Dukung Pertumbuhan Industri Film Kreatif, Dispar Kutim Siapkan Pelatihan Sinematografi hingga Editing

POLITIKAL.ID – Kutai Timur (Kutim) kini mencatat lonjakan aktivitas film dan videografi yang signifikan.
Generasi muda daerah ini aktif memproduksi karya, yang tidak hanya bertambah jumlahnya, tetapi juga berhasil menembus kurasi festival nasional.
Fenomena ini menandai munculnya basis kreatif baru yang berpotensi menjadi motor pertumbuhan ekonomi kreatif (ekraf) daerah.
Meskipun infrastruktur pendukung masih terbatas, semangat komunitas tetap menjadi penggerak utama.
Mereka bekerja dengan modal pribadi, menggunakan kamera sederhana, perangkat audio terbatas, dan ruang editing seadanya.
Hasilnya, karya-karya mereka mampu bersaing secara nasional.
Pemerintah Prioritaskan Film dalam Ekonomi Kreatif
Melihat potensi besar subsektor film, Dinas Pariwisata (Dispar) Kutim menempatkannya sebagai salah satu dari lima prioritas ekraf unggulan.
Dispar menyadari bahwa semangat komunitas harus didukung dengan struktur yang lebih kokoh.
“Subsektor film tidak cukup hanya didorong oleh semangat komunitas. Dibutuhkan pelatihan standar, ruang berkarya, dan program yang berkelanjutan agar generasi muda bisa berkembang profesional,” ujar Kabid Ekraf Dispar Kutim, Ahmad Rifanie.
Disampaikannya, pihaknya kini tengah menggodok intervensi ekosistem untuk mendukung pertumbuhan industri film.
Rancangan ini mencakup pelatihan sinematografi, penulisan skenario, dan editing.
Selain itu, Dispar Kutim menyiapkan ruang pemutaran film yang dapat digunakan secara berkala.
Langkah ini bertujuan memberi fasilitas bagi sineas muda untuk berkarya dan menampilkan karyanya kepada publik.
Lebih dari itu, film akan dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi komunikasi pariwisata Kutim.
Dengan cara ini, karya lokal tidak hanya berfungsi sebagai media kreatif, tetapi juga sarana promosi destinasi dan budaya daerah.
Film sebagai Mesin Ekonomi Kreatif
Film memiliki daya tarik strategis dalam ekonomi kreatif karena menciptakan rantai nilai yang panjang.
Proses produksi konten, distribusi, hingga konsumsi karya membuka peluang ekonomi baru bagi tenaga muda kreatif.
Dispar melihat subsektor ini sebagai cara membentuk identitas ekonomi baru yang berbasis kreativitas lokal.
Selain itu, industri film menawarkan kesempatan bagi pengembangan karier profesional bagi generasi muda.
Dengan dukungan pelatihan dan fasilitas yang memadai, mereka dapat mengasah kemampuan teknis, mengembangkan jaringan, dan meningkatkan kualitas karya sehingga mampu bersaing secara nasional maupun internasional. (adv)
