Hujan Deras Jadi Kunci Redam Karhutla Kalimantan Barat, BNPB Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca

POLITIKAL.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian karena mencatat luasan kebakaran terbesar di antara lima provinsi prioritas penanganan karhutla.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan hujan deras dapat membantu mengurangi asap dan kabut akibat karhutla. Menurutnya, kondisi asap yang masih pekat berpotensi membaik ketika wilayah terdampak mendapat curah hujan yang cukup tinggi.
Suharyanto menyampaikan hal tersebut dalam rapat penanganan karhutla di Lanud Supadio, Kalimantan Barat, Jumat, 4 September 2026. Ia berharap kondisi cuaca segera mendukung upaya pemadaman yang saat ini terus dilakukan oleh berbagai unsur di lapangan.
Karhutla Kalimantan Barat Catat 61 Titik Api
BNPB mencatat 106 titik panas atau hotspot di Kalimantan Barat. Namun, Suharyanto mengingatkan bahwa keberadaan hotspot tidak otomatis menunjukkan terjadinya kebakaran.
Tim gabungan kemudian melakukan patroli melalui jalur darat dan udara untuk memastikan kondisi di lapangan. Dari hasil pemantauan tersebut, petugas menemukan 61 titik api atau fire spot.
Data BNPB juga mencatat sekitar 802,17 hektare lahan terbakar. Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang harus dihadapi satuan tugas dalam mengendalikan karhutla di Kalimantan Barat.
Suharyanto menjelaskan bahwa petugas telah berhasil memadamkan sekitar 432,90 hektare dari total area yang terbakar. Satuan tugas darat memberikan kontribusi terbesar dalam proses pemadaman tersebut.
Ia menyebut sekitar 429,90 hektare lahan berhasil dipadamkan melalui operasi satuan tugas darat. Upaya tersebut melibatkan berbagai unsur yang bekerja di lapangan untuk mengendalikan titik api dan mencegah perluasan kebakaran.
BNPB Harapkan Operasi Modifikasi Cuaca Segera Berjalan
Selain mengandalkan pemadaman langsung, pemerintah juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi tersebut bertujuan memanfaatkan potensi awan hujan untuk membantu meningkatkan curah hujan di wilayah yang membutuhkan.
Suharyanto mengatakan dirinya memperoleh informasi dari Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengenai potensi awan hujan di Kalimantan Barat pada awal September. Pemerintah kemudian berharap pelaksanaan OMC dapat berlangsung dalam periode 4 hingga 10 September 2026.
BNPB melihat potensi hujan sebagai salah satu faktor penting dalam pengendalian karhutla. Curah hujan yang tinggi dapat membantu membasahi lahan, mengurangi potensi penyebaran api, serta menekan konsentrasi asap di wilayah terdampak.
Meski demikian, pemerintah tetap membutuhkan operasi pemadaman dari darat dan udara. Tim di lapangan harus terus memantau titik api karena perubahan kondisi cuaca dapat memengaruhi perkembangan kebakaran.
Asap Karhutla Mulai Bergerak ke Arah Utara
Selain persoalan pemadaman, BNPB juga menyoroti pergerakan asap karhutla dari Kalimantan menuju wilayah utara. Arah angin turut memengaruhi penyebaran asap hingga melewati wilayah Indonesia.
Suharyanto mengatakan Kementerian Luar Negeri sebelumnya meminta penjelasan mengenai informasi masuknya asap ke negara tetangga. Pemerintah kemudian memberikan penjelasan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan arah pergerakan angin.
Situasi ini membuat pengendalian karhutla tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan di daerah yang mengalami kebakaran. Pemerintah juga perlu memperhatikan dampak asap terhadap wilayah lain yang berada di sekitar kawasan terdampak.
BNPB bersama pemerintah daerah dan satuan tugas terus melakukan pemantauan untuk mempercepat pengendalian kebakaran. Pemerintah juga mendorong masyarakat agar ikut mencegah munculnya titik api baru.
Dengan dukungan cuaca yang lebih basah, operasi pemadaman darat, pemantauan udara, serta rencana OMC, pemerintah berharap karhutla di Kalimantan Barat dapat segera terkendali. Pemantauan tetap menjadi bagian penting karena kondisi kebakaran dapat berubah mengikuti cuaca, arah angin, dan kondisi lahan.
(Redaksi)

