OMC Samarinda Digelar 15–19 September untuk Hadapi Kemarau Panjang

POLITIKAL.ID – Pemerintah Kota Samarinda menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Samarinda pada 15–19 September 2026 untuk menghadapi kemarau panjang dan kekeringan. Pemerintah berharap operasi tersebut dapat membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.
Operasi berlangsung setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 20.00 waktu setempat. Pesawat pelaksana OMC akan beroperasi pada ketinggian sekitar 8.000 hingga 12.000 kaki.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan pemerintah tidak hanya mengandalkan teknologi modifikasi cuaca untuk menghadapi kondisi tersebut. Pemkot Samarinda menggabungkan berbagai langkah yang menyasar kebutuhan masyarakat, lingkungan, pertanian, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok.
“Kita menghadapi kemarau panjang dengan seluruh instrumen yang tersedia. Satgas terpadu kita gerakkan untuk Karhutla, distribusi air bersih, perlindungan pertanian dan pengendalian inflasi,” ujar Andi Harun.
OMC Samarinda Jadi Bagian Mitigasi Kemarau
Andi Harun menjelaskan OMC Samarinda menjadi salah satu bagian dari strategi mitigasi pemerintah menghadapi dampak kemarau panjang. Melalui operasi ini, pemerintah berupaya memanfaatkan kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan hujan.
Pemkot Samarinda juga memperkuat koordinasi dengan pihak yang berkaitan dengan aktivitas penerbangan selama operasi berlangsung. Pemerintah melibatkan otoritas Bandara A.P.T. Pranoto Samarinda, AirNav, serta Lanud Dhomber Balikpapan dalam koordinasi tersebut.
Koordinasi menjadi bagian penting karena pelaksanaan operasi melibatkan pesawat yang terbang pada ketinggian tertentu. Pemerintah ingin memastikan seluruh kegiatan berjalan dengan memperhatikan aktivitas penerbangan di wilayah tersebut.
Selain menjalankan operasi modifikasi cuaca, Pemkot Samarinda terus memantau perkembangan kondisi kemarau. Pemerintah juga menyiapkan langkah lain untuk mengantisipasi dampak yang dapat muncul apabila kondisi kering berlangsung lebih lama.
Satgas Terpadu Tangani Dampak Kekeringan
Pemkot Samarinda menggerakkan Satgas Terpadu untuk menangani berbagai persoalan akibat kemarau. Tim tersebut melibatkan unsur TNI-Polri, BNPB, BMKG, serta relawan.
Satgas menjalankan sejumlah tugas di lapangan. Salah satunya menangani kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla yang berpotensi meningkat ketika kondisi lingkungan semakin kering.
Pemerintah juga menyiapkan distribusi air bersih untuk membantu masyarakat yang menghadapi keterbatasan air. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kebutuhan dasar warga selama kemarau panjang.
Pada sektor pertanian, Pemkot Samarinda memberikan perhatian terhadap potensi gangguan produksi pangan. Pemerintah juga menjalankan langkah pengendalian inflasi untuk mengantisipasi tekanan terhadap harga kebutuhan pokok.
Andi Harun menegaskan pemerintah perlu bergerak sebelum situasi berkembang menjadi keadaan darurat. Karena itu, Pemkot Samarinda menjalankan berbagai langkah secara bersamaan dengan melibatkan sejumlah unsur.
Pemkot Siapkan Salat Istisqa dan Water Bombing
Selain pendekatan teknis, Pemkot Samarinda juga menempuh ikhtiar spiritual melalui Salat Istisqa. Pemerintah memandang upaya tersebut sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar hujan segera turun.
Pada sisi lain, pemerintah menyiapkan water bombing jika kondisi kebakaran membutuhkan dukungan penanganan dari udara. Langkah tersebut menjadi bagian dari kesiapan menghadapi potensi Karhutla selama periode kemarau.
Andi Harun menyebut kombinasi berbagai langkah tersebut menunjukkan mitigasi berjalan secara terpadu.
“Ikhtiar kita lengkap: manusia bekerja, teknologi digunakan, koordinasi diperkuat, dan kepada Allah SWT kita memohon pertolongan. Pemerintah tidak boleh menunggu keadaan menjadi darurat baru kemudian bergerak,” tegasnya.
Warga Samarinda Diminta Hemat Air
Andi Harun juga mengajak masyarakat mengambil bagian dalam menghadapi kemarau panjang. Ia meminta warga menghemat penggunaan air dan menjaga sumber air yang masih tersedia.
Selain itu, masyarakat perlu menghindari pembakaran terbuka. Kondisi lingkungan yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran apabila warga membakar sampah atau material lain secara sembarangan.
Warga juga perlu segera melaporkan titik api kepada petugas. Respons cepat masyarakat dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api meluas.
“Karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat untuk sama-sama mengambil peran dalam situasi saat ini,” kata Andi Harun.
Pemkot Samarinda berharap sinergi pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat dapat mengurangi dampak kemarau panjang. Pemerintah juga ingin memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama kondisi kering berlangsung.
(Redaksi)
