Iran Tahan Dua Kapal di Selat Hormuz, Tegaskan Kontrol di Tengah Ketegangan dengan AS

POLITIKAL.ID – Iran tahan dua kapal asing di jalur strategis Selat Hormuz pada Rabu (22/4), sekaligus menegaskan kontrolnya di tengah ketidakpastian gencatan senjata dengan Amerika Serikat.
Pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) langsung menghentikan, menguasai, lalu menggiring kedua kapal tersebut ke perairan Iran. Langkah ini muncul sehari setelah Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata secara sepihak.
IRGC Sebut Kapal Langgar Aturan
Media Tasnim News Agency melaporkan IRGC menemukan pelanggaran maritim pada dua kapal tersebut. Petugas menilai kapal tidak mengantongi izin yang diperlukan dan memanipulasi sistem navigasi saat melintasi Selat Hormuz.
IRGC mengidentifikasi kapal Epaminondas berbendera Liberia dan MSC Francesca berbendera Panama sebagai objek penindakan. Selain itu, IRGC menegaskan bahwa setiap gangguan terhadap keamanan selat akan langsung mereka anggap sebagai pelanggaran “garis merah”.Kapal Epaminondas Ditembaki, Perusahaan Angkat Bicara
Perusahaan Technomar Shipping mengonfirmasi insiden yang menimpa kapal Epaminondas. Mereka menyebut kapal menerima tembakan sekitar 20 mil laut di barat laut Oman sebelum akhirnya IRGC kuasai.
Serangan tersebut merusak bagian anjungan kapal. Namun, awak kapal tetap selamat tanpa korban luka.
Sementara itu, operator MSC Francesca belum memberikan tanggapan resmi. Di sisi lain, sumber keamanan maritim melaporkan kapal kontainer lain juga sempat menerima tembakan di area yang sama. Kapal itu tetap melanjutkan pelayaran karena tidak mengalami kerusakan.
Gencatan Senjata Tak Redam Ketegangan
Insiden ini langsung meningkatkan ketegangan meski status gencatan senjata masih berlangsung. Iran sebelumnya merespons blokade laut dan penyitaan kapal oleh Amerika Serikat dengan langkah serupa.
Pemerintah AS melalui Karoline Leavitt menyampaikan sikap resminya. Ia menilai penahanan kapal tidak melanggar kesepakatan gencatan senjata.
“Karena kapal-kapal itu bukan milik Amerika Serikat atau Israel, maka ini bukan pelanggaran gencatan senjata,” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap mengkritik tindakan Iran dan menyebutnya sebagai “pembajakan”. Ia juga menilai penggunaan kapal cepat bersenjata kecil menunjukkan kelemahan kekuatan laut Iran.
Iran Tegaskan Sikap, Tolak Tekanan AS
Di sisi lain, sikap Iran tahan dua kapal memperkuat posisinya. Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menilai gencatan senjata tidak akan efektif selama Amerika Serikat masih mempertahankan blokade laut.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz dalam kondisi tersebut.
“Anda tidak mencapai tujuan melalui agresi militer dan juga tidak akan mencapainya lewat intimidasi,” tulisnya.
Ia juga menambahkan bahwa solusi hanya bisa dicapai jika pihak lain mengakui hak-hak Iran secara adil.
Selat Hormuz Kembali Memanas
Selat Hormuz memegang peran vital dalam jalur distribusi energi global. Karena itu, setiap insiden di kawasan ini langsung memicu perhatian dunia.
Langkah Iran menahan kapal memperlihatkan bahwa ketegangan belum mereda. Sebaliknya, dinamika konflik justru bergeser ke jalur laut yang sangat strategis.
Hingga kini, belum ada kepastian terkait kelanjutan gencatan senjata. Kondisi ini membuat situasi kawasan tetap rentan dan sulit diprediksi.
Dengan perkembangan terbaru ini, dunia internasional terus memantau langkah berikutnya dari Iran dan Amerika Serikat, terutama terkait stabilitas di Selat Hormuz.
(Redaksi)


