Badan Geologi Bantah Video Viral Erupsi Gunung Anak Krakatau, Masyarakat Diminta Jangan Mudah Percaya Hoaks
POLITIKAL.ID – Maraknya video yang mengklaim memperlihatkan erupsi dahsyat Gunung Anak Krakatau di media sosial mendorong Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan klarifikasi. Lembaga tersebut memastikan video yang beredar bukan rekaman aktivitas terbaru Gunung Anak Krakatau dan termasuk informasi palsu atau hoaks.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan timnya telah memeriksa video yang viral dengan mencocokkannya terhadap data pemantauan gunung api. Hasil verifikasi menunjukkan rekaman tersebut tidak berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau yang saat ini masih berstatus Level III atau Siaga.
Lana meminta masyarakat lebih selektif saat menerima informasi yang beredar di media sosial. Ia juga mengimbau publik tidak ikut menyebarkan video yang belum memiliki sumber resmi.
“Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia,” ujar Lana dalam keterangan di Jakarta, Minggu.
Badan Geologi Pastikan Video Tidak Sesuai Kondisi Terkini
Video berdurasi kurang dari satu menit itu menampilkan dua orang yang merekam letusan gunung dari atas kapal. Rekaman tersebut juga memperlihatkan kilatan cahaya sehingga memunculkan anggapan telah terjadi erupsi besar.
Namun, Badan Geologi tidak menemukan kesesuaian antara isi video dengan hasil pemantauan lapangan. Tim vulkanologi memastikan aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir masih tergolong normal sesuai status yang berlaku.
Karena itu, Badan Geologi menegaskan video tersebut tidak dapat dijadikan acuan untuk menggambarkan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini.
Gunung Anak Krakatau Hanya Mengalami Erupsi Kecil
Berdasarkan hasil pengamatan petugas, Gunung Anak Krakatau hanya mencatat dua kali erupsi kecil dalam beberapa hari terakhir.
Erupsi pertama terjadi pada Kamis (2/7) pukul 14.05 WIB. Selanjutnya, erupsi kedua berlangsung pada Jumat (3/7) pukul 11.50 WIB.
Kedua kejadian tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 200 meter dari puncak gunung. Aktivitas itu masih sesuai dengan hasil pemantauan rutin Badan Geologi.
Petugas terus mengawasi perkembangan Gunung Anak Krakatau selama 24 jam. Pemerintah akan segera mengumumkan setiap perubahan aktivitas melalui saluran resmi.
Radius Bahaya Tetap Tiga Kilometer
Selain meluruskan video viral, Badan Geologi juga membantah kabar mengenai perubahan radius aman Gunung Anak Krakatau.
Beberapa unggahan di media sosial menyebut pemerintah telah memperluas zona bahaya hingga lima kilometer. Lana memastikan informasi tersebut tidak benar.
Pemerintah masih menetapkan rekomendasi radius aman sejauh tiga kilometer dari pusat erupsi. Ketentuan itu berlaku selama status gunung berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat, wisatawan, pendaki, dan nelayan tidak boleh memasuki kawasan tersebut. Larangan itu bertujuan mengurangi risiko akibat lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas, maupun hujan abu.
Warga Diminta Mengacu pada Informasi Resmi
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung agar tidak mudah percaya terhadap isu yang mengaitkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunami.
Menurut Lana, pemerintah terus memantau perkembangan gunung api tersebut secara berkala. Semua hasil pemantauan disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan aplikasi MAGMA Indonesia.
Ia meminta masyarakat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari sambil mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) apabila terjadi perubahan kondisi.
Lana berharap masyarakat semakin bijak menyaring informasi sebelum membagikannya. Langkah tersebut dapat mencegah penyebaran hoaks erupsi Gunung Anak Krakatau sekaligus menghindari kepanikan yang tidak perlu. Dengan mengandalkan informasi resmi, masyarakat dapat memperoleh perkembangan terbaru yang akurat mengenai aktivitas gunung api tersebut.
(Redaksi)
