Daerah

Aruh Ganal Budaya Banjar, Merawat Warisan Leluhur di Tengah Kota yang Beragam

POLITIKAL.ID – Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri mengajak masyarakat menjadikan Aruh Ganal Budaya Banjar (AGBB) ke-3 Tahun 2026 sebagai momentum memperkuat persatuan, menjaga warisan budaya, sekaligus mengenalkan identitas Banjar kepada generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi.

Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut menghadirkan berbagai tradisi khas Banjar. Para peserta tampak mengenakan pakaian adat Banjar dengan beragam corak dan warna khas. Berbagai kesenian tradisional turut ditampilkan, mulai dari Hadrah, Japin, Madihin, Ba Syair Banjar hingga Tutur Dalang. Suasana semakin semarak dengan alunan alat musik tradisional serta sajian aneka kuliner khas Banjar yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Samarinda Tumbuh dalam Keberagaman

Dalam sambutannya, Saefuddin mengatakan Samarinda tumbuh dan berkembang sebagai kota  dari keberagaman suku, budaya, bahasa, dan tradisi. Keberagaman tersebut menjadi kekuatan yang selama ini menjaga keharmonisan masyarakat Kota Tepian.

Menurutnya, masyarakat Banjar memiliki peran penting dalam perjalanan panjang pembangunan Samarinda, mulai dari sektor perdagangan, pendidikan, sosial kemasyarakatan hingga perkembangan budaya daerah.

“Budaya Banjar bukan hanya bagian dari sejarah Samarinda, tetapi juga bagian dari identitas kota ini. Nilai-nilai religius, gotong royong, kesantunan, serta penghormatan terhadap adat istiadat yang dari para leluhur merupakan kekayaan yang harus terus kita jaga bersama,” ujarnya.

Ruang Silaturahmi dan Edukasi Budaya

Saefuddin menilai Aruh Ganal Budaya Banjar bukan sekadar perayaan budaya atau hiburan masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat sekaligus menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda.

“Melalui kegiatan ini kita tidak hanya menikmati kesenian dan tradisi, tetapi juga sedang merawat ingatan kolektif tentang siapa kita dan dari mana kita berasal,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya pembangunan fisik kota. Melainkan menjaga agar generasi muda tetap mengenal akar budayanya sendiri.

“Anak-anak kita hari ini sangat dekat dengan teknologi dan budaya global. Itu tidak salah. Tetapi mereka juga harus tahu sejarahnya, mengenal budayanya, memahami nilai-nilai leluhurnya agar tidak kehilangan jati diri,” tegasnya.

Menurut Saefuddin, budaya lokal harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dan maknanya. Karena itu, pelestarian budaya tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab komunitas adat atau pelaku seni, tetapi memerlukan dukungan seluruh masyarakat.

“Kalau bukan kita yang menjaga budaya kita sendiri, lalu siapa lagi? Budaya akan tetap hidup apabila diwariskan, dipraktikkan, dan dicintai oleh generasi penerus,” ucapnya.

Ia juga mengapresiasi seluruh rangkaian kegiatan budaya yang ditampilkan dalam Aruh Ganal Budaya Banjar tahun ini. Menurutnya, berbagai tradisi seperti Bapalas dan Hadrah, Tapung Tawar, Japin, Kuda Gipang, Usung Pengantin, Madihin, Ba Syair Banjar hingga Tutur Dalang merupakan warisan budaya yang sarat makna.

Kekayaan Kuliner dan Tradisi Banjar

Selain pertunjukan seni, pengunjung juga di suguhkan berbagai makanan khas Banjar yang memperkenalkan kekayaan kuliner daerah kepada masyarakat luas. Kehadiran busana adat, alat musik tradisional, kesenian rakyat hingga kuliner khas menjadi gambaran utuh kekayaan budaya Banjar yang masih terjaga hingga saat ini.

“Setiap tradisi yang ditampilkan hari ini bukan sekadar pertunjukan. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, nilai religius, serta semangat menjaga persatuan dalam keberagaman,” katanya.

Saefuddin berharap Aruh Ganal Budaya Banjar dapat terus berkembang dan menjadi agenda budaya tahunan yang semakin besar setiap tahunnya.

“Insya Allah kegiatan seperti ini harus terus kita dukung. Saya berharap Aruh Ganal Budaya Banjar tidak hanya dikenal di Samarinda, tetapi juga menjadi salah satu agenda budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat Kalimantan bahkan tingkat nasional,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Saefuddin mengajak seluruh masyarakat menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bersama dalam membangun Samarinda.

“Perbedaan suku, budaya, dan tradisi bukan alasan untuk terpisah. Justru keberagaman itulah yang membuat Samarinda menjadi kota yang kaya, kuat, dan harmonis. Mari kita rawat persatuan, menjaga budaya, dan bersama-sama membangun Samarinda yang semakin maju,” pungkasnya.

(*)

Show More

Related Articles

Back to top button