ANTAM Kembangkan Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas melalui Pengelolaan Sampah

POLITIKAL.ID – PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) memperkuat penerapan ekonomi hijau dengan mengembangkan ekonomi sirkular berbasis komunitas di sekitar wilayah operasional perusahaan. ANTAM menghubungkan pengelolaan sampah dengan pemberdayaan masyarakat melalui fasilitas pengolahan sampah di Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Pada Juli 2026, ANTAM melalui Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Nikel Kolaka menghadirkan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Pomalaa. Perusahaan juga menghadirkan teknologi pengolahan sampah untuk mendukung kegiatan tersebut.
Fasilitas tersebut mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari sumbernya. Masyarakat juga dapat menggunakan kembali dan mendaur ulang sampah untuk mengurangi beban lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi.
ANTAM Dorong Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas
ANTAM mengembangkan pengelolaan sampah dengan melibatkan masyarakat sebagai bagian penting dari proses tersebut. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah, tetapi juga menghubungkan kegiatan lingkungan dengan manfaat ekonomi.
Keterlibatan komunitas dapat membentuk pola pengelolaan sampah yang lebih produktif dan berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, ANTAM mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi sirkular di sekitar wilayah operasional pertambangan.
Konsep ekonomi sirkular memanfaatkan kembali material yang sebelumnya masuk ke aliran sampah. Masyarakat dapat memilah material sejak awal sehingga proses pemanfaatan kembali dan daur ulang berjalan lebih efektif.
ANTAM juga mengintegrasikan agenda pengelolaan lingkungan dengan program pemberdayaan masyarakat. Langkah tersebut memperkuat upaya perusahaan untuk menciptakan manfaat sosial dan ekonomi dari program keberlanjutan.
Konservasi Keanekaragaman Hayati di Wilayah Operasional
Sebagai bagian dari BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID, ANTAM juga menjalankan kebijakan konservasi keanekaragaman hayati. Perusahaan menerapkan strategi tersebut untuk menjaga ekosistem di sekitar wilayah operasional tambang.
Dua lokasi operasional ANTAM, yakni UBP Emas dan UBP Nikel Maluku Utara, berada berdekatan dengan kawasan yang berstatus dilindungi. Kondisi tersebut mendorong perusahaan menjalankan berbagai program konservasi.
Program tersebut mencakup konservasi jalak putih, burung paruh bengkok, penangkaran rusa timor, program penetasan telur komodo atau Hachiko Eggs, serta penanaman bakau.
Pada 2024, ANTAM juga menjalankan berbagai inisiatif konservasi. Di UBP Emas, perusahaan melakukan konservasi in situ dan regenerasi palahlar (Dipterocarpus hasseltii) hingga mencapai 240 pohon.
Di UBP Nikel Kolaka, ANTAM merehabilitasi lahan pesisir dengan menanam 60.000 mangrove. Penambahan tersebut membuat total mangrove yang telah ditanam mencapai 1 juta pohon.
Sementara itu, UBP Bauksit Kalimantan Barat menjalankan konservasi tanaman endemik ulin menggunakan metode Rotalin hingga mencapai 603 pohon. UBP Nikel Maluku Utara juga menjalankan program konservasi burung gosong kelam (Megapodius freycinet) hingga mencapai 22 ekor.
ANTAM Raih Anugerah Ekonomi Hijau 2026
Berbagai program tersebut turut mengantarkan ANTAM meraih Anugerah Ekonomi Hijau 2026 yang kembali digelar detikcom. Penghargaan tersebut memberikan apresiasi kepada korporasi, lembaga, dan organisasi yang menunjukkan kepedulian terhadap aspek environmental, social, and governance (ESG).
Panitia memberikan penghargaan berdasarkan program yang memberikan dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat serta pemangku kepentingan. Salah satu rumpun nominasi dalam ajang tersebut mengangkat tema Pengembangan Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas.
Komite Asesmen detikcom melakukan penilaian melalui analisis kualitatif terhadap berbagai inisiatif dan program peserta. Komite menilai dampak program sekaligus komitmen peserta terhadap keberlanjutan.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI (KLH/BPLH) Mohammad Jumhur Hidayat turut menghadiri acara tersebut. Dalam kesempatan itu, Jumhur menyoroti persoalan pengelolaan sampah nasional.
Menurut data 2026 yang disampaikan Jumhur, Indonesia menghasilkan sekitar 51 juta ton sampah setiap tahun. Namun, baru sekitar 26 persen sampah tersebut yang terkelola.
Jumhur menilai dunia usaha perlu melihat pemulihan ekosistem bukan hanya sebagai biaya. Menurutnya, kebutuhan pemulihan lingkungan dapat menciptakan investasi, inovasi, pasar baru, dan lapangan kerja hijau.
Ia menyebut sejumlah sektor yang berpotensi tumbuh dari kebutuhan tersebut. Sektor itu mencakup penyediaan bibit dan nursery, teknologi monitoring, pengolahan air dan limbah, industri daur ulang, ecological engineering, jasa reklamasi, pemulihan daerah aliran sungai, hingga pembiayaan restorasi.
Jumhur juga mendorong pelaku industri bergerak lebih jauh dari sekadar memenuhi regulasi. Ia mengajak perusahaan membangun peran sebagai pemimpin dalam pemulihan lingkungan.
Anugerah Ekonomi Hijau 2026 turut dihadiri Chairman CT Corp Chairul Tanjung dan Pemimpin Redaksi detikcom Ardhi Suryadhi.
(Redaksi)
