya ekspor. Jadi kita bareng-bareng. Setelah itu kita ada program UMKM Bisa Ekspor, kemudian juga ada pelatihan,” ujarnya.

Melalui pendekatan ini, pemerintah berupaya memastikan bahwa produk UMKM tidak hanya unggul secara lokal, tetapi juga mampu diterima di pasar global dengan standar yang lebih ketat.

“Walaupun produknya dari UMKM yang produk rumah tangga, ritel-ritel kecil, nanti kita standardisasi sehingga produk-produknya bisa masuk ke pasar ekspor,” katanya.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi UMKM adalah keterbatasan akses terhadap pembeli luar negeri. Banyak pelaku usaha belum mengetahui cara menjangkau buyer potensial di pasar internasional. Pemerintah kemudian memperkuat peran perwakilan dagang di berbagai negara untuk menjembatani kebutuhan tersebut.

“Keluhannya kebanyakan dari teman-teman ini enggak tahu caranya ekspor, bagaimana cara mencari buyer,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan itu, pemerintah mengembangkan program business matching yang mempertemukan UMKM dengan calon pembeli secara daring melalui jaringan perdagangan internasional Indonesia.

“Kita punya program UMKM Bisa Ekspor. Di dalam program itu ada business matching. Jadi teman-teman UMKM bisa jualan secara online, bisa business matching secara online melalui perwakilan kita,” terang Budi.

Dengan berbagai program pendampingan, pelatihan, dan fasilitasi akses pasar, pemerintah berharap UMKM dapat menjadi motor penggerak ekspor nasional yang lebih kuat. Strategi ini diharapkan mampu menjaga pertumbuhan ekspor tetap positif sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku usaha kecil untuk bersaing di tingkat global secara berkelanjutan.

(*)

Show More

Related Articles

Back to top button