Jensen Huang Tolak Usulan Perlambatan Pengembangan AI demi Alasan Keselamatan
POLITIKAL.ID – CEO Nvidia Jensen Huang menolak usulan untuk menerapkan perlambatan pengembangan AI pada model kecerdasan buatan yang semakin canggih. Menurut Huang, perusahaan teknologi seharusnya mampu memastikan keamanan produk melalui proses rekayasa dan pengujian sebelum meluncurkannya.
Pernyataan tersebut muncul ketika industri teknologi menghadapi perdebatan mengenai cara mengendalikan risiko dari perkembangan AI. Perdebatan itu menguat setelah CEO Anthropic Dario Amodei mengusulkan koordinasi antarlaboratorium AI terkemuka.
Amodei mendorong perusahaan AI untuk mengatur laju pengembangan model tercanggih. Menurut dia, langkah tersebut dapat memberi perusahaan waktu tambahan untuk menguji dan mengamankan teknologi sebelum memasarkannya secara luas.
Jensen Huang Soroti Perlambatan Pengembangan AI
Huang mengakui perusahaan AI perlu memperhatikan keselamatan secara serius. Namun, ia menilai perusahaan tidak membutuhkan undang-undang atau aturan antimonopoli baru untuk memastikan produk mereka aman.
“Fakta bahwa kita seolah membutuhkan undang-undang baru, undang-undang antimonopoli baru, atau regulasi baru agar perusahaan-perusahaan ini dapat melakukan rekayasa fundamental dan mengerjakannya dengan benar sebelum merilis produk, itu benar-benar tidak diperlukan,” ujar Huang, seperti dikutip detikINET dari CNBC.
Huang menambahkan bahwa berbagai aturan mengenai keandalan dan fungsi produk sudah tersedia. Karena itu, ia mendorong perusahaan menggunakan proses internal untuk memastikan teknologi memenuhi standar keselamatan sebelum masuk ke pasar.
“Kita sudah punya banyak undang-undang. Kita punya banyak regulasi yang mengatur keandalan dan fungsionalitas produk,” katanya.
Pandangan tersebut berbeda dengan pendekatan yang Amodei tawarkan. CEO Anthropic itu mengusulkan tiga langkah untuk mengendalikan laju pengembangan AI terdepan.
Langkah pertama mencakup penempatan evaluator keselamatan pihak ketiga di setiap laboratorium AI. Selanjutnya, Amodei mendorong koordinasi demokratis dan global untuk menentukan standar keselamatan.
Langkah ketiga berkaitan dengan pembatasan tingkat kemajuan AI. Usulan tersebut bertujuan memberikan waktu lebih banyak kepada perusahaan dan regulator untuk memahami serta mengantisipasi risiko dari model yang semakin kuat.
Risiko Hukum Ikut Muncul
Perdebatan mengenai perlambatan pengembangan AI juga menyentuh persoalan hukum persaingan usaha. Laboratorium AI terkemuka saat ini saling bersaing dalam mengembangkan dan memasarkan model kecerdasan buatan.
Kesepakatan antara perusahaan yang menjadi pesaing untuk menentukan kecepatan pengembangan atau peluncuran produk dapat menimbulkan persoalan hukum. Di Amerika Serikat, UU Antimonopoli Sherman pada umumnya melarang kesepakatan antarpesaing yang secara tidak wajar membatasi persaingan.
Karena itu, koordinasi langsung mengenai kapan perusahaan harus mempercepat atau memperlambat pengembangan model AI dapat menghadirkan risiko hukum. Amodei bahkan menyebut pemerintah mungkin perlu menjadi mediator atau memberikan pengecualian tertentu dari aturan antimonopoli.
Huang mengambil pendekatan berbeda. Ia menyebut keselamatan sebagai persoalan rekayasa yang dapat perusahaan tangani melalui pengujian dan pengembangan produk.
“Keselamatan adalah masalah rekayasa teknik. Pengujian juga adalah masalah rekayasa,” ujar Huang.
Nvidia sendiri memiliki hubungan bisnis penting dengan industri AI. Anthropic dan OpenAI termasuk pelanggan penting Nvidia. Selain memasok teknologi komputasi untuk pengembangan AI, Nvidia juga mengembangkan keluarga model AI bernama Nemotron.
Nvidia Tetap Dorong Inovasi AI
Huang meminta perusahaan tidak meluncurkan produk yang belum memenuhi standar keamanan. Menurut dia, perusahaan dapat menunda peluncuran apabila proses pengujian belum selesai.
“Kita harus menciptakan produk dan mengujinya dengan benar. Dan jika belum siap dirilis, tahan saja dulu, terus lakukan pengujian dan terus lakukan rekayasa sampai produk tersebut benar-benar siap,” kata Huang.
Perkembangan AI yang pesat turut mendorong pertumbuhan Nvidia sebagai produsen chip. Ledakan permintaan terhadap teknologi AI menjadikan Nvidia salah satu perusahaan teknologi dengan nilai terbesar.
Karena itu, pembatasan laju pengembangan model AI berpotensi memengaruhi ekosistem industri yang menopang permintaan terhadap produk Nvidia. Meski demikian, Huang menegaskan keselamatan tetap menjadi bagian penting dalam proses inovasi.
“Keselamatan AI adalah hal nyata. Merekayasa produk agar aman digunakan oleh dunia, itu adalah hal yang nyata,” ujarnya.
Huang juga menolak pandangan bahwa perkembangan AI akan segera membawa ancaman eksistensial bagi manusia. Ia menyatakan optimistis para pengembang akan membangun sistem pengaman seiring kemajuan teknologi.
“Kita takkan mati pada tahun 2030,” kata Huang.
Ia menilai banyak pihak di dunia akan terus mengembangkan AI sekaligus membangun teknologi keselamatan dan keamanan. Menurut Huang, berbagai batasan pengaman akan berkembang bersamaan dengan kemampuan model AI.
(Redaksi)

