Polisi Sita Aset Rp476 Miliar, Geledah 12 Lokasi Terkait Korupsi PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel
POLITIKAL.ID – Tim Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipidkor) Polri bersama Polda Metro Jaya menggeledah 12 lokasi di wilayah Jabodetabek dalam penyidikan tiga perkara dugaan korupsi yang melibatkan PT PLN (Persero), PT ASABRI (Persero), dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Dari rangkaian penggeledahan itu, polisi menyita aset berupa emas batangan dan uang tunai dengan nilai mencapai sekitar Rp476 miliar.
Kepala Kortas Tipidkor Polri Irjen Totok Suharyanto mengatakan penyidik menemukan barang bukti terbesar saat menggeledah sebuah rumah di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor. Di lokasi tersebut, petugas membongkar sebuah brankas rahasia yang tersembunyi di balik dinding kamar lantai dua.
“Setelah dibuka ditemukan tujuh koper. Isinya 74 kilogram emas batangan, kemudian USD 4.767.300, SGD 14.083.800, serta uang tunai Rp100 juta. Total estimasi nilainya sekitar Rp476 miliar,” kata Totok di Perumahan Bogor Golf Hijau, Kamis (9/7) dini hari.
Totok menegaskan penyidik masih mendalami kepemilikan rumah maupun keterkaitan seluruh aset yang disita dengan tiga perkara korupsi tersebut.
“Masih dalam proses pendalaman oleh penyidik. Secara detail akan kami sampaikan setelah seluruh proses penyidikan dilakukan,” ujarnya.
Polisi Geledah 12 Lokasi
Selain rumah di Sentul, penyidik juga menggeledah 11 lokasi lain yang diduga berkaitan dengan aliran dana hasil tindak pidana korupsi.
Adapun lokasi yang digeledah meliputi:
- PT CBS di Cengkareng Timur, Jakarta Barat;
- Kantor Pusat PT CBS di Penjaringan, Jakarta Utara;
- PT KNI di Petojo Selatan, Jakarta Pusat;
- Rumah berinisial MN di Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan;
- Kafe de’Clan Signature di Cipete, Jakarta Selatan;
- Koin Money Changer di Cipete Selatan, Jakarta Selatan;
- Rumah berinisial TK di Mega Kuningan, Jakarta Selatan;
- Kantor/Grup DMG/CP di Kuningan, Jakarta Selatan;
- PT PML di Karet Kuningan, Jakarta Selatan;
- Rumah berinisial DR di Gandaria Selatan, Jakarta Selatan;
- Rumah berinisial MILDK di Apartemen Pacific Place, Jakarta Selatan; dan
- Rumah di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Polisi menyasar kantor perusahaan, tempat usaha, money changer, apartemen, kafe, hingga rumah pribadi dalam operasi serentak yang berlangsung pada Rabu (8/7).
Dari seluruh lokasi tersebut, rumah di Sentul menjadi lokasi dengan temuan barang bukti terbesar. Setelah membuka brankas rahasia, penyidik menemukan tujuh koper yang berisi 74 kilogram emas batangan, USD 4.767.300, SGD 14.083.800, serta uang tunai Rp100 juta.
Selanjutnya, personel Brimob mengawal barang bukti menggunakan kendaraan taktis menuju Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Polisi juga mengamankan seorang yang kemudian dibawa ke gedung tersebut untuk kepentingan penyidikan.
Brankas Disembunyikan di Balik Dinding
Polisi melibatkan ahli kunci untuk membuka brankas karena memiliki sistem pengamanan ganda. Ahli kunci bernama Roy menjelaskan, brankas tersebut menggunakan kombinasi kunci putar dan kunci manual dengan lapisan baja yang tebal.
“Brankasnya kualitas premium. Sistem pengamanannya menggunakan kombinasi putar dan kunci manual. Setelah membuka kunci manual, petugas menggunakan mesin pemotong. Prosesnya sekitar 15 menit,” kata Roy.
Ia menjelaskan brankas itu bukan berbentuk kotak besi biasa. Pemilik rumah menyamarkannya sebagai bagian dari dinding kamar sehingga sulit dikenali.
“Posisinya di lantai dua, tertutup seperti lemari. Di balik pintunya ada ruangan penyimpanan sekitar 1,5 meter dan di dalamnya terdapat beberapa koper,” ujarnya.
Penyidikan Jadi Atensi Presiden
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan pengusutan dugaan korupsi tersebut menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, penyidik mengusut dugaan suap, gratifikasi, dan tindak pidana pencucian uang yang berkaitan dengan perkara di PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel.
“Penggeledahan ini merupakan bagian dari proses penyidikan untuk mencari dan mengumpulkan alat bukti. Dugaan tindak pidana yang kami selidiki meliputi suap, gratifikasi, dan pencucian uang,” kata Budi.
Ia menambahkan, penyidik juga mengusut dugaan korupsi pengadaan batu bara di PLN yang diduga berkaitan dengan peristiwa blackout di Sumatera beberapa waktu lalu. Hingga kini, polisi masih menelusuri asal-usul aset yang disita serta kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam tiga perkara tersebut.
(Redaksi)




