Unik! Gapura Kerajaan China dari Bambu Berdiri di Sungai Mariam, Jalan Kampung Dipenuhi Sayuran
POLITIKAL.ID – Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Sungai Mariam, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, tidak hanya diwarnai pemasangan ornamen merah putih.
Warga RT 11, Dusun 3, justru memanfaatkan momentum kemerdekaan untuk mengubah lingkungan tempat tinggal mereka menjadi kawasan yang lebih hijau, produktif, sekaligus edukatif.
Sepanjang jalan permukiman, warga menanam berbagai jenis tanaman pangan. Cabai, terong, tomat, pepaya hingga sejumlah sayuran lainnya tumbuh di sisi jalan dan menjadi bagian dari penataan lingkungan menyambut peringatan HUT RI ke-81.
Di tengah kawasan tersebut, warga juga membangun sebuah gapura dengan desain yang cukup unik. Bentuknya mengadopsi konsep gerbang kerajaan China, namun tetap menggunakan bambu sebagai material utama.
Gapura itu dikerjakan secara bergotong royong oleh warga dengan mengandalkan swadaya masyarakat.
Kepala Desa Sungai Mariam, Indra Lesmana, mengatakan kreativitas warga tersebut menjadi gambaran bahwa perayaan kemerdekaan tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan seremonial.
“Yang menarik dari warga RT 11 ini, mereka tidak hanya membuat gapura untuk memeriahkan HUT RI. Lingkungannya juga ditata, ditanami berbagai tanaman pangan, kemudian ada pemanfaatan bahan daur ulang,” ujar Indra.
Menurutnya, konsep yang diterapkan warga memiliki nilai lebih karena memberikan manfaat langsung bagi lingkungan.
Tanaman yang ditanam di sepanjang jalan tidak hanya berfungsi sebagai penghijauan, tetapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.
Semangat tersebut sekaligus menunjukkan kepedulian warga terhadap ketahanan pangan di tingkat lingkungan.
Kreativitas warga juga terlihat dari pemanfaatan barang-barang bekas sebagai bahan dekorasi gapura. Material yang sebelumnya dianggap sebagai sampah diolah kembali menjadi ornamen untuk mempercantik lingkungan.
Konsep daur ulang itu dinilai menjadi pesan sederhana agar masyarakat mulai melihat sampah bukan semata sebagai barang buangan.
Tidak berhenti pada persoalan lingkungan, warga juga menghadirkan unsur edukasi melalui papan informasi yang memuat 10 Program Pokok PKK.
Papan tersebut menjadi media bagi masyarakat untuk mengenal kembali program-program pemberdayaan keluarga yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Indra menyebut seluruh konsep tersebut lahir dari kreativitas warga sendiri.
Pemerintah desa, kata dia, memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengembangkan gagasan selama memberikan dampak positif bagi lingkungan.
“Semua dilakukan dengan gotong royong dan swadaya masyarakat. Ini menunjukkan bagaimana masyarakat bisa bergerak bersama ketika memiliki rasa memiliki terhadap lingkungannya,” katanya.
Bagi Indra, semangat seperti inilah yang menjadi salah satu nilai penting dalam peringatan kemerdekaan.
Kemerdekaan tidak hanya dimaknai dengan memasang bendera atau menggelar perlombaan, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat untuk bekerja sama dan membangun lingkungan secara mandiri.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah perayaan HUT RI selesai.
“Harapan kami bukan hanya bagus saat dinilai atau saat perayaan saja. Tanaman yang sudah ditanam bisa terus dirawat, lingkungan tetap dijaga, dan semangat gotong royongnya terus berjalan,” ungkapnya.
Kawasan RT 11 Dusun 3 Desa Sungai Mariam akhirnya menjadi contoh bahwa kreativitas warga dapat mengubah momentum perayaan kemerdekaan menjadi gerakan kecil yang memiliki banyak manfaat.
Gapura menjadi simbolnya, tetapi gotong royong, ketahanan pangan, kepedulian lingkungan, dan edukasi masyarakat menjadi nilai utama yang dibangun warga.
(Redaksi)