Umat Buddha di Samarinda Berbagi Berkah Ramadan, Ratusan Warga Buka Puasa Bersama di Maha Vihara Sejahtera Maitreya

POLITIKAL.ID – Di Halaman Buddhist Center Maha Vihara Sejahtera Maitreya di kawasan Jalan D.I. Panjaitan, Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang, Senin (17/3/2026), tampak berbeda dari biasanya. Ratusan warga dari berbagai latar belakang berkumpul, menunggu waktu berbuka puasa dalam suasana hangat penuh kebersamaan.
Di tempat yang identik dengan aktivitas keagamaan umat Buddha itu, anak-anak yatim piatu, marbot masjid, hingga petugas pembersih parit dari Dinas PUPR duduk berdampingan menikmati hidangan berbuka.
Menu yang disajikan sederhana namun sarat makna. Panitia menyediakan makanan vegetarian yang sehat dan halal, sehingga dapat dinikmati semua kalangan tanpa memandang agama.
Umat Buddha Hadirkan Kebersamaan di Bulan Ramadan
Pada momen tersebut, umat Buddha di Samarinda mengambil bagian dalam keberkahan bulan suci Ramadan. Mereka tidak hanya menyiapkan hidangan berbuka, tetapi juga berbagi santunan dan membuka ruang kebersamaan bagi warga Muslim yang menjalankan ibadah puasa.
Ketua panitia kegiatan, Pandita Hendri Suwito, menegaskan bahwa kegiatan ini telah menjadi agenda rutin sejak tahun 2010.
“Tujuan kami hanya satu, bagaimana toleransi antarumat beragama, kerukunan, dan keakraban dengan masyarakat sekitar bisa terus terjalin tanpa sekat,” ujar Hendri.
Ia menilai, berbagi di bulan Ramadan menjadi cara sederhana namun efektif untuk mempererat hubungan antarwarga di tengah keberagaman Kota Samarinda.
Ratusan Paket Bantuan Disalurkan untuk Warga
Pada kegiatan tahun ini, Buddhist Center menyalurkan hampir 520 paket bantuan. Bantuan tersebut diberikan kepada anak-anak yatim piatu di Kelurahan Mugirejo, para pembersih jalan, pengangkut sampah, serta petugas pembersih parit.
Hendri menegaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar aksi sosial, tetapi juga simbol kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk saling peduli. Justru melalui kegiatan seperti ini kita semakin dekat sebagai sesama warga,” katanya.
Pemkot Samarinda Apresiasi Tingginya Toleransi Antarumat
Suasana kebersamaan itu mendapat apresiasi dari Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, aksi berbagi yang dilakukan umat Buddha di tengah bulan Ramadan menjadi contoh nyata toleransi dalam kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan ini sangat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Samarinda memiliki semangat kebersamaan dan toleransi yang sangat kuat,” ujar Saefuddin.
Ia menilai kehadiran berbagai kelompok masyarakat dalam satu kegiatan sosial menjadi bukti bahwa keberagaman di Kota Samarinda dapat dirawat dengan baik melalui kepedulian.
“Ini bukan hanya tentang berbuka puasa bersama, tetapi juga tentang bagaimana kita saling menghormati dan saling mendukung di tengah perbedaan,” katanya.
Saefuddin menambahkan, semangat seperti ini menjadi kekuatan utama dalam menjaga keharmonisan masyarakat di kota yang dihuni berbagai suku, budaya, dan agama.
“Kita berharap nilai-nilai seperti ini terus hidup di masyarakat. Toleransi tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir dalam tindakan nyata,” ujarnya.
Momen Buka Puasa Jadi Simbol Toleransi Nyata
Saat azan magrib berkumandang, seluruh hadirin menikmati hidangan berbuka bersama. Tidak ada sekat agama, tidak ada perbedaan yang terasa. Yang hadir hanyalah rasa syukur dan kebersamaan.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota, kegiatan sederhana ini menjadi pengingat bahwa toleransi tidak selalu lahir dari kata-kata besar. Nilai itu tumbuh dari hal sederhana—meja makan bersama, sepiring hidangan berbuka, dan kepedulian kepada sesama.
Di Samarinda, umat Buddha turut menghadirkan keberkahan Ramadan. Mereka menjadikan bulan suci ini bukan hanya milik satu umat, tetapi juga momentum kebersamaan bagi seluruh masyarakat.
(Redaksi)
