Trump Desak Sekutu Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, Ketegangan Perang AS–Iran Kian Memanas

POLITIKAL.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan internasional terkait konflik dengan Iran. Ia meminta negara-negara sekutu, termasuk United Kingdom, untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz guna menjaga jalur pelayaran minyak tetap terbuka.
Permintaan itu muncul setelah Iran menutup selat strategis tersebut di tengah perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari lalu.
Trump menilai pengiriman armada militer internasional diperlukan untuk menjamin keamanan pelayaran global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Trump Dorong Koalisi Global Amankan Selat Hormuz
Dilansir BBC, Minggu (15/3/2026), Trump berharap sejumlah negara besar turut berpartisipasi dalam pengamanan jalur pelayaran tersebut. Ia menyebut China, France, Japan, South Korea, serta Inggris sebagai pihak yang terdampak langsung oleh situasi di Selat Hormuz.
Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menyatakan banyak negara akan mengirim kapal perang bersama AS.
“Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak oleh kendala buatan ini akan mengirimkan kapal ke daerah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman dari negara yang telah benar-benar dilumpuhkan,” ujar Trump.
Trump juga mengklaim bahwa kemampuan militer Iran telah hancur hampir sepenuhnya. Namun ia menilai Iran masih berpotensi melakukan serangan terbatas menggunakan drone, ranjau laut, atau rudal jarak pendek di sekitar jalur pelayaran.
“Sementara itu, Amerika Serikat akan membombardir garis pantai habis-habisan, dan terus menembak jatuh kapal-kapal Iran. Dengan satu atau lain cara, kita akan segera membuka, mengamankan, dan membebaskan Selat Hormuz,” tegasnya.
Iran Tetap Blokir Jalur Minyak Dunia
Pemerintah Iran sebelumnya menyatakan akan terus memblokir Selat Hormuz sebagai bagian dari respons terhadap serangan militer AS dan Israel.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global biasanya melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu.
Penutupan jalur ini, Tambahannya serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal tanker, memicu lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir.
Data dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebut sedikitnya 16 kapal mendapat serangan di dalam dan sekitar Selat Hormuz sejak perang bermula pada 28 Februari.
Inggris Bahas Opsi Pengamanan Bersama Sekutu
Menanggapi seruan Trump, Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan pihaknya tengah mendiskusikan berbagai langkah dengan sekutu untuk memastikan keamanan pelayaran di kawasan tersebut.
“Kami sedang membahas berbagai opsi dengan sekutu untuk memastikan keamanan pelayaran di kawasan tersebut,” kata pernyataan kementerian tersebut.
Sementara itu, satu-satunya kapal perang Inggris di wilayah tersebut, kapal perusak HMS Dragon (D35), Dalam laporan telah bergerak menuju Siprus untuk memperkuat pangkalan udara RAF Akrotiri yang sebelumnya menjadi target serangan drone.
Trump Ancam Targetkan Infrastruktur Minyak Iran
Di sisi lain, Trump juga memperingatkan Iran agar tidak mengganggu kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Ia bahkan mengancam akan menargetkan infrastruktur minyak penting Iran di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama negara tersebut.
Trump mengklaim militer AS telah menghancurkan sejumlah target militer di pulau kecil di lepas pantai Iran pada Jumat (13/3), yang ia sebut sebagai salah satu serangan bom paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah.
Sebagai balasan, militer Iran memperingatkan bahwa fasilitas energi milik Donald perusahaan yang bekerja sama dengan AS akan menjadi sasaran jika infrastruktur minyak Iran mendapat serangan.
Ketegangan yang terus meningkat di kawasan Teluk ini menimbulkan kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas pasokan energi dan keamanan jalur perdagangan internasional.
(Redaksi)
